JAKARTA – Korban penyiraman cairan kimia berbahaya yang juga Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, saat ini kondisi medisnya tergolong stabil.
Demikian keterangan resmi yang disampaikan RSCM melalui Humas, drg. Sylvia Fatridha Situngkir, kepada Journalreportase.com, Selasa (12/5/2026).
“Andrie Yunus masih berada dalam pemantauan dan penanganan tim medis multidisiplin yang terdiri dari dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi, oftalmologi, psikiatri, serta tenaga kesehatan terkait lainnya guna memastikan proses pemulihan berjalan optimal dan berkesinambungan. Secara umum kondisi pasien dalam keadaan stabil dan menunjukkan perkembangan yang baik,” kata Sylvia.
Dijelaskannya bahwa Andrie memiliki riwayat luka bakar pada wajah, leher, dada, punggung, dan kedua lengan akibat trauma kimia asam yang terjadi pada 12 Maret 2026. Selama masa perawatan, pasien telah menjalani serangkaian tindakan medis dan operasi secara bertahap sesuai kebutuhan klinis.
“Tindakan operasi lanjutan terakhir dilakukan pada tanggal 7 Mei 2026 berupa pembersihan jaringan dan penutupan luka lanjutan dengan tindakan tandur/cangkok kulit. Pasca tindakan tersebut, pasien menjalani perawatan dan observasi di ruang rawat RSCM untuk pemantauan kondisi klinis dan evaluasi penyembuhan luka,” tandasnya.
Usai evaluasi terakhir tanggal 8 Mei 2026, kondisi Andrie dinyatakan stabil ditunjukkan dengan tidak mengalami demam, mual, maupun muntah, toleransi makan baik, serta dapat berjalan secara mandiri.
“Keluhan nyeri pasca operasi minimal dan masih dapat dikontrol dengan terapi yang diberikan tim medis,” bebernya.
Terkait kondisi mata kanan, saat ini masih dalam tahap penanganan lanjutan dengan tindakan penutupan kelopak mata sementara untuk mendukung proses penyembuhan dan mempertahankan struktur bola mata.
“Hasil pemeriksaan ultrasonografi (USG) menunjukkan kondisi bola mata masih utuh dan tidak ditemukan tanda pelepasan saraf mata maupun gangguan berat lainnya pada bagian belakang bola mata. Evaluasi berkala tetap dilakukan oleh tim dokter mata bersama tim bedah plastik rekonstruksi,” tuturnya.
Dari aspek psikologis, berdasarkan hasil evaluasi tim psikiatri dan psikologi, kondisi pasien saat ini dalam batas normal dan tidak ditemukan adanya gangguan psikologis yang bermakna.
“Pasien dinilai cukup mampu beradaptasi terhadap kondisi fisik maupun lingkungan sekitarnya serta kooperatif selama menjalani proses perawatan. Pendampingan psikologis tetap diberikan secara rutin guna mendukung proses pemulihan pasien secara menyeluruh,” pungkasnya.
