by

ANALISA PERUMUSAN KEBIJAKAN DI BALIK PROYEK BOEING B787

Oleh : Seala Syah Alam

Bahwa sejak diciptakannya Pesawat Terbang oleh Wright Bersaudara pada tahun 1903, hingga kini, kebutuhan manusia akan angkutan udara sebagai sarana transportasi utama semakin bertambah dari tahun ke tahun. Peningkatan kebutuhan manusia akan transportasi udara yang cepat dan aman merupakan dampak dari meningkatnya upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya melalui suatu sarana transportasi yang semakin cepat, murah dan efisien melalui angkutan udara.

Dimana angkuran udara jauh lebih efisien daripada menggunakan angkutan laut, terutama dalam memenuhi kebutuhan transportasi lintas negara. Setelah masa perang selesai, karena terbatasnya kapasitas pesawat udara saat itu, angkutan udara di lingkungan sipil hanya digunakan untuk kegiatan pos udara di dalam suatu negara saja.

Berkembangnya teknologi pembuatan pesawat udara memungkinkan terciptanya angkutan udara yang memiliki kapasitas lebih besar, dan juga jarak terbang yang lebih jauh hingga melintasi batas-batas negara. Bersamaan dengan itu, timbulah kebutuhan akan Angkutan udara internasional yang bertujuan untuk, “Menciptakan persaudaraan dan mempererat persahabatan yang penuh pengertian antar bangsa, memperpendek jarak sehingga mempermudah saling berkunjung antar bangsa yang dapat memelihara perdamaian dunia serta meningkatkan kesejahteraan umat manusia”.Dari pemikiran inilah kemudian Angkutan Udara menjadi sarana transportasi alternatif diluar sarana transportasi laut yang pada saat itu menjadi sarana transportasi utama di dunia.

Industri penerbangan memasuki masa kebangkitan pada saat era setelah perang Dunia II. Di masa tersebut antara 1950an sampai dengan 1980an industri penerbangan sedang memasuki kebangkitan teknologi sebagai dampak dari lompatan teknologi pesawat udara yang terpicu karena kehadiran Perang Dunia II. Dengan semakin meningkatnya kapasitas dan jarang jangkau pesawat udara, maka secara perlahan pesawat udara telah menggeser kapal laut dari posisinya sebagai sarana utama transportasi antar negara.

Di masa kebangkitan pesawat udara sipil ini muncullah perusahaan-perusahaan produsen pesawat udara sipil yang terkemuka di dunia yang meramaikan pasar persaingan produsen pesawat udara di dunia. Dari Foker yang berada di belanda, Airbus di Perancis, Mcdonald Douglas dan Boeing dari Amerika Serikat, untuk pesawat-pesawat berbadan Besar dan Pesawat Very Large Aircraft (pesawat dengan kapasitas diatas 400 penumpang selanjutnya disebut dengan “VLA”). Untuk pesawat berbadan kecil ada perusahaan Gulfstream dan Cesnna dari Amerika Serikat dan diikuti oleh Embraer dari Brazil. Dari sekian banyaknya produsen pesawat udaras sipil tersebut, pada masa kini hanya dua perusahaan saja yang mendominasi pasar Pesawat udara beradan lebar dan sedang.

Perusahaan tersebut adalah Boeing dari Amerika Serikat dan Airbus dari Perancis dengan dukungan negara-negara eropa lainnya. Persaingan Boeing dengan Airbus telah menjadi topik-topik utama dalam pembahasan rivalitas industri penerbangan sipil dalam 1 dekade terakhir. Keduanya merupakan perusahaan produsen pesawat terbang yang tersisa dari masa keemasan industri penerbangan yang sanggup bertahan dari jatuh bangunnya industri penerbangan sipil di dunia. Boeing telah menjadi garda terdepan dari industri penerbangan sipil selama lebih dari 40 tahun melalui lini produksi pesawat udaranya. Sedangkan Airbus sendiri didirikan pada tahun 1970 sebagai konsorsium dari perusahaan produsen pesawat udara Jerman (DASA), Perancis (Matra), Inggris (BAE System) dan Spanyol (CASA). Dimana memiliki kantor pusat yang terletak di Perancis.

