JAKARTA – Di berbagai daerah ramai terjadi pembubaran oleh oknum aparat terhadap kegiatan nonton bareng atau nobar film pesta babi yang kemudian memicu pertanyaan publik.
Insiden tersebut dimaknai sebagai bentuk pembungkaman atas wujud ekspresi dalam wadah intelektual khususnya pada lingkungan akademis.
“Pembubaran nobar dan diskusi Film Pesta Babi adalah bentuk pembungkaman ruang intelektual dan kebebasan berekspresi di lingkungan akademik,” kata Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Papua (IMAPA) Jadetabek, Akianus Wenda, dalam keterangannya kepada Journalreportase.com, Senin (18/5/2026).
Pihaknya menyatakan lingkup akademis sudah tentu beririsan dengan aktivitas dikskusi maupun dialog karena memang ranahnya.
“Kampus seharusnya menjadi ruang dialog dan berpikir kritis, bukan tempat yang anti terhadap diskusi,” tandasnya.
Diketahui, pembubaran nobar film pesta babi oleh oknum aparat TNI antara lain terjadi di Kota Ternate Maluku Utara serta pada Universitas Mataram, NTB.
Ketua AJI Ternate Yunita Kaunar mengecam tindakan aparat tersebut sebab nobar merupakan bagian dari kebebasan berekspresi serta hak warga untuk memperoleh informasi sebagaimana dijamin konstitusi.
“Ini bukan sekadar pembubaran nobar film, tapi bentuk nyata intimidasi terhadap ruang demokrasi dan kebebasan berekspresi warga. Aparat tidak seharusnya menjadi pihak yang menentukan karya apa yang boleh atau tidak boleh ditonton masyarakat,” beber Yunita.
