Journal Reportase
Breaking News

Guru Indonesia di Luxembourg Digaji Rp1,6 Miliar per Tahun: Kisah Perjuangan Cristina Susilowati Menembus Sistem Pendidikan Eropa

LUXEMBOURG CITY- JOURNALREPORTASE-  Angin musim dingin yang menusuk di jalanan Luxembourg City tidak pernah benar-benar mampu memadamkan semangat Cristina Susilowati, seorang perempuan Indonesia berusia 27 tahun yang kini mengajar di sekolah dasar negeri di Luxembourg dengan pendapatan mencapai sekitar Rp1,6 miliar per tahun.

Di dalam ruang kelas yang hangat, Cristina dikenal sebagai “Madame Cristina” oleh murid-muridnya. Anak-anak dengan berbagai latar belakang budaya memanggil namanya dengan aksen khas Prancis dan Jerman, sebuah kenyataan yang dulu terasa mustahil bagi perempuan asal Jawa tersebut.

“Kadang saya masih sulit percaya bisa sampai di titik ini,” ujar Cristina saat mengenang perjalanan hidupnya.
Namun di balik angka fantastis yang kerap membuat orang terpukau, tersimpan kisah perjuangan panjang yang jauh dari kata mudah.

Tiga Tahun yang Disebut “Neraka”
Luxembourg dikenal sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik sekaligus paling kompetitif di Eropa. Untuk menjadi guru sekolah dasar negeri di negara kecil tersebut, kemampuan bahasa Inggris saja tidak cukup.

Cristina harus menguasai tiga bahasa sekaligus: Prancis, Jerman, dan Luxemburgish. “Tiga tahun pertama saya di sini benar-benar seperti neraka,” katanya.

Puluhan lamaran kerja ditolak karena kualifikasi bahasa dan sertifikasi yang belum memenuhi standar pemerintah setempat. Sambil menjalani proses penyetaraan ijazah, Cristina bekerja serabutan untuk bertahan hidup.

Ia pernah menjadi baby sitter hingga pelayan restoran dengan jam kerja panjang. Dalam sehari, ia mengaku hanya tidur sekitar empat jam. “Sisanya dipakai belajar tata bahasa Jerman, menghafal kosakata Prancis, dan berusaha bertahan hidup,” ujarnya.

Biaya hidup yang tinggi di Luxembourg membuat masa-masa itu semakin berat. Bahkan untuk membeli makanan sederhana pun sering kali harus dihitung dengan cermat.

Ada momen ketika Cristina hampir menyerah dan ingin pulang ke Indonesia. Namun ambisi untuk membuktikan diri membuatnya tetap bertahan.

Tangis di Balik Slip Gaji Pertama

Perjuangan panjang itu akhirnya terbayar ketika surat penerimaan resmi datang. Cristina diterima sebagai pengajar dalam sistem pendidikan Luxembourg, negara yang dikenal memiliki salah satu gaji guru tertinggi di dunia.
Namun saat menerima slip gaji pertamanya, reaksi Cristina justru di luar dugaan.

“Saya tidak berteriak senang. Saya malah diam dan menangis,” katanya.
Tangisan itu bukan semata karena kebahagiaan, melainkan rasa haru bercampur bersalah ketika mengingat kondisi para guru di Indonesia.

Ingatan Cristina melayang kepada guru SD-nya dulu, seorang guru honorer bernama Pak Budi yang mengajarkannya membaca meski hidup dalam keterbatasan ekonomi.

“Sepedanya sering rusak saat berangkat mengajar. Gajinya pun sangat kecil dan kadang dibayar terlambat,” kenangnya.
Ia juga mengingat banyak teman kuliahnya di jurusan pendidikan yang hingga kini harus bekerja sampingan demi memenuhi kebutuhan hidup.

“Guru Harus Dimuliakan”

Menurut Cristina, perbedaan terbesar antara Luxembourg dan Indonesia terletak pada cara negara memandang profesi guru.

“Di sini guru sangat dihormati. Pemerintah benar-benar percaya bahwa masa depan negara ditentukan oleh kualitas pendidikan,” ujarnya.

Karena itu, guru mendapat fasilitas dan penghasilan yang dinilai layak untuk hidup dengan tenang dan fokus mendidik generasi muda.

Sementara itu, Cristina mengaku masih sering merasa sedih ketika membaca berita tentang guru-guru di Indonesia yang harus mengajar di daerah terpencil dengan fasilitas minim dan pendapatan rendah.

“Hati saya sakit melihat ada guru yang harus menyeberangi sungai demi mengajar, tapi penghasilannya bahkan tidak cukup untuk hidup layak,” katanya.

Kini, penghasilan besar itu memang telah mengubah hidup Cristina. Ia dapat membantu orang tua di kampung halaman, merenovasi rumah keluarga, hingga berkeliling Eropa.

Meski demikian, satu harapan tetap ia simpan. “Saya berharap suatu hari nanti Indonesia bisa benar-benar memuliakan guru, bukan hanya lewat slogan, tetapi juga lewat kesejahteraan yang nyata,” ujarnya.

Bagi Cristina, masih banyak “Cristina” lain di Indonesia yang berjuang dalam ruang kelas sederhana dengan segala keterbatasan, namun tetap mengajar dengan sepenuh hati.

“Mereka pantas mendapatkan lebih dari sekadar ucapan terima kasih.”

 

Related posts

Resmi Dilantik Bupati Bekasi  Bergerak Laksanakan Program Prioritas

redaksi JournalReportase

Dua ABG Pelaku Pengeroyokan Yag Viral Di Medsos Diamankan Srikandi Cisadane Beserta unit Reskrim Polres Metro Tangerang Kota

Tender Pengadaan Kacamata dan Pin Dasi Senilai Rp 31,5 Miliar di Polda Metro Telah Sesuai Aturan

redaksi JournalReportase

Leave a Comment