Journal Reportase
Daerah

TANGERANG-JOURNALREPORTASE- Sebuah rumah tipe 36 berdiri anggun di dalam kompleks Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang, Banten.

Lengkap dengan furnitur di dalamnya, unit bangunan yang tampak apik ini bukanlah fasilitas mewah untuk narapidana atau hunian petugas, melainkan unit percontohan (mock-up) rumah instan tahan gempa hasil olahan limbah abu batu bara yang diproduksi oleh warga binaan.

​Rumah berkonsep FABA Eco Green tersebut merupakan karya dari 72 warga binaan yang tergabung dalam “Jawara Beton”, sebuah unit usaha pemasyarakatan berbasis ekonomi hijau.

Komunitas ini mengolah limbah Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) menjadi material bangunan berkualitas unggul.

​Kepala Lapas Kelas I Tangerang, Beni Hidayat , menjelaskan bahwa produk ini merupakan bagian dari program unggulan “Lapasta One” untuk membina dan memberdayakan warga binaan.

Hasil produksinya mencakup batako, panel beton, panel pagar, batu paving, pemecah ombak (tetraport), hingga modul rumah instan.

​”Seluruh produk telah melalui uji laboratorium dan memenuhi standar konstruksi. Dari segi biaya, material ini jauh lebih efisien dibandingkan produk konvensional di pasaran,” ujar Beni, Selasa (8/9/2026).

​Beni menambahkan, produk unggulan Jawara Beton saat ini adalah rangka beton panel yang dilengkapi sistem sambungan plat jepit dua sisi. Sistem ini membuat struktur bangunan tak hanya kokoh, tetapi juga lentur dalam menahan getaran.

​Proses perakitan rumah tipe 36 ini terbilang sangat cepat, yakni hanya memakan waktu 8 hingga 12 jam. Berdasarkan pengujian oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), struktur bangunan ini terbukti mampu menahan getaran gempa hingga kekuatan 7,8 skala Richter.

​Kualitas ini mengantarkan Jawara Beton dipercaya menjadi pemasok material untuk pembangunan 90 unit rumah dinas Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.

Saat ini, sembilan unit rumah telah berdiri di wilayah Cikarang Barat dan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi. ​“Ke depan kami berharap bisa ambil bagian dalam program pemerintah membangun 3 juta rumah. Kami ingin menunjukkan bahwa warga binaan bisa berkontribusi nyata bagi negara,” tutur Beni.

IMPLEMENTASI EKONOMI SIRKULAR

​Dalam menjalankan unit usahanya, Jawara Beton bermitra dengan PLN Indonesia Power UBP Banten 3 Lontar di Kabupaten Tangerang.

Kemitraan ini memanfaatkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 yang mengeluarkan FABA dari daftar limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

​Untuk memenuhi kebutuhan produksi sebanyak 200 ton per bulan, Lapas mengangkut sekitar 30 ton FABA setiap kali pengiriman. Potensi ini dinilai sangat prospektif mengingat PLTU Lontar menghasilkan sekitar 150 ton limbah FABA setiap harinya.

​”Ini adalah bentuk nyata ekonomi sirkular. Limbah yang dulu menumpuk, kini menjadi produk bernilai,” tegas Beni.

​Setelah satu tahun berjalan, kapasitas produksi Jawara Beton meningkat pesat. Luas area kerja kini berkembang menjadi dua hanggar seluas 850 meter persegi, didukung oleh sembilan mesin cetak-tekan, satu unit truck crane, dan empat unit truk pengangkut. Kapasitas pengolahan FABA pun telah mencapai 10 ton per hari.

​Pemberdayaan dan Tabungan Masa Depan
​Pengembangan unit usaha ini turut membuka lapangan kerja bagi warga binaan. Jumlah pekerja meningkat dari awal mulanya 45 orang menjadi 72 orang. Mereka bekerja setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB setelah melewati proses seleksi dan pelatihan ketat.

​Upah atau premi para pekerja dibayarkan melalui Koperasi Pegawai Primer Kopasindo yang menaungi Jawara Beton. Kehadiran program ini dirasakan langsung manfaatnya oleh para warga binaan.

​Opossi Sottima (53), warga negara asal Afrika terpidana kasus narkoba yang telah menjalani separuh dari masa hukuman 14 tahunnya, mengaku bersyukur bisa bergabung. “Saya senang bisa bekerja di sini, saya bisa belajar dan menabung dari honor yang didapat,” ungkapnya.

​Hal serupa dialami Ali Nopiah, warga binaan lainnya. Dari total premi yang dikumpulkannya selama setahun bekerja di Jawara Beton, Ali telah mengirimkan Rp10 juta untuk membantu perekonomian keluarganya di rumah, sementara Rp5 juta sisanya tersimpan aman di rekening tabungannya.

​Proses pembuatan olahan beton ini dilakukan dengan mencampur FABA dan semen, menuangkannya ke dalam cetakan, memadatkannya dengan mesin vibrator, lalu mencetaknya hingga kering.

​Tak berhenti pada material rumah, Jawara Beton juga memproduksi tetraport—struktur pemecah ombak dan pelindung pantai dengan berat bervariasi mulai dari 50 kilogram hingga 1 ton.

​”Mimpi kami ke depan adalah bisa menyokong program besar pemerintah dalam pembangunan tanggul laut raksasa (Giant Sea Wall),” pungkas Beni optimis.

Related posts

Rangkaian HUT Kodaeral 2026, Kodaeral IV Gelar Bakti Kesehatan dan Bakti Sosial di Batam

redaksi JournalReportase

Pemerintah Perkuat Ketahanan Pangan Nasional, Cadangan Beras Capai 5,3 Juta Ton

redaksi JournalReportase

FSPEK-KASBI Dukung Polri Jaga Kamtibmas

redaksi JournalReportase

Leave a Comment

KLIK BAHASA BERITA»