JAKARTA- JOURNALREPORTASE -Setelah resmi menjabat Kapolda Metro Jaya pada Agustus 2025, Irjen Pol. Asep Edi Suheri langsung dihadapkan pada dinamika ibu kota yang kompleks.
Gelombang demonstrasi mahasiswa, konflik sosial, tawuran antarwarga, hingga meningkatnya keresahan akibat kejahatan jalanan menjadi ujian awal kepemimpinannya di wilayah hukum Polda Metro Jaya.
Dalam sejumlah momentum aksi massa yang berlangsung di Jakarta sepanjang akhir 2025 hingga awal 2026, situasi keamanan sempat memanas. Bahkan, beberapa insiden di lapangan turut menimbulkan korban dari kalangan masyarakat sipil, termasuk pengemudi ojek online yang terdampak kericuhan aksi.
Namun perlahan, pendekatan “Jaga Jakarta” yang diusung Asep Edi Suheri mulai menunjukkan hasil. Melalui pola komunikasi yang lebih humanis dan pendekatan persuasif kepada tokoh masyarakat, tokoh agama, mahasiswa, organisasi kemasyarakatan, hingga komunitas akar rumput, kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat di Jakarta berangsur lebih kondusif.
Perkembangan terbaru pada Mei 2026 menandai babak baru dalam kariernya. Pada 13 Mei 2026, Asep Edi Suheri resmi naik pangkat menjadi Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol) atau jenderal bintang tiga. Dengan kenaikan pangkat tersebut, Polda Metro Jaya kini dipimpin oleh pejabat berpangkat Komjen.
Sebagai Kapolda Metro Jaya, tantangan yang kini dihadapi Komjen Pol Asep Edi Suheri dinilai semakin besar. Ia harus menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat di Jakarta di tengah tingginya dinamika sosial, politik, dan ekonomi sebagai kota megapolitan sekaligus pusat pemerintahan nasional.
Berbagai persoalan perkotaan seperti tawuran remaja, geng motor, kriminalitas jalanan, hingga keresahan sosial menjadi fokus utama penanganan. Selain itu, pengamanan aksi unjuk rasa agar tetap berlangsung aman dan humanis tanpa bentrokan maupun penggunaan kekuatan berlebihan juga menjadi perhatian penting.
Tak hanya itu, Polda Metro Jaya di bawah kepemimpinannya juga menghadapi tantangan dalam penanganan kasus-kasus sensitif yang menjadi sorotan publik, mulai dari kasus penyiraman air keras, dugaan pelanggaran etik, hingga kejahatan siber dan manipulasi digital yang terus berkembang.
Di bidang pemberantasan narkotika, Asep Edi Suheri dikenal memiliki pengalaman panjang. Ia pernah memimpin Satgas Penanggulangan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P3N) Bareskrim Polri dan berhasil mengungkap berbagai jaringan narkotika internasional dengan barang bukti dalam jumlah besar.
Selain penegakan hukum, pendekatan sosial juga menjadi bagian dari strategi “Jaga Jakarta”.
Program bantuan sosial, dialog langsung dengan masyarakat kecil, serta penguatan sinergi bersama TNI, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan terus digencarkan guna meningkatkan kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.
Lahir pada 16 November 1972, Asep Edi Suheri merupakan lulusan Akademi Kepolisian tahun 1994 yang dikenal memiliki latar belakang kuat di bidang reserse.
Sebelum menjabat Kapolda Metro Jaya, ia pernah menduduki sejumlah posisi strategis, antara lain Wakabareskrim Polri, Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kepala Satgas TPPO, hingga Kapolres di sejumlah wilayah di Jawa Barat seperti Sukabumi dan Cirebon Kota.
Nama Asep Edi Suheri juga dikenal dalam penanganan berbagai kasus besar di tingkat nasional, termasuk keterlibatannya dalam penanganan perkara Ferdy Sambo dan pengungkapan sejumlah kasus kejahatan siber.
Sebagai putra purnawirawan TNI AD Letkol Infanteri A Sukmana, karier Asep Edi Suheri dinilai tumbuh melalui jalur reserse yang kuat dan pengalaman lapangan yang panjang.
Kini, di tengah tantangan Jakarta yang semakin dinamis, kepemimpinannya diharapkan mampu menjaga ibu kota tetap aman, stabil, dan terkendali (red/ay)
