Journal Reportase
Breaking News

Deklarasi Gerakan Lintas Tegaskan Perusak Lingkungan Penghianat Bangsa

Journalreportase, JAKARTA – Gerakan Lintas Budaya, Agama dan Generasi menegaskan bahwa yang merusak lingkungan adalah penghianat Negara dan Bangsa.

Dalam deklarasinya terkait kepedulian mereka para gerakan lintas ini ditegaskan bahwa peleatarian lingkungan hidup merupakan tugas dan kewajiban setiap warga negara, maka negara menjamin keberlangsungan pelestarian lingkungan hidup demi masa depan bangsa. Kemudian ditegaskan pula bahwa penanaman cinta terhadap lingkungan hidup harus dimulai sejak usia dini dan program pelestarian lingkungan hidup harus disesuaikan dengan perkembangan sains dan teknologi tanpa mengorbankan nilai – nilai kearifan lokal. Kemudian juga para dekalator ini mengingatkan bahwa pengrusakan terhadap lingkungan hidup merupakan sebagian dari pengkhianatan atas nilai – nilai budaya luhur bangsa dan negara.

Tiga poin penting isi dari Deklarasi Nasional yang dibacakan bersama-sama oleh gerakan lintas budaya, lintas agama, lintas generasi untuk penyelamatan lingkungan pada Jumat (27/9) lalu, di La Tansa Hall, Perguruan Tinggi La Tansa Mashiro, Jalan Soekarno – Hatta no 1, Rangkasbitung, Lebak, Banten.

Selain dihadiri bersama 1.000 an mahasiswa La Tansa 2 Rangkasbitung juga hadir pada pelaksanaan deklarasi yakni tokoh nasional, gerakan lintas budaya dan lintas generasi, pejabat Kementrian, Pemda setempat dan lain lain.

Menurut Pimpinan Ponpes La Tansa, Dr Sholeh MM, salah satu inisiator kegiatan Deklarasi Nasional penyelamatan lingkungan hidup bahwa keseimbangan ekologis sekarang ini mulai rusak.
“Kita sebagai manusia punya kewajiban untuk menjaga keseimbangan ekologis yang sudah diciptakan sejak Nabi Adam,” ujarnya

“Namun sekarang ini, fakta sudah terjadi kerusakan alam. Maka manusia yang harus bertanggungjawab,”sambungnya.

Untuk itu, Perguruan tinggi La Tansa mengajak mahasiswa mahasiswi harus peduli terhadap lingkungan. “Kami berupaya menjadi ujung tombak dalam menjaga lingkungan dengan menanam sejuta pohon,” ujarnya.

Sedangkan Ketua Umum ICMI Jimly Asshidiqie yang pada hari itu memberi Studium Generale Green Contitusion, mengatakan bahwa Indonesia menghadapi situasi lingkungan yang sangat ekstrim. Di Jambi saja, misalnya, gara-gara asap, pada jam duabelas siang, gelapnya seperti jam 12 malam. Indonesia itu mempunyai alam yang ringkih.
“Setiap orang wajib bertanggung jawab terhadap lingkugan hidup. Pentingnya merawat dan melestarikan lingkungan hidup, kebetulan Indonesia merupakan paru-paru dan jantungnya dunia. Maka, kerusakan lingkungan hidup di Indonesia bukan hanya menyangkut kita. Tapi masyarakat dunia ikut menjadi korban,”terang Jimly.

Dikayakannya, perlunya menyadari pentingnya posisi Indonesia di dunia. Saatnya Indonesia memimpin dunia.” Kita adalah bangsa ke empat terbesar di dunia. Kekayan alam kita nomer empat. Hasil karet kita nomer dua di dunia setelah Brasil. Jumlah penduduk nomer 4 di dunia. Tinggal masalahnya kualitas manusianya. Baik kualitas intelektualitasnya kualitas moralnya, dan akhlaknya. Kalau sudah sesuai standar internasional, maka pada saatnya Indonesia akan menjadi negara terbesar ke empat,” ungkap Jimly Asshidiqie.

Sementara menurut Raja Asdi, sebagai salah satu inisiator Deklarasi Nasional, bahwa lahirnya gerakan tersebut dari keprihatinan kita setelah melihat rusaknya lingkungan hidup di Indonesia. Kebetulan mereka yang hadir mempunyai keprihatinan yang sama. Di saat masyarakat lebih berpikir pada hal yang jangka pendek, mereka lebih memperhatikan lingkungan. Persoalan asap, sampah, sampah plastik maupun sampah elektronik, langkanya pangan dan lain-lain merupakan persoalan nyata yang harus dihadapi masyarakat Indonesia.

“Persoalan asap sudah terjadi sejak tahun 1997. Gangguan asap bukan hanya mengganggu bagi masyarakat Sumatera dan Kalimantan saja. Tapi negara tetangga juga ikut merasakan. Tapi pada tahun 2015 dan 2016, persoalan asap sudah mulai berkurang banyak sekitar 95 persen turunnya. Nah sekarang persoalan itu naik lagi,” ungkap Raja Asdi.

Sementara musisi dan seniman Sam Bimbo, yang juga bertindak sebagai inisiator dalam acara ini, dirinya telah lama berjuang di dalam penyelamatan lingkungan. Sam Bimbo, tak bosan-bosan menyerukan kepada masyarakat untuk menjaga lingkungan hidup melalui karya musik dan karya lukis.

Related posts

Polsek Grogol Petamburan Ungkap Kasus Bayi Kritis di Rumah Sakit Hingga Meninggal Dunia : Orang Tua Kandung Sebagai Tersangka

redaksi JournalReportase

Sampaikan Permohonan Maaf Proses Hukum Lanjut, Polisi : Jerinx Tidak Ditahan

redaksi JournalReportase

Bertemu Dengan Tokoh-Tokoh Papua, Panglima TNI: Komitmen TNI Tidak Ada Ruang Yang Melakukan Rasisme

redaksi JournalReportase

Leave a Comment