Journal Reportase
News

BEM PTNU: Muktamar NU Usai, Jangan Rawat Dendam dan Kubu-kubuan

JAKARTA — Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, Jombang, telah berakhir. Kompetisi kepemimpinan selesai, keputusan organisasi telah diambil. Presidium Nasional BEM PTNU Se-Nusantara meminta seluruh warga Nahdliyin menghentikan pertarungan dan menerima hasil Muktamar dengan sikap dewasa.

Presidium Nasional BEM PTNU Se-Nusantara, Achmad Baha’ur Rifqi, mengatakan Muktamar merupakan mekanisme organisasi untuk menentukan kepemimpinan dan arah perjuangan Nahdlatul Ulama. Karena itu, perbedaan pilihan tidak semestinya berubah menjadi permusuhan setelah forum berakhir.

“Jangan karena kalah pilihan kemudian merasa NU telah salah arah. Jangan pula karena menang kemudian merasa paling berhak menentukan siapa yang paling NU. NU jauh lebih besar daripada kepentingan kontestasi sesaat,” kata Achmad kepada Journalreportase.com, Jumat (4/9/2026).

Menurut dia, pertarungan yang dipindahkan ke media sosial, ruang publik, hingga percakapan antar-Nahdliyin hanya akan menguras energi organisasi. NU, kata dia, justru membutuhkan konsolidasi untuk menghadapi persoalan umat yang lebih besar.

BEM PTNU juga mengingatkan agar kritik terhadap kepemimpinan NU tetap dilakukan. Namun kritik harus menjadi instrumen perbaikan, bukan sarana melampiaskan kekecewaan politik. Perbedaan pandangan, kata Achmad, merupakan bagian dari dinamika organisasi.

Ia menilai penghinaan, tuduhan, dan narasi permusuhan terhadap sesama Nahdliyin justru bertentangan dengan tradisi NU yang menjunjung keilmuan, pesantren, tawadhu, tabayun, dan adab.

“Jangan mengaku sedang membela NU jika cara yang digunakan justru merusak persaudaraan sesama Nahdliyin,” ujarnya.

BEM PTNU meminta generasi muda NU tidak terjebak dalam fanatisme personal dan politik kubu. Kader muda, kata Achmad, seharusnya dibiasakan menilai gagasan dan manfaatnya bagi umat, bukan sekadar menentukan siapa kawan dan siapa lawan.

“Jangan wariskan kepada kader muda NU budaya ‘siapa kawan dan siapa lawan’. Wariskan tradisi ‘apa gagasannya dan apa manfaatnya bagi umat’,” ucap dia.

Menurut BEM PTNU, energi pasca-Muktamar seharusnya diarahkan pada penguatan pendidikan pesantren, pembangunan ekonomi umat, profesionalisasi organisasi, perluasan ruang bagi kader muda, serta kontribusi NU dalam menjawab persoalan kebangsaan.

“Kami mengajak seluruh Nahdliyin untuk menutup buku kontestasi dan membuka lembaran khidmah. Terima hasil Muktamar dengan bangga. Hormati keputusan organisasi. Kawal dengan kritis. Tetapi jangan kehilangan adab dan persaudaraan,” beber Achmad.

BEM PTNU menegaskan NU bukan milik kubu pemenang ataupun mereka yang kalah. NU adalah rumah besar seluruh Nahdliyin.

Karena itu, setelah Muktamar ke-35, yang perlu dihitung bukan lagi siapa pemenang dan siapa yang kalah. Yang lebih penting adalah seberapa besar persoalan umat dapat diselesaikan.

“Muktamar sudah selesai. Jangan wariskan dendam. Jangan pelihara kubu-kubuan. Jangan rusak persaudaraan hanya karena perbedaan pilihan,” jelasnya.

Related posts

Perkembangan Sengketa Aset YAI, 6 Orang Dikabarkan Jadi Tersangka, Humas: Hormati Proses Hukum

redaksi JournalReportase

PC PMII Jakarta Pusat Hantam PB PMII, Tolak Seruan Aksi Hingga Kecam Krisis Legitimasi Organisasi

redaksi JournalReportase

Begini Klarifikasi Kalapas Permisan Tanggapi Pemberitaan Napi Seumur Hidup Asal Nigeria Tewas di RSUD Cilacap karena Kekerasan

redaksi JournalReportase

Leave a Comment