Journal Reportase
Featured

Pewayangan Ditengah Gempuran Kekuatan Digital Dalam Menembus Pentas Global

journalreportase.com, Rapat Koordinasi Organisasi Pewayangan Indonesia kembali dihelat di Gedung Pewayangan Kautamaan, ruang Sarasehan, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur pada Selasa (10/3/2020).

Acara tersebut juga turut dihadiri oleh Kuat Prihatin, S.Sos.,M.M (Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  RI). Drs. H. Solichin (Ketua Dewan Kebijakan SENA WANGI), Drs. Suparmin Sunjoyo (Ketua Umum SENA WANGI), Sumari, S.Sn (Sekretaris Umum SENA WANGI), Eny Sulistyowati S.Pd , MM (Kepala Bidang Humas SENA WANGI), Kondang Sutrisno (Ketua Umum PEPADI), Hari Suwasono (APA Indonesia), Dubes Samodra Sriwidjaja (Ketua Umum UNIMA Indonesia), Prof. Teguh Supriyanto (Guru Besar Sastra Universitas Negeri Semarang), Dr. Sri Teddy Rusdy, SH M.Hum (Akademisi), Mohamad Sobary (Budayawan), Romo F.X. Mudji Sutrisno (Budayawan dan Akademisi).

Sederet kegiatan dalam rangka melestarikan pewayangan pun sepanjang tahun 2020 ini telah diagendakan seperti rencana, strategi dan tantangan ke depan ditengah derasnya gelombang digital.

kiri-kanan : Eny Sulistyowati S.Pd , MM (Kepala Bidang Humas SENA WANGI), Drs. Suparmin Sunjoyo (Ketua Umum SENA WANGI). Didampingi Sumari, S.Sn (Sekretaris Umum SENA WANGI), dan Kuat Prihatin, S.Sos.,M.M, (Perencana Ahli Madia Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI), disela acara Rapat Koordinasi (RAKOR) Organisasi Pewayangan, di ruang Sarasehan, Gedung Pewayangan Kautaman, Jakarta Timur, (Selasa, 10/03/2020).
photo by : eddiekarsito

Seperti yang dikemukakan oleh Drs Suparmin Sunjoyo selaku Ketua Umum Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENA WANGI) tantangan ke depan di era digital ini, salah satunya bagaimana menanamkan kecintaan seni pertunjukan wayang kepada anak muda generasi milenial.

“Saat ini jarang sekali anak muda yang betah menyaksikan pertunjukan wayang sampai selesai. Apalagi jika pertunjukan itu berlangsung hingga pagi hari. Karena itu kita harus punya strategi jitu bagaimana supaya agar generasi muda kita menyukai nilai kebudayaan lokal seperti pertunjukan wayang. Kemasannya mau tak mau harus disesuaikan,” jelas Suparmin.

Kendati perlu mengkolaborasi dengan unsur modern, seperti digitalisasi wayang, namun bukan berarti wayang klasik dengan pakemnya harus dihilangkan. Karena semua ada pasarnya, masing-masing punya segmen tersendiri.

“Untuk bisa diterima generasi muda memang kita perlu terobosan, seperti digitalisasi wayang dengan cerita yang lebih simpel dan kekinian. Unsur-unsur modern itu tentu saja bisa dimasukkan di setiap pertunjukan wayang. Ini jadi tantangan buat kita,” sebut Suparmin.

“Meski ada usaha menggabungkan unsur modern, tapi kita juga tetap harus menghadirkan wayang dengan kemurniannya dan tetap mempertahankan pakem-pakemnya. Karena ini juga ada peminatnya. Jadi kita jalani saja semuanya. Masing-masing tetap jalan dengan sekmen yang dimilikinya” lanjut Suparmin.

salah satu agenda dalam Rapat Koordinasi Organisasi Pewayangan Indonesia tahun 2020 dalam pelestarian dan pemajuan wayang Indonesia tahun 2020 adalah menerbitkan buku-buku wayang 

Sebagai lembaga konservasi, preservasi, dan inovasi seni pewayangan, lanjut Suparmin, Sena Wangi telah melakukan berbagai langkah. “Oleh karena itu, karya kesenian setidaknya dapat menjadi mata rantai ikon peradaban bangsa yang santun, terhormat, dan bermartabat. Dalam skala mikro para pelaku seni dan budaya agaknya perlu sigap menangkap berbagai momen globalisasi,” katanya kemudian.

Pengurus Sena Wangi, timpal Eny Sulistyowati selaku Humas Sena Wangi, adalah dengan terus berupaya bagaimana mengenalkan kesenian Wayang di kalangan anak muda atau ‘kids zaman now’, baik dari segi konten maupun konteksnya. “Budaya adiluhung ini dapat dikenal, diturunkan, dan diwariskan kepada masyarakat, terutama generasi muda,” ujarnya.

Eny Sulistyowati juga menambahkan bahwa Rakor organisasi pewayangan tahun 2020 itu mengambil tema ”Bergerak Bersama Memajukan Wayang Indonesia”. Hal tersebut jelas membutuhkan kerjasama kuat antar stakeholder pewayangan.

“Kita jelas sangat butuh support dari pemerintah untuk mempromosikan ke manca negara. Seperti nanti di bulan Juni kita akan ke tiga kota Eropa, Bled (Slovenia), Vienna Velden (Austria) dan Trieste (Italy). Untuk yang di Italy kita masih butuh konfirmasi lagi karena terkait isu Corona,” kata Eny.

“salah satu upaya kami menjaga kelestarian wayang adalah dengan membawa kesenian wayang ini keliling eropa, sekaligus membawa misi kebudayaan Indonesia ke pentas global. Bulan Juni ini kita sudah saling bersurat dan diskusi, ke kedutaan Slovenia, Austria dan Italia. Surat kita sudah diterima. Bahwa ada balasan undangan untuk lawatan budaya dan festival. Kita juga sudah difasilitasi auditorium berkapasitas 500 orang, itu kalau disewa sekitar 5000 Euro untuk sekali pentas tapi kita dikasih gratis sama pemerintah Slovenia. Kita juga masih bersura ke pemerintahaan Austria. Pemerintahan sana meminta kita supaya tidak hanya pentas, tetapi membawa serta contoh ekonomi kreatif berupa promosi produk Indonesia. Tidak hanya pentas yang tak berimbas tapi juga bisa membawa ekosistem wayangnya,” beber Eny.

Rakor Organisasi Pewayangan itu sendiri dihadiri perwakilan dari SENA WANGI (Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia), PEPADI (Persatuan Pedalangan Indonesia), APA (ASEAN Puppetry Association) Indonesia, UNIMA (Union Internationale de la Marionnette) Indonesia dan PEWANGI (Persatuan Wayang Orang Indonesia). Selain itu juga hadir perwakilan dari sanggar-sanggar terkemuka dari seluruh Indonesia, antara lain; Sanggar Budaya Rumah Cinta Wayang, yang dipimpin Dwi Woro Retno Mastuti. 

Related posts

Tanggap Covid-19, ILUNI UI S3 FHUI Salurkan Donasi 1000 Paket Sembako

redaksi JournalReportase

Harus Bagaimana Caranya Agar Film Indonesia Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri?

Illusness Kolaborasi Guru dan Murid

redaksi JournalReportase

Leave a Comment