Pesan Kebudayaan
JAKARTA,- Mengingat terbatasnya ruangan, tulisan ini lebih merupakan “pesan kebudayaan” untuk saling saling mengingatkan. Sejumlah kenangan pahit dan manis tidak mungkin dapat dipaparkan disini.
Sebagaimana diketahui KKSS (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan)
didirikan pada tanggal 12 November 1976 tepat pada hari Jumat bertempat di kantor Bank Marannu, Jalan Hayam Wuruk, Jakarta, milik pengusaha dan tokoh pejuang Brigjen TNI – AD
(pur) H. Andi Sose). Paling tidak ada 26 tokoh asal Bugis – Makassar yang telah berkiprah di Jakarta menjadi deklarator dan hampir seluruhnya adalah pejuang Kemerdekaan 45.
Untuk menyebut nama, beberapa diantaranya adalah, Manai Sophiaan, Prof. Nurdin Shahadat, Andi Baso Amir, Letkol. Pol. Andi Oddek, Brigjen TNI AD ( Purn ) Andi Sose, Baharuddin Lopa SH, Ahmad. A. Baramuli dan Mayjen TNI AD (Pur) Abdul Azis Bustam yang sekaligus didaulat
menjadi Ketua Umum pertama.
Pada dasarnya kelahiran KKSS didasari oleh suatu kebutuhan perlunya wadah komunikasi khusus antar warga Sulawesi Selatan yang hidup bertebaran di rantau. Bukan cuma di Indonesia bahkan di luar negeri, seperti Malaysia, Asutralia dan di Amerika Serikat dan lain -lain.
Sebelum KKSS dibentuk, wadah berhimpun warga perantau yang berpusat di Jakarta, adalah PKS (Persaudaraan Keluarga Sulawesi). Didirkan tahun 1950an. Ketika itu di Sulawesi baru ada dua propinsi yaitu Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara. Anggotanya terdiri dari warga Bugis Makassar, Manado, Gorontalo, Palu, Kendari dan lain sebagainya.
KKSS adalah organisasi kemasyarakatan yang bergerak ditataran sosial budaya. Bukan
organisasi sosial politik dan tidak berafiliasi dengan partai politik manapun. Secara pribadi anggota atau pengurus KKSS boleh saja adalah aktivis partai politik.
Dengan ketokohan Azis Bustam yang kharismatik selaku Ketum pertama dibantu tokoh pengurus lainnya, KKSS berhasil memposisikan diri sebagai wadah berhimpun warga perantau
di seluruh Indonesia yang berbasis sosial budaya yang disegani. Hal mana diteruskan pula oleh pengurus berikutnya dari priode ke priode.
Warga KKSS mampu memberikan pengabdian terbaiknya di daerah mana saja mereka berada. Dengan penekanan pendekatan kultural berbasis dimensi budaya, adat istiadat dan kearifan lokal yang tersimpul di dalam kata Sipakatau (saling menghargai), membuat keluarga KKSS di rantau berhasil menumbuhkan simpati warga setempat.
Menyatu di dalam rangkuman kebersamaan satunya rasa memiliki (sense of belonging). Pada perjalanan KKSS selanjutnya, telah disepakati merawat momentum historis heroik rakyat Sulawesi Selatan, melalui tradisi melakukan peringatan tahunan peristiwa kekejaman Westerling yang dikenal sebagai Hari Berkabung Nasional Korban 40.000 Jiwa di Sulawesi Selatan di TMP Kalibata Jakarta maupun di daerah – daerah setiap tanggal 11 Desember.
Tujuan peringatan tersebut untuk mengenang dan menghormati jasa dan pengorbanan para pejuang kusuma bangsa di Sulawesi Selatan yang gugur sebagai syuhada di dalam mempertahakan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Sampai pada tahun 1997 menteri Kabinet Pembangunan dikala itu secara bergantian menjadi Inspektur Upacara di TMP Kalibata Jakarta. Suatu tradisi peringatan peristiwa heroik yang turut memberikan nilai tambah konstruktif warga KKSS di mata warga bangsa lainnya.
