JAKARTA- JOURNALREPORTASE – Ketua Pemantau Kinerja Aparatur untuk Keadilan Rakyat (PAKAR), Ikhwan Andi Aziz, menyoroti efektivitas fungsi Intelijen dan Keamanan (Intelkam) Polda Metro Jaya menyusul tewasnya Bambang Setiawan (59), seorang penjual cermin, di kawasan Pejompongan usai aksi demonstrasi pada 27 Agustus 2026 lalu.
Ikhwan mempertanyakan gagalnya deteksi dini aparat terhadap kemunculan kelompok massa berskala besar yang diduga dimobilisasi hingga memicu kericuhan.
Ia menilai jajaran Intelkam semestinya mampu mengantisipasi potensi Gangguan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Guantibmas) tersebut, terlebih di bawah kepemimpinan Wakapolda Metro Jaya Irjen Pol Dekananto yang berpengalaman di bidang intelijen.
Ikhwan juga mengkritik keras program “Jaga Jakarta” gagasan Kapolda Metro Jaya yang melibatkan organisasi masyarakat (ormas) dan pengemudi ojek daring dalam menjaga keamanan.
“Program Jaga Jakarta yang digagas Pak Kapolda dengan melibatkan sejumlah organisasi masyarakat, termasuk ormas tertentu, justru berbuah petaka,” ujar Ikhwan dalam siaran pers tertulis, Sabtu (5/9/2026).
Menurut PAKAR, kondisi ini menciptakan dilema bagi kepolisian antara penegakan hukum dan fungsi pencegahan. Pelibatan kelompok sipil dinilai tidak boleh menggeser tanggung jawab utama negara dalam menjaga keamanan publik.
Lebih lanjut, PAKAR mendesak Polda Metro Jaya melakukan usut tuntas secara transparan dan profesional tanpa pandang bulu, mulai dari pelaku lapangan hingga aktor pemobilisasi massa. Kepolisian diminta tidak ragu menindak tegas pihak manapun yang terbukti terlibat, sekalipun berasal dari ormas mitra.
PAKAR turut mendesak evaluasi menyeluruh terhadap program “Jaga Jakarta” agar tidak memicu ketegangan baru di tengah masyarakat dan memastikan hukum tetap ditegakkan secara adil berbasis alat bukti.
