JournalReportase.com,-Jakarta- Kelompok masyarakat atau putra-putri Cijantung bernama “Bravo Cijantung for Jokowi” mendeklarasikan dukungannya untuk pasangan capres dan cawapres nomor urut 01 Jokowi-Maruf Amin. Deklarasi ini sebagai simbol bahwa wilayah yang dikenal sebagai markas pasukan elite Baret Merah atau Kopassus itu tidak identik dengan Prabowo Subianto.
Deklarasi itu juga langsung dipimpin oleh Ketua Umum Persatuan Purnawirawan dan Warakawuri TNI-Polri (Pepabri), yang juga mantan DanJen Kopassus, Agum Gumelar. Agum yang menghadiri acara deklarasi itu menyambut baik dukungan dari Putra-Putri Cijantung yang tidak lain anak-anak dari pasukan Baret Merah. Agum menegaskan bahwa deklarasi ini merupakan suara hati dari masyarakat di daerah itu.
“Dalam deklarasi ini tentu Bravo Cijantung ingin mengawal dan ikut berperan dalam menghasilkan pemimpin yang memiliki rekam jejak masa lalu bersih, anti korupsi, tegas, jujur, amanah, serta dapat membuat perubahan ke arah Indonesia yang lebih baik,” ujar Agum di Rumpun Bambu restaurant, kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa (5/2).
Agum juga menekankan, kendati terdapat perbedaan pilihan, tapi itu sifatnya hanya sementara. Sebab, ketika pilpres berakhir, maka perbedaan itu tidak ada lagi. pleh karenanya ia pun meminta agar semua pihak kelak menghormati hasil keputusan pemilu.
“Itulah dewasa dalam demokrasi. Jadi kalau sekarang ada aspirasi yang berkembang di masyarakat mendukung si A atau si B, itu soal biasa di negara berkembang asas demokrasi seperti di Indonesia. Yang saya tidak ingin adalah kalau memang tidak suka pada pemerintah jangan dong lantas disalurkan dengan mendukung gerakan radikal,” himbaunya.
Agum juga menilai, perbedaan sikap dan dukungan dalam pemilu adalah hal yang wajar. Namun, perbedaan itu bukan untuk dijadikan perpecahan, seperti yang terjadi di wilayah Cijantung, Jakarta Timur, yang disebut-sebut identik hanya dengan salah satu capres saja.
“Buktinya apa? Hari ini ada kekuatan yang mendeklarasikan dan mendukung Jokowi. Kemarin ada yang deklarasi mendukung Prabowo. Itu biasa, wajar. Kita ini kan negara demokrasi,” sebutnya.
Ia juga menegaskan, semua pihak harus menaati, mengikuti segala aturan, etika, dan norma demokrasi.
“Tidak boleh menghalalkan segala cara. Ini yang ingin saya tekankan dan sudah saya tekankan,” tegas Agum.
Menurutnya, NKRI dan Pancasila adalah hasil jerih payah dari para pejuang bangsa. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. Jadi kalau ada yang berusaha mengganti NKRI, mengganti pancasila, kita tidak boleh bersikap diam. Kita harus bela NKRI, harus bela Pancasila,” ajaknya.
Lebih lanjut Agum menambahkan, sebagai ketua umum dari lembaga Pepabri, tentunya Pepabri harus bersikap netral dalam Pilpres 2019, namun setiap anggota Pepabri bebas untuk menentukan siapa yang akan didukung di Pilpres 2019.
“Saya Ketum Pepabri, saya sudah koordinasi dengan PPAD, PPAL, PPAU, Polri dan Veteran bahwasanya kita sebagai satu kelembagaan, kita akan bersikap netral, sebagai lembaga. Tapi sebagai individu, anggota organisasi punya hak memilih,” katanya kepada wartawan, Selasa (5/2).
