Journal Reportase
News

Gen Z Harus Lawan Ketimpangan Lewat Marhaenisme!

Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menghadiri peluncuran sekaligus diskusi buku ‘Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z’ di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Sabtu (4/7/2026).

Dalam sambutannya, Pramono mengaku langsung menyanggupi undangan Rocky Gerung karena keduanya telah bersahabat sejak dekade 1980-an. Ia juga mengapresiasi terbitnya buku yang berupaya mengaktualisasikan pemikiran Bung Karno bagi generasi muda.

“Saat ditelepon Bung Rocky saya langsung bilang bisa. Kami teman lama sejak tahun 1980-an. Saya mengapresiasi terbitnya buku ini karena membuka ruang publik untuk kembali membahas marhaenisme dalam konteks kekinian,” kata Pramono.

Pramono menilai konsep Marhaenisme saat ini dapat dilihat dari upaya negara memberikan kesempatan kepada masyarakat yang kurang beruntung untuk memperoleh masa depan yang lebih baik.

“Kemarin saya datang ke Sekolah Rakyat di Jakarta Selatan. Anak-anak dari keluarga tidak mampu dan putus sekolah mendapat kesempatan belajar. Menurut saya, itulah roh Marhaenisme yang sebenarnya, mengangkat mereka yang tidak memiliki apa-apa menjadi memiliki harapan,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat mengaitkan gagasan Marhaenisme dengan isu lingkungan dan perdagangan karbon. Ia berharap manfaat ekonomi dari sektor tersebut tidak hanya dinikmati pemilik modal.

“Saya berharap perdagangan karbon tidak hanya menguntungkan mereka yang memiliki modal, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi kaum marhaen,” ujar Jumhur.

Dalam sesi diskusi, penulis buku tersebut,Rocky Gerung, menilai Marhaenisme masih relevan sebagai cara membaca persoalan yang dihadapi generasi muda saat ini.

“Marhaenisme bukan ideologi, melainkan metodologi. Politik adalah jalan menerobos kegelisahan. Anak muda hari ini bisa memilih jalan artificial intelligence atau jalan ideologi,” kata Rocky.

Ia juga menyoroti fenomena yang menurutnya membuat banyak anak muda kehilangan orientasi. “Sebagian besar anak muda kekurangan nilai. Politik selalu memiliki jalan ideologi, sementara Gen Z sering digoda dengan healing. Yang harus diselamatkan bukan hanya manusianya, tetapi juga lingkungan hidup dan kaum marhaen,” tandasnya.

Penulis buku itu lainnya, Airlangga Pribadi Kusman, mengatakan buku tersebut berangkat dari kenyataan bahwa kemajuan teknologi belum otomatis meningkatkan kesejahteraan generasi muda.

“Gen Z hidup di era teknologi yang berkembang pesat, tetapi pekerjaan belum tentu semakin layak dan biaya pendidikan justru semakin mahal. Marhaenisme kami tawarkan sebagai cara membaca persoalan-persoalan struktural tersebut,” kata Airlangga.

Sementara itu, Politisi muda PDIP Muhammad Syaeful Mujab menilai buku tersebut mengajak generasi muda memahami bahwa persoalan yang mereka hadapi bukan sekadar masalah individu.

“Buku ini menjelaskan bahwa kegelisahan Gen Z bukan sesuatu yang natural, tetapi lahir dari relasi kekuasaan yang timpang. Persoalan mereka bersifat struktural, bukan semata persoalan personal,” ucap Mujab.

Pendapat serupa disampaikan Founder Juristic.id, Virdinda La Ode Achmad. Ia mengatakan banyak anak muda sebenarnya memiliki kemampuan, tetapi ruang untuk berkembang masih terbatas.

“Negara tidak kekurangan anak muda pintar. Yang sering menjadi persoalan adalah sistem yang justru menutup akses bagi mereka untuk berkembang. Buku ini menawarkan arah perubahan bagi Gen Z,” tutur Dinda.

Related posts

Ramai Pembubaran Nobar Film Pesta Babi, IMAPA Jadetabek Bereaksi Keras!

redaksi JournalReportase

Gelar Raker-Seminar Nasional di UPN ‘Veteran’ Jakarta, Bukti Himapolindo Kesampingkan Aksi

redaksi JournalReportase

DPRD Maluku Soroti Anjloknya Pendapatan Pasar Mardika

redaksi JournalReportase

Leave a Comment