Journal Reportase
Featured

Selebrasi SENA WANGI yang ke 44, ‘terbangkan’ Kesenian Wayang ke 26 Negara

JournalReportase.com, Masih dalam rangkaian memperingati hari ulangtahun Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENA WANGI) yang ke 44 tahun bertajuk “Memajukan Budaya Membangun Karakter Bangsa” kembali menggelar pertunjukan wayang kulit di Gedung Pewayangan Teater Kautaman, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Jum’at (16/08/2019).

Gelaran wayang kulit tersebut berlakon Sri Sadono Boyong yang dipentaskan oleh Ki H Manteb Soedarsono yang terselenggara berkat kerjasama antara SENA WANGI, PEPADI, Gedung Pewayangan, dan Yayasan Putro Pendowo, yang ditayangkan secara live streaming sehingga bisa disaksikan langsung oleh seluruh warga dunia di 26 Negara. Hal tersebut jelas membuktikan bahwa kesenian wayang memang dicintai banyak warga di dunia tanpa memandang latar belakang suku, agama dan ras.

“Bukti bahwa kesenian wayang bukan cuma dicintai masyarakat Indonesia tetapi juga banyak masyarakat dibelahan dunia lainnya. Kita siarkan acara malam ini karena memang ada permintaan dari 26 negara tersebut. Bukan cuma itu seni Wayang juga masih dicintai anak muda di Indonesia, karena sebagian dari penonton malam ini adalah para Penggemar Sejati Manteb Sudarsono (PSMS) yang berdatangan dari seluruh Indonesia,” jelas Eny Sulistyowati SPd, SE, MM, selaku Ketua Bidang Humas dan Kemitraan SENA WANGI.

Eny Sulistyowati juga menambahkan bahwa SENA WANGI belakangan ini juga terus berupaya untuk mendekatkan kesenian Wayang kepada generasi muda dengan cara yang lebih progresif. baik dari segi konten maupun konteksnya. “Budaya adiluhung ini dapat dikenal, diturunkan, dan diwariskan kepada masyarakat, terutama generasi muda. Termasuk ikut mencegah korupsi dan menanggulangi korban narkoba melalui berbagai proses kreatif seni Wayang, yang melibatkan anak-anak muda.
Upaya tersebut diantaranya dengan menjalin kerjasama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN), melakukan sosialisasi Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).

“Sesuai tuntutan zaman, kesenian Wayang harus dikembangkan secara inklusif. Lebih terbuka terhadap nilai-nilai baru yang lebih mudah diterima masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai filosofis yang dibawanya. Masalah pencegahan, pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran narkoba misalnya, pesannya dapat disisipkan saat pertunjukan Wayang,” sebut Eny Sulistyowati.

Pencapaian SENA WANGI lainnya, kata Eny, adalah pengakuan Negara dan penetapan tanggal 7 November sebagai ‘Hari Wayang Nasional’ yang telah ditanda tangani Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo.

“Pengakuan ini merupakan perjuangan panjang SENA WANGI. Dari mulai proses pengusulan (tahun 2001-2003), hingga penerimaan penghargaan UNESCO, Wayang Indonesia sebagai masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity di Paris pada 7 November 2013. Maka tanggal itulah yang kemudian kami usulkan sebagai Hari Wayang Nasional,” ungkap Eny.
Sementara itu menurut Ketua Umum Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENA WANGI), Suparmin Sunjoyo momentum ulang tahun ini dapat menjadi ingatan bagi para penggiat budaya untuk terus menampilkan entitasnya sebagai elemen humaniora yang mampu menumbuhkan kepekaan nurani.

“Oleh karena itu, karya kesenian setidaknya dapat menjadi mata rantai ikon peradaban bangsa yang santun, terhormat, dan bermartabat. Dalam skala mikro para pelaku seni dan budaya agaknya perlu sigap menangkap berbagai momen globalisasi,” katanya.
Perayaan hari jadi Ke-44 SENA WANGI, lanjut Eny, juga menjadi momentum pihaknya untuk bisa menyimpulkan atas apa yang sudah dan belum dilakukan (capaian) SENA WANGI. Antara lain, penetapan renstra (rencana strategis), jangka panjang pengembangan pewayangan Indonesia, tahun 2010 hingga tahun 2030.

Seperti diketahui SENA WANGI juga telah mendorong terbentuknya sejumlah organisasi pewayangan, antara lain ; PEPADI (Persatuan Pedalangan Indonesia), APA (ASEAN Puppetry Association) Indonesia, UNIMA (Union Internationale de la Marionnette) Indonesia, dan PEWANGI (Persatuan Wayang Orang Indonesia).

“SENA WANGI secara aktif mengikuti Festival Wayang Internasional, serta menerbitkan berbagai buku dan ensiklopedi Wayang Indonesia. Secara berkala SENAWANGI juga menyelenggarakan pergelaran; Teater Wayang Indonesia (TWI), dan Festival Wayang Indonesia (FWI) setiap tahun,” terang Eny.

Related posts

Ponpes Daarul Rasul Menjadi Perhatian ‘Sahabat Kartini’ dan Yayasan Rumah Baahirah Untuk Berbagi Kasih

redaksi JournalReportase

Pewayangan Ditengah Gempuran Kekuatan Digital Dalam Menembus Pentas Global

redaksi JournalReportase

Sangat Berintegritas, Ahok Diganjar Penghargaan Roosseno Award IX

Leave a Comment