JAKARTA- JOURNALREPORTASE – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet), mengapresiasi keberhasilan mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK UPH), Tiffney Tyara Setyoko, yang meraih Juara 1 Program Sarjana Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Tingkat Nasional 2026.
Menurut Bamsoet, prestasi tersebut menunjukkan semakin meratanya kualitas mahasiswa berprestasi di Indonesia. Keberhasilan Tiffney juga menjadi bukti bahwa perguruan tinggi swasta memiliki kapasitas dalam melahirkan talenta akademik, peneliti muda, dan inovator yang mampu bersaing di tingkat nasional.
“Prestasi Tiffney Tyara Setyoko patut kita apresiasi setinggi-tingginya. Ia telah menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia, termasuk dari perguruan tinggi swasta, memiliki kapasitas akademik, daya pikir kritis, kemampuan riset, kreativitas, serta keberanian berinovasi yang mampu bersaing di tingkat nasional,” ujar Bamsoet di Jakarta, Senin (10/8/2026).
Ia menegaskan, kualitas sumber daya manusia tidak semestinya diukur berdasarkan asal perguruan tinggi, tetapi dari karya, kompetensi, integritas, dan dampak yang diberikan kepada masyarakat.
Tiffney merupakan mahasiswi Program Studi Pendidikan Dokter UPH angkatan 2023. Sebelum tampil di tingkat nasional, ia berhasil meraih Juara 1 Pilmapres Tingkat Wilayah LLDIKTI III pada 29–30 April 2026.
Prestasi tersebut mengantarkan Tiffney mewakili UPH dan LLDIKTI Wilayah III dalam kompetisi Pilmapres tingkat nasional. Dari ratusan mahasiswa yang mengikuti seleksi di 17 wilayah LLDIKTI, sebanyak 60 mahasiswa kemudian melaju ke tingkat nasional sebelum akhirnya tersaring menjadi 19 finalis.
“Yang membuat prestasi ini semakin penting adalah proses panjang yang dilalui Tiffney. Dari ratusan mahasiswa yang mengikuti seleksi di 17 wilayah LLDIKTI, sebanyak 60 mahasiswa kemudian melaju ke tingkat nasional dan akhirnya tersaring menjadi 19 finalis,” kata Bamsoet.
Menurutnya, menjadi juara dalam kompetisi tersebut membutuhkan kombinasi prestasi akademik, kemampuan berpikir kritis, gagasan yang relevan, komunikasi, kepemimpinan, serta kesiapan menghadapi persoalan nyata.
Usung Inovasi Smart Febrile Patch
Dalam Pilmapres Nasional 2026, Tiffney mengusung gagasan Smart Febrile Patch, yakni wearable sensor non-invasif berbasis keringat yang dirancang untuk membantu skrining dini tingkat keparahan penyakit infeksi yang ditandai dengan demam.
Gagasan tersebut berangkat dari persoalan yang dekat dengan masyarakat. Demam merupakan salah satu gejala awal berbagai penyakit infeksi, namun masyarakat sering kali kesulitan menentukan kapan kondisi tersebut masih dapat dipantau secara mandiri dan kapan membutuhkan pemeriksaan medis lebih lanjut.
“Smart Febrile Patch memperlihatkan bagaimana persoalan sehari-hari dapat menjadi pintu masuk sebuah inovasi. Teknologi kesehatan semestinya diarahkan untuk membuat masyarakat lebih cepat mengenali kondisi tubuhnya dan mengambil keputusan yang tepat,” jelas Bamsoet.
Ia menilai, apabila dikembangkan melalui penelitian dan uji klinis yang memadai, inovasi tersebut berpotensi membantu proses skrining awal sekaligus memberikan informasi tambahan bagi tenaga kesehatan sebelum menentukan pemeriksaan maupun penanganan berikutnya.
Bamsoet juga menilai gagasan tersebut relevan dengan tantangan global terkait resistensi antimikroba, khususnya penggunaan antibiotik yang tidak tepat.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa pada 2023 sekitar satu dari enam infeksi bakteri yang telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium secara global menunjukkan resistensi terhadap antibiotik.
Pada periode 2018–2023, resistensi meningkat pada lebih dari 40 persen kombinasi patogen-antibiotik yang dipantau, dengan rata-rata peningkatan tahunan sekitar 5–15 persen.
“Ketika diagnosis terlambat atau informasi awal mengenai kondisi pasien terbatas, ada risiko masyarakat melakukan pengobatan sendiri atau menggunakan antibiotik secara tidak tepat. Karena itu, inovasi diagnostik dan skrining dini harus menjadi bagian dari strategi kesehatan nasional,” ujar Bamsoet.
Ia menambahkan, WHO juga menempatkan pengembangan tes cepat di titik layanan untuk membedakan infeksi bakteri dan virus sebagai salah satu prioritas dalam menghadapi resistensi antimikroba.
Perkuat Ekosistem Riset Kesehatan
Indonesia, lanjut Bamsoet, juga mulai memperkuat sistem pengawasan resistensi antimikroba.
Kementerian Kesehatan RI bersama WHO meluncurkan survei nasional pertama mengenai resistensi antimikroba pada infeksi aliran darah pada akhir 2024 hingga awal 2025.
Survei tersebut mencakup 80 rumah sakit dan 30 laboratorium di 25 kabupaten/kota pada 16 provinsi dengan sasaran sekitar 10.000 pasien.
WHO juga mencatat Indonesia memiliki lebih dari 3.000 rumah sakit akut sehingga penguatan sistem surveilans dan kualitas data menjadi kebutuhan penting.
Bamsoet berharap keberhasilan Tiffney dapat menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem riset kesehatan di Indonesia. Menurutnya, mahasiswa perlu mendapatkan ruang untuk mengembangkan ide sejak bangku kuliah.
“Prestasi Tiffney harus menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem riset kesehatan di Indonesia. Mahasiswa perlu diberi ruang untuk mengembangkan ide sejak di bangku kuliah,” pungkas Bamsoet.
Ia mendorong perguruan tinggi, pemerintah, rumah sakit, industri, dan lembaga penelitian membangun kolaborasi agar gagasan mahasiswa tidak berhenti di ruang kompetisi, tetapi dapat dikembangkan melalui laboratorium, uji lapangan, dan uji klinis.
Dengan demikian, inovasi yang terbukti aman dan efektif dapat diimplementasikan secara lebih luas untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