Kedua perusahaan ini akhirnya ditakdirkan untuk selamat dalam kerasnya persaingan industri penerbangan dan keduanya telah mendominasi industri pesawat udara sipil di dunia, hampir seluruh dunia menggunakan Produk Boeing dan Airbus.

Walaupun perbedaan di pasar industri penerbangan antara Boeing dan Airbus hanya beda tipis, tetapi Airbus merasa tidak memiliki satu pesawat udara yang mampu bersaing di pasar Pesawat udara VLA untuk meningkatkan pendapatan dari Airbus. Gap yang muncul ini coba dipatahkan oleh Airbus dengan mengenalkan lini produksi terbarunya kepada Dunia, yaitu Pesawat Udara VLA A380 yang memiliki kapasitas 555 penumpang sekali penerbangan. Keputusan yang diambil Airbus tersebut merupakan upaya Airbus dalam menggeser monopoli pesawat udara VlA milik Boeing yaitu B747 series.

Telah lama Airbus menyadari bahwa alasan utama Boeing masih mampu berada di atas airbus adalah dengan mengandalkan pesawat udara VLA-nya B747 series. Dengan menciptakan pesawat VLA yang lebih baik dan efisien teknologinya, Airbus berusaha menggeser Boeing dari tampuk kepemimpinan industri penerbangan sipil dunia. A380 merupakan senjata utama Airbus untuk mengalahkan pesaing utamanya tersebut.

Di luar dugaan, munculnya A380 tidak membuat Boeing mencoba meluncurkan pesawat VLA terbarunya hasil pengembangan dari B747 yaitu B747-8. Bahkan program B747-8 tersebut akhirnya dihentikan oleh Boeing, dan fokus pengembangan pesawat udara sipilnya difokuskan kepada pengembangan B787 Dreamliner, yang merupakan Pesawat udara berbadan besar dengan kapasitas penumpang antara 210 sampai dengan 250 penumpang. Namun Boeing menekankan pada efisiensi bahan bakar dan jarak jangkau dari Pesawat udara tersebut dibandingkan dengan kapasitasnya. Menurut Boeing di era perekonomian yang lesu saat ini, akan sangat lebih menguntungkan dan lebih mudah untuk mengoperasikan pesawat berbadan besar daripada mengoperasikan pesawat VLA yang memiliki dimensi dan beban operasi yang besar.

Menganalisa keputusan strategis yang diambil oleh Boeing dalam mengembangkan Pesawat berbadan besar Boeing B787 Dreamliner yang jauh lebih kecil kapasitasnya daripada Pesawat VLA Airbus A380, yang berujung pada keberhasilan Boeing B787 (393 Pesanan) meraih jumlah pesanan lebih banyak dari Airbus A380 (178 Pesanan) disertai dengan kegagalan Airbus yang terlambat dalam memenuhi pesanan Airbus A380. Pertarungan Pesawat udara kali ini ibarat kata membandingkan antara David dengan Goliath. Bagaimanakah Boeing B787 dapat mengalahkan Airbus A380 yang saat ini merupakan pesawat Penumpang terbesar didunia.

Menganalisa tentang Kebijakan yang dilaksanakan oleh Boeing dan Airbus dalam mengambil Keputusan Strategis untuk meluncurkan Produk terbarunya Boeing B787 dan Airbus A380, penulis berpegang pada Teori Exploring the External Environtment: competition and Opportunities milik R. Duane Ireland, Robert E. Hoskisson & Michael A. Hitt yang terdapat dalam buku mereka yang berjudul The Management of Strategy Concepts and Cases.

Dalam menjalankan perusahaan, lingkungan eksternal mempengaruhi pertumbuhan dan pendapatan dari suatu perusahaan. Selain dari dalam industri itu sendiri, lingkungan eksternal memiliki peran kritikal dalam kesuksesan dan eksistensi dari perusahaan itu sendiri. Kondisi lingkungan eksternal saat ini sudah jauh berbeda dengan pada masa lalu, kemajuan teknologi dan akses yang seluas-luasnya terhadap informasi membutuhkan suatu tindakan dan respon perusahaan yang semakin cepat dan akurat.

