Journal Reportase
Breaking News

Arqam Azikin : Mau Jadi Cawapres Kesiapan Amran Sulaiman Dipertanyakan

JOURNALREPORTASE- Ramainya pemberitaan media akhit – akhir tentang kesiapan mantan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (AAS), pakar politik dan kebangsaan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Dr. Aqram Azikin di Makassar, memberikan tanggapan yang blak – blakan melalui rekaman video yang beredar luas di dunia nyata dalam hari – hari ini.

Arqam menganggap narasi tim sukses AAS yang menyimpulkan AAS adalah sosok bisa menjadi calon Wakil Presiden, dengan mengatakan, “menurut saya, ini masih butuh perdebatan karena masih banyak juga tokoh – tokoh lain yang bisa jadi perhatian Indonesia Timur”, kata Arqam dalam awal tanggapannya.

Alasannya, dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Makassar itu mengatakan, “karena ada Syahrul Yasin Limpo, ada Anies Matta, ada La Nyalla Mattalitti, ada Rachmat Gobel yang juga gambarnya sudah beredar dimana – mana”, ujar Arqam sambil berucap, “terus tiba – tiba ada lembaga yang mengklaim datanya, katanya bisa mengangkat naik posisi Anies Baswedan atau Mas Ganjar Pranowo, bila dipaketkan dengan Amran Sulaiman”. Arqam melanjutkan, “waduh terlalu dini rasanya. Analisa datanya, terlalu… apa yaa. Tidak rasionallah kalau menganalisa seperti itu”. Alasan Arqam, “kerja metodologi saja belum terukur, tinggi bawah pun tidak ada. Kok tiba – tiba bisa menjadi cawapres kuatlah, membandingkan dengan tokoh – tokoh yang lain”.

Arqam Azikin adalah tokoh muda yang berprofesi sebagai akademisi dan pengamat politik kebangsaan yang resmi menyandang gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya bertajuk “Politik Hukum Komponen Cadangan Pada Sistem Pertahanan Negara”, di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar. Selasa (27/10/2020).

Terkait kampanye masif AAS, Arqam lebih lanjut mengatakan mengatakan, “menurut saya, kerja perdana yang harus dilakukan oleh pak Amran, kalau memang mau jadi cawapres serius, pertama ganti metodologi”.
“Metodologinya digantilah. Yang berbulan – bulan saya perhatikan dari kemarin itu, enam bulan terakhir, bahkan lewat enam bulan, itu dikerjakan hanya dengan klaim, apa, link – link berita, ulasan mengangkat person, itu tidak cocok lagi dalam metodologi komunikasi politik untuk sekelas calon wakil presiden. Kalau mau jadi calon bupati, yaa mungkin bolehlah dengan cara – cara yang tidak relevan tersebut. Ini selevel mantan menteri, pak Amran harus rubah metodologi”.

“Lembaga juga diganti” ujar Arqam, akademisi asal Pare – Pare satu asal dengan BJ Habibie, kelahiran Pare – Pare 1975, Sulawesi Selatan, menegaskan, “kalau memang ada, sudah ada lembaga, karena apa yaa, berbulan – bulan saya rasa tidak ada kemajuan apa – apa, kalau mau diukur dengan rekam jejak proses untuk menuju sosok cawapres. Apalagi kalau mau dibandingkan tokoh lain, masih ada yang banyak lebih menarik. La Nyalla Ketua DPD, kemudian Rachmat Gobel Wakil Ketua DPR RI, kemudian ada pak Syahrul Menteri Pertanian dan ustadz Anies Matta, mantan Wakil Ketua DPR dan sekarang Ketum Partai Gelora”.
Dibagian akhir komentarnya, Arqam menegaskan:

“Menurut saya, pak Amran kalau serius, jangan hanya jadi konsumsi berita – berita di medsos seperti ini. Ini metode pilkada ini. Harusnya metodologinya naiklah sedikit, minimal naik dua – tiga level ke atas. Karena Pak Amran adalah mantan menteri pertanian, akan dibuka rekam jejaknya dan akan kita lihat pantaskah jadi calon Wakil Presiden Indonesia Timur. Karena tokoh – tokoh yang saya sebutkan tadi, tidak kurang juga reputasinya. Bahkan rekam jejaknya bisa ditelisik dan bisa dibandingkan dengan pak Amran”.

“Ingat, calon Wakil Presiden tidak bisa hanya mengandalkan duit dan tidak hanya mengandalkan mantan pejabat atau sekarang menjabat. Tapi lebih dari itu, harus membumi ke bawah. Metodologinya, komunikasi politiknya, komunikasi publiknya, kerja taktis politik lapangannya, jaringan – jaringan elit dan jaringan -ke bawahnya. Pokoknya masih banyak deh.
Menurut saya, data yang ada sekarang tidak layak untuk menjadi pertimbangan menjadi calon Wakil Presiden. Rubah metodologi dan lain – lain”, tegas Arqam.

Dipastikan, yang mendorong Arqam Azikin berkomentar blak – blakan soal figur AAS, karena banyaknya pernyataan oleh beberapa hasil survey di media online, yang memposisikan  seakan – akan AAS adalah tokoh tunggal Sulawesi Selatan yang paling menonjol dan pantas mewakili Indonesia Timur. 

Contohnya berita berikut ini yang menulis tanpa dasar metodologi yang jelas, bahwa “masuknya nama Andi Amran Sulaiman (AAS) di survei Fixpoll sangat wajar sebab di Indonesia timur memang sosok AAS yang menonjol dan paling siap mewakili Indonesia Timur untuk maju sebagai cawaprres 2024 nanti,” tutur Direktur Eksekutif Indeks Politica Indonesia (IPI), Suwadi Idris Amir kepada fajar.co.id, Kamis (26/8/2021).

Menurut beberapa tokoh masyarakat di Sulawesi yang tidak mau disebut namanya, hebohnya berita tentang kesiapan AAS menjadi Cawapres yang tersebar di banyak media online, itu adalah ulah tim sukses AAS. Cara mereka memuja – muja AAS yang berlebihan, tanpa disadari telah menyinggung perasaaan tokoh- tokoh lain di Sulsel.

Seolah – olah AAS adalah satu –satunya orang yang paling hebat. Padahal, absennya AAS dalam kabinet pada priode kedua Jokowi yang bersama Ma’ruf Amin (2019 – 2024), juga menjadi tanda tanya dan topik pembahasan hangat masyarakat di Sulawesi Selatan. Lagipula yang juga menjadi pertanyaan, parpol apa yang akan mengusung mantan Menteri Perrtanian itu?. Selama ini AAS diketahui bukan kader salah satu parpol. Meskipun telah berkali – kali dihub melalui no HPnya untuk dimintai konfirmasi, tapi AAS tidak menjawab.

Related posts

Patroli Simpatik Babinsa Cakung Sertu Nursalim Berikan Masker ke Warga

JournalReportase

MEMBANGUN SIMPATI UNTUK BERKOPERASI

JournalReportase

Ganjil-Genap di Gerbang Tol Tambun Resmi Diberlakukan

JournalReportase

Leave a Comment