Journal Reportase
PolriOpini

Polri, Setia Menjaga-Melayani

Oleh Komisaris Besar Polisi Dr. Ahrie Sonta Nasution, S.I.K, M.Si (Sekretaris Pribadi Kapolri)

Pikiran demi pikiran lepas mengalun dalam teriakan. Saat itu pula peluh keringat bercucur menyelinap, meresap celah kerah baju. Entah karena yang mana, semangat pengunjuk rasa makin membara di riuh massa dan bising ibu kota. Polri, setia menjaga-melayani.

Sejarah panjang unjuk rasa masih tak lekang merepresentasikan relasi rakyat dan pemerintahnya. Gerakan civil society walau bagaimana pun mengandung tatanan demokrasi. Dan, setiap demokrasi menempatkan ruang publik atau public sphere seperti diutarakan Jurgen Habermas sebagai medium pertemuan aspirasi dan keputusan publik.

Unjuk rasa terkadang menghadirkan sebuah seni, ketika dilihat dari kacamata Marcus Olson sebagai tindakan kolektif, isolated and independent. Kedap dan merdeka dalam memutuskan sebuah kontribusi. Irama aspirasi ini ‘suci’ dalam demokrasi. Namun, wajah lain dari tindakan kolektif ini mengidap kesulitan intrinsik berupa heterogenitas kepentingan.

Bagaimana kemudian aneka motif itu dapat menjadi tindakan kolektif, Arnold Toynbee menyebut karena mereka itu adalah ‘massa kritis’ yang mampu mempertautkan beragam kepentingan dalam satu simpul gerakan. Diantara titik keterbatasan kritis itu lah, menyelinap suatu unconsciousness, ketidaksadaran.

Namun tetap saja, simpul yang dapat digerakkan disebut mob -gerombolan- yang menyimpan aneka motif.

Seharusnya muatan utama motif itu tak lebih dari keteraturan. Sebagaimana jika kita tengok politik dari rujukan ilmunya, serupa jalan upaya untuk ciptakan keteraturan dalam hidup bermasyarakat dan bernegara.

Setiap kali unjuk rasa berlangsung dan kepolisian berada di garis depan menjaga unjuk rasa berlangsung tertib, padu padan dengan upaya yang ada di benak para pengunjuk rasa. Menjaga, jika saja ada dari sekian aneka motif itu, sebuah motif yang justru bermuatan sebaliknya.

Mob, tanpa perlu persetujuan dapat ditransformasi sebagai kekuatan yang memberi tekanan. Apa saja dapat menstimulasi transformasi itu.

Polisi dan massa berhadapan bukan untuk beradu. Tugas polisi tidak kedap dan tidak merdeka, tugas menjaga keamanan dan ketertiban itu patuh pada nilai kemanusiaan dalam demokrasi yang dijamin UU. Unjuk rasa 11 April 2022 berlangsung aman, tertib, dan kami melayani dengan humanis.***

Related posts

Cegah Gesekan di Masyarakat, Wakapolda Metro Harap Pers Konsisten Beritakan Kebenaran!

JournalReportase

Ratusan Pekerja Dapat Layanan Kesehatan Gratis dari Polresta Bandara Soetta

JournalReportase

Visi Indonesia Emas Kapolri Pastikan Siap Kawal Kebijakan Pemerintah

JournalReportase

Leave a Comment