Journal Reportase
Breaking NewsNasional

Kemendikbud Gelar Tari Anak Indonesia 2018 Untuk Menstimulus Anak Punya Jiwa Berkesenian

JournalReportase.com, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan menggelar Festival Seni Pertunjukkan 2018 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Yang salah satunya adalah mengadakan Gelar tari Anak Indonesia 2018 yang berlangsung di Istana Anak-Anak TMII, Jakarta Timur, dari tanggal 3 hingga 5 oktober besok.

“Harapannya atas strategi kebudayaan pada bidang kesenian ini, minimal memberikan ruang kreativitas seni untuk terus tumbuh dan berkembang. Kegiatan ini merupakan bagian dari program penguatan pendidikan karakter berbasis seni musik, tari, dan teater,” ucap Restu Gunawan selaku Direktur Kesenian, Ditjen Kebudayaan, Kemendikbud, dalam sambutannya di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), pada (4/10) di TMII, Jakarta.

Restu Gunawan berharap pada Festival Seni Pertunjukan ini ide-ide, kreativitas, dan aktivitas seni dapat terus berkembang kedepannya.

“Seluruh ekosistem kesenian terutama para pelaku, peneliti, kurator, akademisi, pembina kesenian, pemerintah daerah secara aktif dan efektif mendorong perkembangan strategi seni-budaya yang berkesinambungan,” harapnya.

Restu juga menambahkan pada Festival Seni Pertunjukan 2018 ini harus melibatkan khalayak yang lebih luas berbasis komunitas yang didukung sistem data yang kuat. Sistem open call adalah sebuah sistem kurasi yang meminimalkan subyektivitas kedekatan pertemanan atau nepotisme. Sistem open call diharapkan lebih adil dan terbuka, karena bisa diikuti oleh semua stakeholder. Sehingga lebih besar kemungkinan untuk mendapatkan wakil daerah yang berkualitas.

Kegiatan Gelar Tari Anak Indonesia 2018, di TMII diikuti oleh 28 komunitas terpilih mewakili provinsi. Mereka dipilih melalui panggilan terbuka (open Call) yakni dengan cara mengirimkan video karya tari anak-anak. Lantas para pengamat yang terdiri dari para  praktisi tari, memilih satu untuk tiap provinsi.  Maka diperolehlah 27 komunitas yang mewakili provinsi,

“Untuk menuju ke sana, tahun ini Gelar Tari Anak Indonesia dan Konser Karawitan Anak Indonesia sudah mulai memberlakukan sistem open call, walau masih terbatas. Sedangkan untuk Pekan Teater Nasional kami melakukan pendekatan kuratorial berbasis penelitian,” ujarnya.

Restu menyampaikan bahwa ekspresi seni, baik sebagai manifestasi personal maupun realisasi nilai kolektif adalah bentuk-bentuk pemberdayaan masyarakat kesenian untuk menunjukkan bahwa kreasi seni secara dinamis selalu melakukan penyesuaian dan transformasi pengalaman individu di tengah perubahan sosial.

“Ekspresi seni itu harus diinkulturasikan sejak dini, sejak masa anak-anak, maka untuk itulah dua dari tiga Festival Seni Pertunjukan ini yaitu Gelar Tari Anak Indonesia dan Konser Karawitan Anak Indonesia, dikhususkan sebagai usaha membangun jatidiri dan karakter bangsa sejak masa anak anak dengan tujuan agar anak-anak Indonesia punya jiwa berkesenian, karena Indonesia memiliki ribuan kesenian tari yang bisa di eksplore,” tegasnya.

Restu Gunawan menambahkan, bahwa problem pengembangan kebudayaan di Indonesia salah satunya adalah rasa memiliki. Banyak Pemerintah Daerah (PemDa) yang menganggap bahwa pengembangan dan pelestarian kebudayaan menjadi pekerjaan dan tanggungjawab pemerintah pusat.

“Jadi ada daerah yang beranggapan bahwa kebudayaan, berkesenian adalah proyek pemerintah pusat. padahal kebudayaan juga tanggungjawab dan milik pemerintah  daerah,” kata Restu di sela Kegiatan Gelar Tari Anak Indonesia 2018 yang berlangsung di TMII, Jaktim, Rabu (3/10).

Restu menambahkan  bahwa kebudayaan dan kesenian adalah wadah yang strategis untuk menanamkan karakter kebangsaan bagi anak-anak. Karena dalam budaya dan berseni, anak diajarkan tentang nilai-nilai toleransi, percaya diri, kerjasama, gotong royong dan menghormati perbedaan. “Saya ambil contoh saat memainkan musik, pemainnya tidak melihat latar belakang agamanya, sukunya.Kolaborasi antar pemain yang berbeda akan menghasilkan musik yang indah,” pungkas Restu.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Panitia Pelaksana “Festival Seni Pertunjukan 2018”, Edi Irawan, menyampaikan, apresiasi seni untuk anak ini, melibatkan masyarakat luas berbasis komunitas. Didukung sistem data dengan sistem penyelenggaraan festival yang lebih baik. Ekspresi seni, baik sebagai manifestasi personal maupun realisasi nilai kolektif, adalah bentuk-bentuk pemberdayaan masyarakat kesenian. Hal ini menunjukkan bahwa kreasi seni secara dinamis selalu melakukan penyesuaian dan transformasi pengalaman individu di tengah perubahan sosial.

“Ekspresi seni itu harus diinkulturasikan sejak dini, sejak masa anak-anak. Maka untuk itulah dua dari tiga Festival Seni Pertunjukan ini, yaitu Gelar Tari Anak Indonesia dan Konser Karawitan Anak Indonesia, dikhususkan sebagai usaha membangun jatidiri dan karakter bangsa sejak masa anak anak,” sebut Edy.

Pelaksanaan Festival Seni Pertunjukan (musik, tari, dan teater) ini sendiri, diselenggarakan secara beruntun selama bulan Oktober 2018. Pada minggu pertama Oktober 2018, digelar seni tari anak Indonesia di Istana Anak-anak Indonesia TMII, diikuti 27 komunitas dari berbagai provinsi.

Selanjutnya, pada minggu kedua, digelar Pekan Teater Nasional, berlangsung pada 6-15 Oktober 2018, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), diikuti oleh 16 komunitas teater dengan berbasis penelitan.

Selanjutnya, tanggal 25-27 Oktober, digelar Konser Karawitan Anak Indonesia, di Graha Bhakti Budaya ,TIM, diikuti 31 komunitas karawitan atau musik tradisional.

Related posts

Sukses Bongkar Kejahatan Kemanusian Jajaran Ditreskrimsus Polda Metro Jaya Terima Penghargaan Dari Komnas Perlindungan Anak

redaksi JournalReportase

PPKM Pasar Jaya Klender, Danramil 06/Cakung : Warga Secepatnya di Vaksin

redaksi JournalReportase

Logo Baru TVRI Bertransformasi

redaksi JournalReportase

Leave a Comment