JAKARTA-JOURNALREPORTASE- Anggota DPR RI sekaligus pendiri PT Raffles Global Angkasa (RGA)—pemilik armada kargo Black Stone Airline—Bambang Soesatyo (Bamsoet), menilai bisnis penerbangan kargo memiliki prospek besar untuk menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi nasional dan mendukung hilirisasi industri.
Hal tersebut disampaikannya dalam acara penandatanganan kerja sama penambahan dua armada pesawat kargo antara RGA dan Bank Mandiri di JB Tower Kebon Sirih, Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Penambahan dua unit pesawat Boeing 737-800SF ini memperkuat armada Black Stone Airline yang sebelumnya telah mengoperasikan enam pesawat sejak 2022. Langkah ini diambil untuk merespons meningkatnya kebutuhan distribusi barang bernilai tinggi, perdagangan elektronik (e-commerce), ekspor manufaktur, serta pengembangan kawasan industri di berbagai daerah.
”Indonesia perlu melihat penerbangan kargo sebagai bagian strategis dari infrastruktur ekonomi, bukan semata-mata sebagai bisnis transportasi. Kita membutuhkan jaringan kargo udara yang mampu menghubungkan kawasan produksi dengan pasar domestik dan internasional secara cepat, efisien, serta terintegrasi,” ujar Bamsoet.
Potensi Pasar dan Tantangan Ekosistem Logistik
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, volume kargo angkutan udara Indonesia mencapai sekitar 1,47 miliar kilogram sepanjang tahun 2025. Sementara itu, data berjalan hingga 23 September 2026 telah mencatatkan angka sekitar 1,14 miliar kilogram, menunjukkan basis permintaan yang kuat di pasar domestik maupun internasional.
Meski demikian, Bamsoet menyoroti tantangan utama industri kargo udara, yaitu menciptakan ekosistem terintegrasi yang kompetitif dibandingkan moda transportasi laut dan darat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat barang yang diangkut melalui angkutan udara domestik sepanjang 2025 mencapai 671,1 ribu ton, terhitung stagnan (naik 0,01 persen) dibanding tahun 2024.
Untuk mendorong pertumbuhan, Bamsoet menekankan pentingnya konsep door-to-door dari pintu pabrik hingga konsumen, yang didukung fasilitas pergudangan, layanan ground handling, dan konektivitas antarmoda yang optimal.
Mendukung Hilirisasi dan Model Hub and Spoke
Seiring perubahan struktur industri nasional, produk hasil hilirisasi seperti komponen elektronik, produk farmasi, otomotif, hingga hasil perikanan segar membutuhkan pengiriman sensitif waktu (time-sensitive) dengan pengendalian suhu dan tingkat keamanan tinggi.
”Hilirisasi jangan berhenti ketika bahan mentah sudah berubah menjadi barang jadi. Kita harus memastikan produk tersebut bisa bergerak cepat menuju pasar. Untuk barang bernilai tinggi, waktu adalah bagian dari nilai ekonomi,” jelasnya.
Selain memperkuat jalur utama, pengembangan kargo udara juga diarahkan untuk membangun pusat logistik di luar Pulau Jawa melalui jaringan hub and spoke. Wilayah seperti Batam, Balikpapan, Makassar, Manado, Denpasar, hingga Papua dapat dihubungkan menggunakan pesawat kargo berbadan kecil hingga menengah sebagai pengumpul (spoke) menuju hub utama sebelum diteruskan ke pasar internasional. (red)