Bahwa beberapa dekade terkakhir dunia bisnis penuh dengan kejutan dan ketidakpastian. Untuk dapat bertahan dalam kondisi seperti ini dibutuhkan pimpinan perusahaan yang memiliki pemikiran terbuka dan inovatif terhadap setiap kejutan atau perubahan yang terjadi. Namun untuk dapat mendeteksi suatu peluang perlu didapatkan inforasi perubahan yang terjadi terlebih dahulu. Masalah utama dari deteksi ini adalah informasi yang tersedia tidak akan jelas-jelas menunjukkan hal tersebut. Perusahaan harus dapat mengkaitkan suatu informasi dengan informasi yang lainnya untuk dapat mendeteksi datangnya perubahan yang bisa dijadikan peluang bagi perusahaan untuk memimpin. Keterpakuan perusahaan terhadap kompetitor dapat menyebabkan perusahaan kehilangan kesempatan untuk mendeteksi peluang tersebut dan malah terjebak dengan informasi di seputaran kompetitor. Hal ini juga dapat terjadi pada perusahaan yang suka berinovasi. Perusahaan tidak boleh berhenti mengeluarkan inovasi yang unik yang membuat produknya memiliki nilai lebih dibandingkan dengan produk-produk yang ada di pasaran.

Keterpakuan perusahaan tersebut kepada kompetitornya yang terus berusaha mengejar akan menghilangkan kemampuan perusahaan tersebut dalam menciptakan inovasi. Kegagalan Airbus dalam mengalahkan jumlah pesanan Pesawat Boeing B787 dan terlambat dalam menyerahkan Airbus A380 sebagai akibat dari hambatan teknis dalam pesawat A380, mungkin diakibatkan oleh arah perumusan kebijakan Airbus yang terlalu terpaku pada Boeing dan akhirnya mengabaikan data-data yang terdapat di lingkungan eksternalnya.

Untuk dapat menguji hipotesa tersebut penulis akan melakukan analisa terhadap Proyek Boeing B787 dan Airbus A380, untuk melihat sejauh mana masing-masing perusahaan telah melakukan perumusan kebijakan yang ideal dan dimana letak kesalahan Airbus saat merumuskan suatu kebijakan pengembangan pesawat udara terbaru di dalam Industri Penerbangan Sipil.
Pada awalnya Boeing bekerjasama dengan Airbus dalam mengembangkan Pesawat VLA yang lebih besar dari B747-400 yang dimiliki oleh Boeing selama ini. Proyek kerjasama ini didasari pada penemuan Boeing dan Airbus pada awal tahun 1990-an dimana pada saat itu keduanya sepakat bahwa terdapat pertumbuhan peningkatan kebutuhan masyarakat dunia terhadap rute-rute penerbangan antar benua sebagai akibat dari globalisasi kegiatan bisnis yang memaksa masyarakat dunia untuk mendatangi kota-kota pusat penerbangan seperti New York, Los Angeles, London dan Tokyo sebelum melanjutkan penerbangan ke kota yang dituju di benua tersebut untuk dapat melakukan ekspansi bisnisnya. Dari proyeksi pertumbuhan kebutuhan ini baik Boeing maupun Airbus sepakat bahwa untuk dapat menangkap peluang tersebut diperlukan suatu pesawat VLA baru dengan kapasitas lebih besar yang sanggup menampung 500 sampai 1000 Penumpang dan memiliki jarak jangkau jauh dengan efisiensi tinggi sehingga bisa menjelajah antar benua dengan lebih cepat dari Pesawat VLA yang ada (B747 Series).
Namun pada tahun 1995 kerjasama antara Boeing dan Airbus berhenti. Kedua perusahaan memiliki pandangan yang berbeda mengenai kondisi pasar penerbangan di masa depan. Boeing menemukan bahwa di masa depan akan maskapai penerbangan akan lebih memilih menggunakan pesawat-pesawat yang lebih kecil dari VLA dengan kapasitas 250 – 300 yang memiliki jarak jauh untuk terbang langsung ke kota-kota yang dituju tanpa melewati kota pusat penerbangan di benua tersebut sehingga jauh lebih menghemat biaya penerbangan yang harus dikeluarkan oleh Penumpang. Hal ini berbeda dengan pandangan Airbus, dimana Airbus melihat bahwa pemanfaatan rute penerbangan melalui kota-kota pusat penerbangan akan terus berkembang kedepannya.

