Journal Reportase
Ekonomi&Bisnis

Siloam Bukukan Pendapatan Naik 10,6 Persen, Bamsoet: Industri Rumah Sakit Harus Adaptif Hadapi Tekanan Ekonomi Global

JAKARTA- JOURNALREPORTASE -PT Siloam International Hospitals Tbk mencatatkan kinerja positif pada Semester I 2026 dengan membukukan pendapatan bersih sebesar Rp5,23 triliun atau meningkat 10,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di tengah tekanan ekonomi global dan meningkatnya biaya layanan kesehatan, perusahaan juga mencatatkan pertumbuhan EBITDA sebesar 17,7 persen menjadi Rp1,54 triliun serta laba bersih naik 27,9 persen menjadi Rp609,45 miliar.

Komisaris Independen PT Siloam International Hospitals Tbk, Bambang Soesatyo (Bamsoet), menilai capaian tersebut mencerminkan ketahanan operasional perusahaan di tengah dinamika ekonomi dunia yang masih penuh tantangan. Menurutnya, industri rumah sakit dituntut mampu beradaptasi agar tetap memberikan layanan kesehatan berkualitas sekaligus menjaga keberlanjutan bisnis.

“Rumah sakit merupakan bagian dari infrastruktur strategis bangsa. Ketika ekonomi melambat, tantangannya bukan sekadar menjaga keuntungan usaha, melainkan memastikan masyarakat tetap memperoleh layanan kesehatan yang berkualitas, aman, dan terjangkau. Pemerintah bersama pelaku industri kesehatan harus memastikan masyarakat tetap memperoleh layanan terbaik tanpa terbebani kenaikan biaya yang berlebihan,” ujar Bamsoet usai mengikuti Board of Commissioners Meeting PT Siloam International Hospitals Tbk di Gedung Fakultas Kedokteran UPH Lippo Village, Karawaci, Banten, Kamis (6/8/2026).

Rapat komisaris dipimpin Komisaris Utama Dr. Yasonna H. Laoly dan dihadiri jajaran komisaris, di antaranya Bambang Soesatyo, Sigit Prasetya, Andy N. Purwohardono, serta James Tobias Hall. Dari jajaran direksi hadir Presiden Direktur David Utama, Wakil Presiden Direktur sekaligus CEO Siloam Hospitals Group Caroline Riady, Direktur Atiff Ibrahim Gill, Benny Haryanto Djie, Gabriele Isacco Tironi, beserta direksi lainnya.

Bamsoet menjelaskan, tantangan terbesar industri rumah sakit saat ini berasal dari meningkatnya biaya operasional yang melampaui laju pertumbuhan pendapatan. Ketergantungan terhadap alat kesehatan, obat-obatan, reagen laboratorium, dan perangkat diagnostik impor membuat sektor ini rentan terhadap pelemahan nilai tukar rupiah maupun gangguan rantai pasok global.

Di sisi lain, rumah sakit juga harus menanggung kenaikan biaya energi, pemeliharaan peralatan medis, investasi teknologi informasi, serta peningkatan kesejahteraan tenaga kesehatan.

Ia menegaskan, daya saing rumah sakit kini tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan fasilitas, tetapi juga kualitas layanan, inovasi teknologi, serta tingkat kepercayaan masyarakat. Hal itu, menurutnya, tercermin dari berbagai pencapaian internasional yang diraih Siloam sepanjang 2026.

Siloam Hospitals Kebon Jeruk dan Siloam Hospitals Lippo Village menjadi rumah sakit pertama di Indonesia yang meraih penghargaan Magnet with Distinction, sekaligus menjadikan Siloam sebagai satu-satunya jaringan rumah sakit di Asia Tenggara yang memiliki lebih dari satu rumah sakit dengan predikat tertinggi dalam standar keunggulan pelayanan keperawatan. Selain itu, Siloam Hospitals Asri juga berhasil melakukan transplantasi ginjal berbantuan robot pertama di Indonesia menggunakan sistem Da Vinci Xi.

“Pasien kini semakin kritis dalam memilih rumah sakit. Keputusan berobat dipengaruhi kualitas pelayanan, kemudahan memperoleh dokter, sistem pendaftaran digital, transparansi biaya hingga ulasan di media sosial. Karena itu, inovasi, keselamatan pasien, dan keunggulan klinis menjadi faktor utama dalam memenangkan kepercayaan masyarakat,” kata Bamsoet.

Menurutnya, rumah sakit perlu terus meningkatkan efisiensi melalui digitalisasi proses bisnis, penguatan manajemen rantai pasok, pemanfaatan data analitik, serta tata kelola keuangan yang lebih baik.

Diversifikasi layanan seperti medical check-up, rehabilitasi medis, pusat penyakit kronis, layanan kesehatan korporasi, home care, hingga telemedicine juga dinilai penting untuk memperkuat sumber pendapatan.

Dari sisi kapasitas layanan, hingga Semester I 2026 Siloam telah meningkatkan jumlah tempat tidur menjadi 4.440 unit atau naik 4,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Tingkat okupansi tetap stabil di kisaran 62,5 persen, dengan jumlah pasien rawat inap mencapai 156.269 orang dan kunjungan rawat jalan menembus 2,18 juta kunjungan.

Bamsoet juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah melalui penguatan regulasi, pengembangan industri alat kesehatan dalam negeri, pemberian insentif investasi teknologi kesehatan, percepatan transformasi digital, serta kolaborasi antara rumah sakit, BPJS Kesehatan, perusahaan asuransi, industri farmasi, dan perguruan tinggi.

Ia turut mengapresiasi raihan empat penghargaan Healthcare Asia Awards 2026 yang diterima Siloam, yakni Hospital Group of the Year – Indonesia, Service Delivery Innovation of the Year – Indonesia, Specialty Hospital of the Year (Cardiology) – Indonesia, serta Medical Tourism Hospital of the Year – Indonesia.

“Ketahanan kesehatan harus dibangun melalui penguatan industri farmasi nasional, pengembangan teknologi kesehatan, peningkatan kualitas SDM medis, serta transformasi digital rumah sakit. Kinerja positif Siloam pada Semester I 2026 menunjukkan bahwa investasi pada inovasi, tata kelola yang baik, dan keunggulan klinis merupakan strategi yang tepat untuk menjaga keberlanjutan industri kesehatan nasional sekaligus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” pungkas Bamsoet.

Related posts

Tips untuk Mengurangi Membandingkan Hidup dengan Orang di Medsos

redaksi JournalReportase

Dukung Kelancaran Peningkatan Mobilitas Masyarakat, KAI Logistik Kirim 7 Lokomotif ke Jawa

redaksi JournalReportase

Rahasia Broadcast Aman dengan Tools WA Blast Resmi Barantum

redaksi JournalReportase

Leave a Comment