JAKARTA-JOURNALREPORTASE – Ketua Presidium Indonesia Cinta Kamtibmas (ICK) Gardi Gazarin menilai tragedi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, salah satu sebabnya karena tak siapnya aparat dalam menjaga dan mengantisipasi timbulnya gangguan Kamtibmas dari suporter fanatik.
Diketahui, tragedi berupa kerusuhan yang menelan korban tewas mencapai hampir 140 orang per malam ini yang dua orang di antaranya anggota polisi, dan kurang lebih 500 orang terluka ini terjadi usai kekalahan tuan rumah Arema FC 2-3 melawan musuh Persebaya Surabaya pada lanjutan kompetisi Liga 1, Sabtu (1/10/2022) malam.
“Ini tragedi kemanusian terbesar sepanjang sejarah sepakbola Indonesia, Kamtibmas kembali terganggu,” ujar Gardi kepada journalreportase.com, Minggu (2/10/2022).
Dikatakan, insiden berdarah itu semakin kacau saat para suporter bentrok dengan pihak kepolisian yang berupaya membubarkan hingga terjadi aksi baku hantam tak terelakkan. Situasi lapangan ibarat hukum dalam rimba.
“Siapa yang kuat menang. Ditambah lagi, situasi semakin mencekam ketika aparat kepolisian mulai memberondong gas air mata ke salah satu sisi tribun yang disesaki penonton menjadi panik, banyak terinjak-injak dan kehabisan nafas mengakibatkan puluhan tewas di dalam stadion dan lainnya menghembuskan nafas di ambulans dalam perjalanan ke rumah sakit, serta ketika sudah berada di rumah sakit,” paparnya.
“ICK sangat prihatin dan duka mendalam untuk seluruh keluarga korban secara umum tinggal wilayah Malang yang meninggal maupun luka-luka. ICK mendukung semua biaya korban diberikan pemerintah melalui Pemda Malang,” imbuh dia.
Gardi lalu bilang tragedi tersebut adalah pengalaman berharga bagi polisi ke depan untuk lebih teliti dan matang menjaga situasi Kamtibmas pada pagelaran sepakbola tanah air.
“ICK meminta Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melakukan penyelidikan intensif via gelar perkara pemicu kerusuhan serta memeriksa semua yang terlibat baik penyelenggara maupun pengaman yang ada di stadion. Walaupun Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nico Arfianto mengakui sebelum gelar event telah melakukan rapat berulang untuk keamanan kondusif. Tapi, nyatanya tragedi berdarah terjadi di luar dugaan jatuh korban jiwa ratusan orang mayoritas usia produktif. Apalagi pemicu targedi berdarah diakibatkan tembakan gas air mata dari aparat kepolisian,” jelasnya.
Situasi saat ini, lanjut Gardi, penyelenggaraan sepakbola perlu mempertimbangkan agar pertandingan sepakbola khususnya klub-klub yang memiliki suporter fanatik, kerab bentrok dan menganggu kerawanan Kamtibmas untuk digelar tanpa penonton.
“Penting dipertimbangkan, khususnya klub yang suporternya rawan gangguan Kamtibmas, rawan tawuran, rawan rusuh, untuk dilakukan pertandingan tanpa penonton. Karena kehadiran suporter Aremania saja rusuh, apalagi saat kejadian ada ‘bonek’ suporter Persebaya, maka semakin rawan,” bebernya.
“Kapolri wajib memberikan izin pertandingan tanpa penonton yang diusulkan ICK demi menjaga kondusifitas wilayah.
“Apalagi situasi Covid-19 masih ada, tidak perlu dipaksakan, gelar apa saja yang menimbulkan kerumunan apalagi ancaman keributan perlu dipertimbangkan kembali. Apalagi sepakbola adalah event rakyat di manapun dilaksanakan memiliki pengunjung fanatik,” sambung dia.
Selain itu, ICK melihat stadion dimanapun hendaknya mempertimbangkan kapasitas termasuk kuantitas pengamanan karena event besar yang dihadapkan group tangguh peringkat peringkat teratas yang memiliki suporter fanatik jangan digelar di stadion yang kurang steril dan untuk perlindungan setempat.
“Gelar sepakbola merupakan PR Kamtibmas dibutuhkan kerjasama pengamanan seluruh stakeholder sehingga peristiwa berdarah Arema FC vs Persebaya Surabaya tidak terulang di pertandingan di wilayah lain,” tutur Gardi.
Terakhir, Gardi pun menyoroti PSSI supaya berjiwa ksatria dalam menyikapi tragedi ini.
“ICK juga meminta Ketua PSSI Mochamad Iriawan alias Iwan Bule bertanggung jawab atas tragedi kelam Stadion Kanjuruhan,” tutupnya. (AY)