Dari titik inilah keduanya mengambil arah yang berbeda dalam pengembangan pesawat terbarunya. Dalam mengambil arah kebijakannya terlihat Boeing lebih menitikberatkan pada kebutuhan masyarakat dunia yang terus menuntut moda transportasi udara yang cepat dan efisien dan sanggup menekan biaya transportasi mereka.

Pada awalnya Airbus bekerjasama dengan Boeing dalam mengembangkan Pesawat VLA yang lebih besar dari B747-400 yang dimiliki oleh Boeing selama ini. Proyek kerjasama ini didasari pada penemuan Boeing dan Airbus pada awal tahun 1990-an dimana pada saat itu keduanya sepakat bahwa terdapat pertumbuhan peningkatan kebutuhan masyarakat dunia terhadap rute-rute penerbangan antar benua sebagai akibat dari globalisasi kegiatan bisnis yang memaksa masyarakat dunia untuk mendatangi kota-kota pusat penerbangan seperti New York, Los Angeles, London dan Tokyo sebelum melanjutkan penerbangan ke kota yang dituju di benua tersebut untuk dapat melakukan ekspansi bisnisnya. Dari proyeksi pertumbuhan kebutuhan ini baik Boeing maupun Airbus sepakat bahwa untuk dapat menangkap peluang tersebut diperlukan suatu pesawat VLA baru dengan kapasitas lebih besar yang sanggup menampung 500 sampai 1000 Penumpang dan memiliki jarak jangkau jauh dengan efisiensi tinggi sehingga bisa menjelajah antar benua dengan lebih cepat dari Pesawat VLA yang ada (B747 Series).
Namun pada tahun 1995 kerjasama antara Boeing dan Airbus berhenti. Kedua perusahaan memiliki pandangan yang berbeda mengenai kondisi pasar penerbangan di masa depan. Airbus melihat bahwa pemanfaatan rute penerbangan melalui kota-kota pusat penerbangan akan terus berkembang kedepannya, sehingga membutuhkan suatu pesawat udara VLA yang memiliki kapasitas Besar antara 500 sampai 800 penumpang untuk memenuhi kebutuhan ini. Hal ini berbeda dengan pandangan Boeing, dimana Boeing menemukan bahwa di masa depan akan maskapai penerbangan akan lebih memilih menggunakan pesawat-pesawat yang lebih kecil dari VLA yang memiliki jarak jauh untuk terbang langsung ke kota-kota yang dituju tanpa melewati kota pusat penerbangan di benua tersebut.

Dari data lingkungan General, Industri dan Kompetitor inilah Airbus akhirnya memutuskan untuk membuat Pesawat Udara VLA dengan Kapasitas lebih dari 400 Penumpang lebih dengan efisiensi bahan bakar lebih irit daripada pesawat sekelasnya, sebagai jawaban Airbus atas Pesawat Udara VLA kompetitornya Boeing B747 series yang selama ini memonopoli langit dunia tanpa adanya pesaing dikelasnya. Airbus merasa satu-satunya cara untuk dapat menjatuhkan pesaingnya adalah dengan mematahkan monopoli Boeing di Pesawat Udara kelas VLA.

Bahwa pemahaman melakukan Perumusan Kebijakan yang baik sangat menentukan nasib dari perusahaan. Keberhasilan Boeing dan kegagalan Airbus memberikan contoh yang baik kepada pembaca mengenai jurang perbedaan yang besar dari satu perusahaan yang lebih memikirkan lingkungan bisnis dimana dia berada dengen satu perusahaan lainnya yang lebih terpaku pada kompetitornya sehingga melupakan dasar-dasar terpenting dari merumuskan kebijakan itu sendiri. Walaupun hingga saat ini masih terdapat perdebatan mengenai persaingan Boeing B787 dengan Airbus A380, penulis berpendapat bahwa hingga hari diterbitkannya tulisan ini Boeing B787 berhasil mengungguli pesaingnya Airbus A380 melalui jumlah pesanan B787 yang terus meningkat jauh. Boeing telah berhasil menemukan celah didalam kondisi pasar yang rumit sebagaimana menjadi hasil utama dari dilaksanakannya perumusan kebijakan yang ideal secara konsisten itu sendiri. Hal ini berbeda dengan Airbus yang tidak konsisten pada saat merumuskan kebijakannya sehingga terlalu terpaku dengan Kompetitor yang mengakibatkan Airbus telah gagal menemukan celah dalam pasar tersebut.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed