Journal Reportase
News

Serukan Penolakan, Rencana Konser Andrea Bocelli di Jakarta Dinilai Ciderai UUD 1945

JAKARTA – Penolakan terhadap rencana konser penyanyi asal Italia Andrea Bocelli di Jakarta menguat, karena sang musisi dituding sebagai pendukung zionist.

Bung Ocoi dari Oi Filystin Food Not Bombs Syndicate menegaskan penolakannya. “Gue tetap menolak untuk pendukung zionist apalagi sampai berdonasi menyumbang kegiatan zionist. Konser Bocelli ini telah mencederai pembukaan konstitusi UUD 1945 dan mengkhianati komitmen rakyat Indonesia,” ujarnya kepada Journalreportase.com, Sabtu (31/10/2026).

Bung Ocoi menilai amanat pembukaan UUD 1945 bahwa penjajahan harus dihapuskan bukan sekadar teks. “Itu bukan sekedar teks. Itu adalah jantung dari Republik ini. Itu adalah darah para pejuang yang merebut kemerdekaan dari penjajah,” tegasnya.

Ia pun melayangkan kritik kepada pemerintah, Menteri Pariwisata, aparat, dan DPR terkait pemberian izin konser Bocelli tersebut. “Wahai pemerintah, dimana komitmen kalian? Ketika kalian memberikan izin, memberikan panggung, memberikan karpet merah untuk musisi yang secara terang-terangan berpihak pada zionist, kalian sedang membuka ruang diplomasi untuk penjajah melalui pintu belakang: kultur, seni, dan budaya,” katanya.

Kepada Menteri Pariwisata, ia menegaskan, “Tugasmu mempromosikan keindahan dan martabat bangsa, bukan menjual martabat itu kepada pendukung genosida. Pariwisata Indonesia tidak butuh darah Palestina. Rakyat tidak butuh devisa yang datang dari panggung yang mengkhianati konstitusi.”

Bung Ocoi juga menyoroti sikap aparat keamanan. “Kalian sigap membubarkan aksi solidaritas Palestina dengan alasan ketertiban. Tapi mengapa begitu longgar memberikan pengamanan untuk pendukung zionist menggelar acaranya? Hukum tumpul ke atas untuk penjajah, tajam ke bawah untuk pembela kemanusiaan?” bebernya.

Ia mengingatkan kasus diskriminasi terhadap WNI baru-baru ini, di mana pesawat Ethiopia Airlines tidak diizinkan mendarat di Tel Aviv karena pilotnya WNI. “Jangan lupa, baru kemarin kita dihina. Lalu sekarang kita disuruh duduk bersama zionist dalam lembaga perdamaian palsu yang mereka sebut BOP – Bullshit Of Peace. Isinya adalah negara-negara imperialisme fasis, Amerika dan zionist Israel itu sendiri,” jelasnya.

Menurutnya, memberikan ruang bagi pendukung zionist melalui konser Bocelli adalah pengkhianatan sejarah. “Kakek nenek kita merebut kemerdekaan dengan bambu runcing. Mereka tidak berjuang agar cucunya hari ini memberikan panggung megah untuk penjajah baru. Memberikan ruang untuk zionist adalah pengkhianatan terhadap darah syuhada,” tutur dia.

Karena itu, ia menyatakan empat sikap, yakni menolak keras konser Bocelli dan segala kegiatan pendukung zionist, mendesak pemerintah mencabut izin konser tersebut, menyerukan boikot total terhadap produk dan seniman terafiliasi zionisme, serta menuntut Indonesia keluar dari BOP karena tidak sesuai dengan politik luar negeri bebas aktif. “Dari Jakarta untuk Palestina, kemerdekaan adalah hak segala bangsa,” pungkasnya.

Related posts

Terkait Stabilitas Bangsa, Ketum KPBI Yakin Tak Ada Gangguan Keamanan Usai Pemilu

redaksi JournalReportase

Dikawal Petugas LPSK, Andrie Yunus Tinggalkan RSCM Usai Dirawat Sejak Maret

redaksi JournalReportase

Kepala Suku Moora Ajak Warga Bijak Bermedia dan Kibarkan Merah Putih Jelang HUT RI ke-81

redaksi JournalReportase

Leave a Comment

KLIK BAHASA BERITA»