Journal Reportase
Breaking News

PAKAR Soroti Respons Polri Tangani Dampak Gempa M 7,7 di NTT

PAKAR Soroti Respons Polri Tangani Dampak Gempa M 7,7 di NTTJAKARTA- JOURNALREPORTASE Pemantau Kinerja Aparatur Untuk Keadilan Rakyat (PAKAR) menyoroti kinerja aparat kepolisian dalam merespons dampak gempa bumi bermagnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026).

Ketua PAKAR, Ikhwan Andi Aziz, menilai Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bersama jajaran telah bekerja maksimal dalam membantu masyarakat yang terdampak bencana.

“Dapat dilihat dari keberadaan Kapolri yang berada di tengah-tengah warga terdampak gempa,” kata Ikhwan Andi Aziz, Rabu (19/8/2026).

Diketahui, Kapolri mengerahkan ratusan personel Bawah Kendali Operasi (BKO) ke Polda NTT untuk membantu penanganan dan pemulihan masyarakat terdampak gempa.

Polri juga menyiagakan sejumlah armada udara untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses melalui jalur darat. Armada tersebut diprioritaskan untuk mengangkut kebutuhan logistik sekaligus melakukan pemantauan dari udara.

Untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi, Kapolri memastikan pasokan logistik terus disalurkan. Bantuan tersebut berasal dari sejumlah polda jajaran dengan total mencapai 247,66 ton.
“Ini membuktikan Kapolri hadir di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ikhwan juga menilai Kapolri dan jajaran mampu memanfaatkan waktu secara optimal dalam penanganan bencana sejak gempa terjadi pada Sabtu (15/8/2026).
Bantuan logistik dan kebutuhan dasar bagi masyarakat terdampak gempa di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, NTT, juga telah disalurkan.

“Kapolri dan jajaran melakukan manajemen waktu dengan sangat baik,” tambahnya.

Korban Gempa Capai 202 Orang
Sementara itu, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menyampaikan perkembangan terbaru penanganan gempa NTT. Hingga hari ketiga, jumlah korban yang tercatat mencapai 202 orang.

Direktur Operasi Basarnas, Laksma TNI Yudhi Bramantyo, mengatakan dari jumlah tersebut, 70 orang meninggal dunia dan 132 orang mengalami luka-luka.

“Sampai dengan hari ketiga kemarin, pukul 23.30 WIB, telah kami kompulir, total korban adalah 202 orang, meninggal dunia 70 orang dan luka-luka 132 orang,” kata Yudhi dalam konferensi pers, Selasa (18/8/2026).

Dari 132 korban luka, sebanyak 40 orang mengalami luka berat dan 92 orang luka ringan. Petugas Basarnas masih melakukan penyisiran di sejumlah lokasi terdampak.

“Operasi yang kita lakukan hanya tinggal penyisiran karena berdasarkan laporan atau masukan data dari para korban tidak ada lagi saudara-saudara mereka, tetangga, rekan yang tercatat masih dalam pencarian,” ujar Yudhi.

Basarnas juga membantu memperkuat tim pemulihan medis, terutama di wilayah yang sulit dijangkau seperti Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur.

“Hari ini kami turut membantu perkuatan tim kesehatan sesuai arahan Bapak Menkes, khususnya di daerah terdampak cukup besar dan sulit dijangkau, seperti di Lamba Leda,” ucapnya.

Data Korban Luka Berbeda

Pada kesempatan yang sama, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan adanya perbedaan data korban luka antara Basarnas dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

“Jumlah korban luka-luka berdasarkan data Kementerian Kesehatan adalah 1.182 orang. Namun, perbedaan data tak perlu dipermasalahkan karena memang dasar perhitungannya yang berbeda,” kata Berton.

Menurut Berton, Basarnas mencatat korban luka berdasarkan orang yang ditemukan dalam penanganan lapangan. Sementara itu, data Kemenkes dihitung berdasarkan jumlah warga yang mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan.

“Akan ada sedikit perbedaan data luka-luka, dan ini tidak menjadi polemik,” katanya.

Gempa Susulan Masih Terjadi
Berton juga menjelaskan aktivitas gempa susulan masih terjadi di wilayah terdampak. Berdasarkan data per 18 Agustus 2026 pukul 16.00 WIB, tercatat 2.119 gempa susulan dengan magnitudo terbesar 6,2 dan terkecil 1,3.

Dari jumlah tersebut, 24 gempa susulan bermagnitudo di atas 5, sedangkan 70 gempa susulan dirasakan masyarakat.

“Per hari ini, 18 Agustus 2026, pukul 16.00 WIB, kondisi gempa terkini, jumlah gempa susulan sebanyak 2.119 kali. Magnitudo terbesar adalah 6,2 dan terkecil 1,3 (Magnitudo) di atas 5 ada 24 kali, sedangkan gempa susulan yang dirasakan sebanyak 70 kali,” ujar Berton.

Menurut dia, aktivitas gempa masih fluktuatif dan pola peluruhan belum terlihat jelas. Kondisi tersebut diperkirakan berangsur stabil dalam dua hingga tiga pekan ke depan.

“Aktivitas gempa masih fluktuatif dan pola peluruhan belum terlihat jelas, diperkirakan kondisi ini akan stabil dalam 2-3 minggu ke depan,” tambahnya.

Gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang NTT pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58.24 WIB. Penanganan terhadap masyarakat terdampak hingga kini masih terus dilakukan oleh berbagai unsur, termasuk aparat kepolisian, Basarnas, BNPB, dan tim kesehatan.

Related posts

Breaking News: Besok Kantornya Bakal Digeruduk Ribuan Pemuda Kalimantan, Dirut PLN Panik?

redaksi JournalReportase

Menuju Layanan Prima, Pusdokkes Polri Kenalkan Proyek Perubahan

redaksi JournalReportase

PKPI Galang Sumbangan Kader Buat Korban Banjir

redaksi JournalReportase

Leave a Comment