DENPASAR-JROL,- Kasus Diskotik Akasaka sepertinya mengaraha pada pemilik klub kota Denpasar, Jerry Firmon.

Itu setelah dua anak buah Jerry Firmon, yakni chief karaoke Ni Made Sumartini dan General Music Club Putu Mangku Prastiawan, diperiksa intensif terkait dengan adanya sekitar 19 ribu butir pil ekstasi yng diamankan Mabes Polri dengan Polda Bali.
Direktur IV Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Daniyanto menyatakan, saat ini sedang berlangsung pemeriksaan secara mendalam untuk tersangka WI. Ia mengungkapkan tidak menutup kemungkinan akan kembangakan ke tersangka lainnya. “Kami tidak menutup kemungkinan akan ada pengembangan ke tersangka lainnya,” ucapnya melalui pesan singkatnya, kepada Tribun Bali.
Eko mengaku, bahwa untuk Putu dan I Made Sumartini, selaku GM dan manager general, sudah diperiksa intensif terkait dengan adanya 19 ribu butir pil ekstasi.Sedangkan Jerry sendiri akan menyusul diperiksa. “Untuk Pak Jerry akan menyusul diperiksa,” ungkapnya.
Sebelumnya, AR alias WI, manajer Akasaka Klub diamankan aparat gabungan Mabes Polri dan Direktorat Narkoba Polda Bali.19 ribu pil gedek diamankan dari tangannya, saat baru saja diberikan oleh anak buahnya. Usai menggerebek Akasaka, Polisi meluncur ke rumah WI di kawasan Renon Denpasar,Bali.
nformasi dari Polda Bali, banyak barang bukti yang diamankan dari rumah WI. Hanya saja, nihil narkotika. Namun, alat bukti selain belasan ribu butir ekstasy, polisi menemukan kwitansi yang dimana diduga sebagai bukti transaksi ekstasy.Selain kwitansi, ada beberapa berkas yang diamankan. Berkas-berkas itu disita dari rumah mewah di kawasan Renon Denpasar Bali itu.
Di bagian lain, Wadirnarkoba Polda Bali AKBP Sudjarwoko yang dikonfirmasi melalui selulernya menyatakan, kini penyidikan dan pengembangan kasus akan menjadi atensi pihak Mabes Polri. Namun, pihaknya melakukan koordinasi intens apabila ada pengembangan kasus narkotika besar di Bali ini.
“Kami masih berkoordinasi. Sedangkan penyidikan seluruhnya di Mabes. Untuk 4 tersangka, usai ditangkap langsung dibawa ke Mabes,” ungkapnya.Sudjarwoko menjelaskan, peredaran narkotika itu berasal dari Jakarta. WI memesan ekstasy ke sejumlah orang, yang sebelumnya memang gagal disediakan.
Hingga akhirnya, mendapat dari seseorang dan dibawa dari Jakarta menuju Surabaya, hingga masuk ke Denpasar.”Untuk pengembangan lebih jauh kami menunggu perintah Mabes,” ucapnya. [rd]
