Journal Reportase
Opini

Menegakkan Hablum Minal ‘Alam di Tengah Krisis Ekologis Indonesia

Oleh: Alif Hadi Pratama (Ketua Rayon PMII Teknik UNUSIA Jakarta Pusat)

Krisis ekologis yang melanda Indonesia bukan sekadar persoalan teknis, melainkan ujian moral, spiritual, dan keadilan sosial. Dalam kerangka Nilai Dasar Pergerakan (NDP) PMII, hablum minal ‘alam menegaskan bahwa manusia berdiri dalam relasi yang setara dan bertanggung jawab terhadap alam; bumi bukan objek eksploitasi semata, melainkan amanah yang harus dijaga sebagai bagian dari pengabdian kepada Allah dan kemanusiaan.

Sebagai kader PMII dari Rayon Teknik UNUSIA Jakarta Pusat, saya memandang kebakaran hutan dan lahan, banjir, serta polusi udara sebagai manifestasi dari terputusnya relasi ekologis tersebut. Kita telah terlalu lama memperlakukan alam sebagai sumber keuntungan instan, padahal NDP PMII menempatkan keseimbangan ekologis dan pelestarian lingkungan sebagai kewajiban moral bagi setiap insan pergerakan.

Kebakaran: Luka Ekologis dan Ketidakadilan
Kebakaran hutan dan lahan di Jambi, Kalimantan, Sumatera, serta berbagai kawasan lain bukan hanya menimbulkan kerugian ekonomi, tetapi juga melukai kehidupan masyarakat adat, petani, nelayan, anak-anak, dan kelompok paling rentan. Asap yang menjalar melintasi wilayah administratif menunjukkan bahwa krisis lingkungan tidak mengenal batas provinsi; ia adalah persoalan nasional yang menuntut solidaritas lintas daerah.

Dari perspektif hablum minal ‘alam, pembakaran lahan demi ekspansi perkebunan, tambang, atau spekulasi ekonomi merupakan bentuk ketidakadilan ekologis. Alam telah diperlakukan sebagai komoditas, sementara masyarakat menanggung dampaknya dalam bentuk gangguan pernapasan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan terganggunya mata pencaharian. Sikap eksploitatif semacam ini bertentangan dengan prinsip bahwa bumi dan seisinya adalah titipan Allah yang harus dikelola secara bertanggung jawab.

Banjir: Kegagalan Tata Ruang dan Kesadaran Ekologis
Banjir di Jakarta, Jawa, Kalimantan, dan kawasan perkotaan lainnya mencerminkan kegagalan tata kelola ruang serta melemahnya kesadaran ekologis kolektif. Alih fungsi lahan resapan, penyempitan badan sungai, pembuangan sampah sembarangan, dan pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan telah mengubah air dari sumber kehidupan menjadi ancaman bagi jiwa dan penghidupan warga.

Bagi PMII, banjir bukan hanya persoalan drainase, tetapi persoalan keadilan. Ketika warga miskin tinggal di kawasan rawan bencana, sementara kepentingan pembangunan dan investasi sering kali lebih diutamakan, maka persoalan lingkungan telah berubah menjadi persoalan ketimpangan sosial. Hablum minal ‘alam menuntut kader untuk memperjuangkan tata ruang yang adil, konservasi daerah resapan, pengelolaan sampah berkelanjutan, dan partisipasi masyarakat dalam perencanaan kota.

Polusi Udara: Krisis yang Tak Terlihat, Dampaknya Sangat Nyata
Polusi udara di Jakarta dan kota-kota besar lainnya merupakan bentuk krisis ekologis yang sering kali tidak terlihat, tetapi dampaknya sangat nyata bagi kesehatan publik. Emisi kendaraan, industri, pembakaran sampah, dan asap kebakaran lahan menciptakan kondisi udara yang membahayakan terutama bagi anak-anak, lansia, pekerja lapangan, dan masyarakat berpenghasilan rendah.

Dalam kerangka NDP, menjaga udara bersih adalah bagian dari menjaga martabat manusia. Tidak mungkin kita berbicara tentang kesejahteraan ketika hak atas lingkungan hidup yang sehat terus dikhianati oleh praktik ekonomi yang tidak berkelanjutan. Hablum minal ‘alam menuntut keberanian untuk mengkritik kebijakan yang mengorbankan kualitas udara demi pertumbuhan ekonomi jangka pendek.

Mandat Kader PMII
Kader PMII tidak cukup berhenti pada retorika lingkungan. Nilai hablum minal ‘alam harus diterjemahkan menjadi aksi konkrit: edukasi masyarakat, gerakan penghijauan, pengelolaan sampah, advokasi tata ruang, pengawasan kebijakan lingkungan, serta penguatan kesadaran kritis di kalangan mahasiswa dan masyarakat. Implementasi nilai ini mencakup konservasi alam, perlindungan ekosistem, keberlanjutan sumber daya alam, dan penguatan kesadaran publik terhadap krisis lingkungan.

Sebagai organisasi mahasiswa yang berakar pada nilai Ahlussunnah wal Jama’ah, PMII harus hadir sebagai kekuatan moral dalam mengoreksi arah pembangunan Indonesia. Pembangunan yang benar bukanlah pembangunan yang merusak hutan, mencemari udara, dan menggenangi permukiman rakyat; melainkan pembangunan yang menjamin keberlanjutan hidup generasi masa kini dan mendatang.

Menjaga Bumi, Menjaga Manusia
Pada akhirnya, hablum minal ‘alam adalah pengingat bahwa kemanusiaan tidak dapat berdiri terpisah dari alam. Ketika hutan terbakar di Jambi dan Kalimantan, ketika banjir menggenangi permukiman, dan ketika udara di kota-kota besar menjadi beracun, maka yang sedang terancam bukan hanya lingkungan, tetapi juga masa depan bangsa Indonesia.

PMII Rayon Teknik UNUSIA Jakarta Pusat menegaskan komitmennya untuk menjadikan kesadaran ekologis sebagai bagian integral dari pergerakan mahasiswa. Mari kita kembalikan alam pada kedudukannya sebagai amanah, bukan komoditas; mari kita jadikan hablum minal ‘alam sebagai etika perjuangan, bukan sekadar jargon. Karena menjaga bumi hari ini berarti menjaga kehidupan, keadilan, dan masa depan Indonesia.

Related posts

Pentingnya Merawat Pancasila Sebagai Bekal Menghadapi Tantangan Zaman

redaksi JournalReportase

Pendidikan untuk Semua, Bukan Sekadar Gelar untuk Elit

redaksi JournalReportase

Kewajiban Moral Lindungi Rakyat dari Manipulasi Harga dan Mutu Beras

redaksi JournalReportase

Leave a Comment

KLIK BAHASA BERITA»