JAKARTA – Kegagalan bersejarah Tim Thomas Indonesia yang terhenti di fase grup Piala Thomas 2026 memicu reaksi keras dari berbagai elemen, termasuk kalangan akademisi dan mahasiswa olahraga. Ikatan Mahasiswa Olahraga Indonesia (IMORI) menilai hasil buruk di Denmark tersebut merupakan alarm keras bagi tata kelola bulu tangkis nasional.
Kepala Bidang Pengembangan Prestasi IMORI, Rezal Wijaya, menyatakan bahwa kekalahan telak dari Prancis bukan sekadar nasib buruk di lapangan, melainkan indikasi adanya masalah fundamental dalam sistem pembinaan. Menurutnya, PBSI harus segera melakukan evaluasi besar-besaran yang menyentuh aspek teknis maupun manajerial.”Sebagai mahasiswa olahraga, kami melihat prestasi tidak bisa lahir dari proses yang bersifat instan atau sekadar rutinitas. Hasil di Piala Thomas 2026 adalah rapor merah yang menunjukkan bahwa inovasi dan manajemen prestasi kita sedang tertinggal jauh dari negara lain,” ujar Rezal dalam keterangan tertulisnya, Kamis (30/4).
Rezal menekankan pentingnya integrasi sport science dan transparansi dalam proses rekrutmen serta pengembangan atlet. Ia juga menyoroti perlunya kepemimpinan yang fokus sepenuhnya pada peningkatan prestasi untuk menjawab tantangan kompetisi global yang semakin presisi.”Kami menuntut adanya evaluasi besar yang transparan. Fokus utama harus dikembalikan pada bagaimana meningkatkan standar fisik, mental, dan strategi atlet melalui pendekatan ilmiah. Jika tidak ada perombakan serius dalam cara kerja federasi, sejarah buruk ini akan terus berulang,” tegasnya.
Pernyataan ini muncul di tengah gelombang kritik publik yang menuntut tanggung jawab penuh Ketua Umum PBSI atas kegagalan perdana Indonesia lolos dari fase grup sejak tahun 1958. IMORI berharap momentum ini menjadi titik balik bagi perbaikan sistem olahraga nasional, khususnya di cabang bulu tangkis yang selama ini menjadi kebanggaan rakyat Indonesia.