Harus difahami, peringatan tersebut adalah pencerminan pelaksanaan dan penghayatan nilai budaya Sipakatau (saling menghargai). Tanpa ada pejuang yang rela berkorban harta benda dan nyawa tanpa pamrih, pastilah bangsa Indonesia tidak akan pernah ada seperti sekarang ini.
Menghormati jasa para pahlawan pejuang kusuma bangsa, seyogyanya menjadi tradisi tahunan KKSS sebagai salah satu cara untuk mewariskan nila – nilai kepahlawan kepada generasi muda selanjutnya. Tanpa upaya pelestarian nilai – nilai kejuangan tersebut, lambat laun generasi muda bangsa Indonesia khususnya Sulawesi Selatan akan kehilangan jejak historis dan patriotisme leluhurnya.
Apalah arti capaian material, pangkat, kedudukan dan jabatan yang bersifat tangible (kebendaan) semata, tapi di balik itu jiwa generasi muda itu kosong dari nilai – nilai intangible (moralitas) yang menjadi akar kekuatan kebesaran leluhurnya.
Memelihara warisan semangat kepahlawanan para pejuang, ibarat sebuah lonceng peringatan, agar seseorang hendaklah senantiasa berjalan diatas kebenaran dan kejujuran.
Penghayatan nilai kebenaran dan kejujuran itulah yang disebut SIRI. Menghayati nilai SIRI harus sampai ke dasar hati sehingga tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan : wajib hukumnya. Itulah jalan keselamatan warga KKSS yang membuatnya akan terhindar dari
perbuatan tercela, alias tidak terjerumus ke dalam perbuatan mappakasiri – siri. Naudzubillahimindzalik.
Sungguh sangat menggembirakan, bahwa pada hakekatnya masyarakat Bugis Makassar
di rantau telah berusaha berbuat sebaik – baiknya dan berkarya penuh dedikasi dengan tetap memelihara kehormatan diri di daerah rantau. Warga KKSS diharapkan tetap menjunjung tinggi prinsip dan jatidiri yang terpadu di didalam narasi : Getteng, Lempu dan Ada Tongeng (Ketegasan, Kejujuran dan Konsistensi/Satunya Kata dan Perbuatan). Substansi narasi inipun sarat dengan nilai SIRI di dalamnya. Kami doakan diusianya yang ke 43, KKSS berhasil memilih pemimpin yang amanah dan konsisten menegakkan SIRI agar terhindar dari perbuatan tercela. KKSS harus mempu berlayar terus menegakkan dan mengibarkan panji – panji SIRI. Sekali layar terkembang pantang biduk surut ke pantai.
Dirgahayu KKSS, semoga senantiasa berada di dalam lindungan Allah Swt. Tetap berkiprah menopang pembangunan bangsa, berlandaskan nilai luhur Pancasila, berbasis konstitusi UUD 1945 untuk menjaga keutuhan NKRI dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. (Penulis : Zainal Bintang)
Catatan Redaksi :
Ketika KKSS didirikan pada tahun 1976, Zainal Bintang adalah wartawan Hankam/Harian Angkatan
Bersenjata merangkap Redaktur Kebudayaan. Pada saat yang sama menjadi pembantu Aster (Asisten
Teritorial) Hankam bidang Jurnalistik. Asisten Teritorial Hankam waktu itu adalah Mayjen TNI AD (Pur) Abdul
Azis Bustam yang juga ketua umum pertama KKSS. Zainal Bintang pernah menjabat sebagai Ketua Bidang
Khusus BPH KKSS selama dua priode (1986 – 1992) dan pada Mubes KKSS 2009 di Makassar, terpilih menjadi
salah seorang Wakil Ketua Umum.
