Syarif Hidayat Pangorieseng, S.Sos.
Alumni Program Studi Kriminologi Universitas Budi Luhur
JOURNALREPORTASE – OPINI- Kalau melihat persoalan kenakalan remaja yang berkaitan dengan narkoba, obat-obatan keras, sinte, maupun penyalahgunaan zat melalui vape, kita sering terlalu cepat melihatnya hanya sebagai persoalan “anak nakal”. Padahal ada proses yang mungkin jauh lebih panjang sebelum seorang anak sampai pada tahap tersebut.
Pada sebagian remaja, penggunaan zat bisa bermula dari rasa ingin tahu. Tetapi ada juga yang bermula dari lingkungan pergaulan. Mereka ingin diterima, ingin dianggap berani, ingin mendapatkan pengakuan, atau tidak ingin dianggap berbeda dari teman-temannya.
Kadang-kadang, yang pertama kali dicari oleh seorang remaja bukan narkobanya, melainkan penerimaan dari lingkungannya.
Ketika penggunaan zat kemudian mendapatkan validasi dari lingkungan, perilaku tersebut dapat semakin dianggap biasa. Sesuatu yang awalnya hanya coba-coba dapat berkembang menjadi kebiasaan dan, pada sebagian orang, ketergantungan.
Tentu tidak berarti setiap remaja yang berada dalam lingkungan pengguna akan menggunakan narkoba. Ada banyak faktor lain seperti keluarga, pengawasan, lingkungan sosial, akses terhadap zat, dan kondisi individu. Tetapi dari perspektif kriminologi, proses tersebut penting untuk diperhatikan: bagaimana lingkungan, kesempatan, pengaruh kelompok, dan kondisi individu dapat saling berinteraksi hingga seseorang mengambil keputusan yang berisiko.
Pengalaman melakukan wawancara dengan aparat kepolisian juga memperlihatkan bahwa penggunaan narkoba cukup sering muncul bersamaan dengan kasus-kasus kejahatan yang mereka tangani. Namun hubungan narkoba dan kejahatan tidak sesederhana bahwa narkoba otomatis membuat seseorang menjadi pelaku kejahatan.
Persoalan lain muncul ketika penggunaan zat berkembang menjadi adiksi. Ketika kebutuhan terhadap zat sudah sangat kuat, dorongan untuk memperolehnya dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan. Dalam kondisi tertentu, seseorang dapat mengambil jalan yang semakin berisiko untuk memenuhi kebutuhannya.
Penggunaan zat tertentu dalam kondisi tertentu dapat memengaruhi persepsi, kontrol diri, dan kemampuan seseorang dalam mempertimbangkan konsekuensi dari tindakannya. Kondisi tersebut dapat menjadi bagian dari proses yang membuat seseorang mengambil keputusan yang semakin berisiko dan pada akhirnya merugikan dirinya maupun orang lain. Namun, hubungan antara penggunaan zat dan tindak kejahatan tetap perlu dilihat secara hati-hati, karena penggunaan zat bukan satu-satunya faktor yang menentukan seseorang melakukan kejahatan.
Pengalaman melakukan wawancara dengan salah satu anak binaan juga membuat persoalan kenakalan remaja perlu dilihat secara lebih hati-hati. Ketika seorang anak sudah berhadapan dengan sistem peradilan, persoalannya tidak lagi sesederhana label “anak nakal”. Ada proses yang perlu dilihat, termasuk lingkungan sosial, pengaruh pergaulan, penggunaan zat, pengawasan keluarga, dan bagaimana anak tersebut mengambil keputusan.
Karena itu, memahami faktor yang mendorong seseorang melakukan pelanggaran bukan berarti membenarkan perbuatannya. Justru dengan memahami prosesnya, kita dapat mencari titik pencegahan sebelum seorang anak semakin jauh masuk ke lingkungan yang berisiko.
Persoalan narkoba pada remaja juga terus berkembang. Kita tidak hanya berbicara mengenai jenis zat yang semakin beragam, tetapi juga mengenai bagaimana penyalahgunaan zat dapat hadir melalui medium yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. BNN pada 2026 melaporkan adanya temuan narkotika maupun New Psychoactive Substances (NPS) dalam sejumlah sampel cairan vape. Temuan ini menunjukkan bahwa pola penyalahgunaan zat dapat terus beradaptasi mengikuti perkembangan gaya hidup dan teknologi.
Karena itu, upaya pencegahan juga tidak boleh berjalan secara statis. Ketika pola penyalahgunaan terus berubah, rumusan pencegahan harus mampu membaca perubahan tersebut dan bergerak selangkah lebih maju.
Pencegahan tidak cukup hanya dengan mengatakan kepada remaja, “jangan menggunakan narkoba”. Kita juga perlu bertanya apakah seorang anak memiliki lingkungan yang membuatnya merasa diterima tanpa harus melakukan sesuatu yang berisiko.
Remaja membutuhkan ruang untuk mendapatkan pengakuan, membangun identitas, dan merasa menjadi bagian dari kelompok. Kalau kebutuhan tersebut tidak menemukan ruang yang sehat, lingkungan yang salah dapat menawarkan bentuk penerimaan yang justru membawa mereka semakin dekat kepada perilaku berisiko.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan hanya “mengapa remaja menggunakan narkoba?”, tetapi “mengapa seorang remaja merasa perlu menggunakan sesuatu yang berbahaya agar dirinya diterima, diakui, atau dianggap keren oleh lingkungannya?”
Dari pertanyaan itulah pencegahan bisa dimulai.
