JAKARTA — Iran menjadi bahan pembahasan dalam seminar “Iran dalam Perspektif Peradaban Dunia Islam” yang digelar Lembaga Dakwah Masjid Agung Sunda Kelapa (LD-MASK) bersama Kanwil Kementerian Agama dan BAZNAS BAZIS DKI Jakarta di Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 7 Oktober 2026.
Ketua LD-MASK, Zainuri Anwar, mengatakan pembahasan Iran sengaja ditempatkan dalam kerangka peradaban. Ia mengatakan lembaga dakwah yang dipimpinnya berupaya mengembangkan tradisi dakwah yang santun, toleran, dan plural. “Kami mengajak jemaah sekalian dan mengundang para pakar membicarakan Iran,” ujar Zainuri.
Menurut Zainuri, Iran menarik untuk dikaji karena mampu bertahan menghadapi tekanan negara-negara besar. Ia menyinggung pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelum konflik yang menyebut Iran dapat ditundukkan dalam waktu singkat.
Namun, menurut dia, perkembangan berikutnya menunjukkan Iran tetap bertahan. “Orang Islam banyak yang heran kok bisa Iran bisa bangkit,” ujar Zainuri.
Guru Besar Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Khalid Al-Walid, membawa pembahasan lebih jauh ke akar sejarah. Ia mengatakan Iran modern tidak dapat dilepaskan dari sejarah Persia Raya yang pernah menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan dunia Islam.
Menurut Khalid, pada periode sekitar 750-1450 Masehi, wilayah Persia berkembang sebagai pusat keilmuan dengan dukungan berbagai institusi, antara lain Jundisyapur, Bayt al-Hikmah, Nizamiyah, Maragha, dan Samarkand.
Ia mengatakan tradisi tersebut menghasilkan perkembangan berbagai disiplin ilmu yang kemudian ikut memberikan pengaruh terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Dari sejarah itu, Khalid mengajak Indonesia melihat pentingnya pembangunan peradaban berbasis ilmu yang mandiri.
Khalid juga menyoroti pendidikan Iran yang menurut dia memadukan ilmu agama dengan sains dan teknologi. Ia menilai kemampuan bahasa, filsafat, serta tradisi keilmuan menjadi salah satu faktor yang membentuk kemampuan diplomasi Iran.
Sementara itu, dosen FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Robi Sugara, melihat Iran dari perspektif geopolitik. Ia mengatakan pembahasan mengenai Iran tidak semestinya langsung ditempatkan dalam bingkai konflik Sunni-Syiah.
Robi juga membahas strategi politik yang dikaitkan dengan upaya negara-negara besar mengguncang sebuah negara melalui tekanan terhadap pemimpin dan elite politiknya. Ia mengatakan stabilitas Iran tetap menjadi fenomena yang perlu dikaji meskipun negara itu menghadapi berbagai tekanan.
“Masjid Sunda Kelapa tidak takut dituduh Syiah saat gelar seminar tema Iran,” ujar Robi.
Ekonom, Ichsanudin Noorsy, kemudian menyoroti aspek ekonomi. Ia mengatakan pengalaman Iran dapat dipelajari dalam konteks bagaimana sebuah negara menghadapi embargo dan tekanan ekonomi.
Menurut Ichsanudin, Iran tidak semata-mata memandang embargo sebagai hambatan, tetapi menjadikannya sebagai dorongan untuk memperkuat kemampuan domestik. Ia juga mengingatkan Indonesia agar tidak terjebak dalam perdebatan sektarian Sunni-Syiah ketika membahas pengalaman Iran.
“Jangan masuk perdebatan Syiah dengan Sunni. Mudah-mudahan kita sadar punya tantangan besar,” kata Ichsanudin.
Perspektif pertahanan disampaikan Marsma TNI (Purn) Agung Sasongkojati. Mantan Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara itu menggambarkan Iran sebagai negara yang membangun strategi pertahanan secara asimetris.
Agung menyebut Iran mengembangkan sejumlah sistem pertahanan sendiri, termasuk sistem pertahanan udara Bavar-373, rudal Fattah-1, drone Shahed-136, serta kapal tanpa awak. Menurut dia, strategi tersebut berbeda dengan pendekatan negara yang mengandalkan pembelian alutsista mahal dari luar negeri.
“Iran sudah siapkan pertahanan asimetris,” ujar Agung.
Ia juga menyinggung kemampuan siber Iran, diplomasi dengan negara-negara kawasan, hubungan dengan Cina dan Arab Saudi, serta keterlibatan Iran dalam Shanghai Cooperation Organisation dan BRICS..
Ketua Dewan Pengarah Masjid Agung Sunda Kelapa, Setyanto P. Santosa, mengatakan pembahasan Iran harus ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas. Menurut dia, seminar itu bukan forum untuk menentukan pihak yang benar atau salah, melainkan ruang untuk mempelajari bagaimana sebuah bangsa mempertahankan kedaulatannya.
“Kita perlu melihat secara utuh dan kritis, bukan untuk menentukan siapa yang salah dan benar, tapi untuk belajar bagaimana kedaulatan suatu bangsa harus dijaga,” kata Setyanto.
Sementara, Wakil Ketua I Bidang Pengumpulan BAZNAS BAZIS DKI Jakarta, Dr. KH. A. Nur Alam Bakhtir, mengatakan Masjid Agung Sunda Kelapa memiliki tradisi panjang sebagai ruang diskusi keislaman dan peradaban. Menurut dia, masjid tersebut tidak dibangun untuk menjadi ruang eksklusif satu kelompok.
“NU, Muhammadiyah dan Persis monggo,” ucap Nur Alam.
