Journal Reportase
Farmasi

Brightgene Biomedical Kucurkan Dana 580M Untuk Bangun Pabrik Obat Kanker di Karawang

JournalReportase.com, Bertempat di Karawang New Industry City (KNIC), Kamis (8/8/2019) kemarin, PT Brightgene Biomedical Indonesia dengan nilai investasi sebesar Rp 580 miliar selama 10 tahun kedepan telah melakukan groundbreaking atas pembangunan pabrik Brightgene tahap pertama diatas lahan seluas 25.000 m2 sebagai pusat produksi dan R&D Brightgene untuk obat antivirus dan antikanker, serta pabrik formulasi untuk produk sitotoksik dan hormon.

“Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar keempat di dunia dan memiliki pasar farmasi terbesar se-Asia Tenggara yang diprediksi akan mencapai nilai 10,1 miliar dolar Amerika di tahun 2021. Kami bangga menjadi salah satu pelopor produsen bahan farmasi aktif dan berharap bisa mendukung industri farmasi nasional yang mandiri dan kompetitif,” ujar Johannes Setijono, Komisaris PT Brightgene Biomedical Indonesia.

Dengan membawa pengalaman di dunia biomedis selama 20 tahun dari Suzhou Tiongkok, Brightgene mendirikan PT Brightgene Biomedical Indonesia bersama para profesional farmasi Indonesia berpengalaman agar bisa melakukan produksi obat-obatan secara lokal. Dengan demikian, Brightgene bisa menghasilkan obat dengan harga yang kompetitif yang ke depannya diharapkan bisa memberi dampak pada berkurangnya anggaran nasional untuk biaya pengadaan obat-obatan sehingga lebih terjangkau oleh para pasien di Indonesia.

“Hari ini kita menyaksikan prestasi yang luar biasa menyangkut komitmen pemerintah dalam menjamin kesehatan untuk seluruh masyarakat dan untuk menekan biaya pengadaan obat-obatan serta mengurangi obat-obatan impor. Kehadiran Brightgene Biomedical akan membantu pemerintah mewujudkan kemandirian bahan baku obat-obatan,” sebut Menteri Kesehatan, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, Sp.M (K).

Lebih lanjut Nila Djuwita F Moeloek menjelaskan, kedatangan Brightgene Biomedical sebagai produsen obat antikanker diharapkan bisa membantu pemerintah dalam menekan anggaran kesehatan nasional untuk biaya pengadaan obat-obatan sehingga lebih terjangkau oleh pasien di Indonesia.

“Kehadiran Brightgene Biomedical akan membantu pemerintah mewujudkan kemandirian bahan baku obat-obatan. Berkembangnya industri bahan baku obat akan mengurangi ketergantungan impor bahan baku obat dan membantu Rencana Aksi Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan milik pemerintah Indonesia,” Sambungnya.

Ia melanjutkan, dengan berkembangnya industri bahan baku obat, maka akan mengurangi ketergantungan impor bahan baku obat dan membantu Rencana Aksi Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan milik pemerintah.

Brightgene sendiri berharap bisa mendukung industri farmasi nasional yang mandiri dan kompetitif. Mereka yakin infrastruktur di KNIC bisa memaksimalkan pembangunan pabrik dan pusat R&D Brightgene.

“Pabrik kami akan bisa menyerap banyak tenaga kerja terutama para peneliti profesional,” jelas Johannes Setijono,

Sementara itu, Rita Endang selaku Deputi Bidang Pengawasan Obat dan Napza BPOM, menyebutkan, bahwa untuk menjaga kualitas produk bahan baku obat, BPOM mengawal supaya pemenuhan persyaratan cara pembuatan obat yang baik (CPOB) dapat diterapkan sesuai standar.

“Diharapkan produk-produk bahan baku obat (BBO) Brightgene dapat memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan ekspor,” ucap Rita Endang .

Acara groundbreaking pabrik dan pusat R&D PT Brightgene Biomedical Indonesia di KNIC disaksikan juga disaksikan oleh Menteri Kesehatan Indonesia, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, Sp.M (K), Deputi Bidang Pengawasan Obat dan Napza BPOM, Dra. Rita Endang, Apt., M. Kes., Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangun, Pemerintah Kabupaten Karawang, juga para pimpinan perusahaan.

Related posts

Program JKN Bantu Atasi Saraf Kejepit Roosdi

JournalReportase

Tiga Pilar Kelurahan Baru Amankan Distribusi Suntik Vaksin Covid-19

JournalReportase

Global Merck Edukasi Kesadaran Tentang Anemia di Asia

JournalReportase

Leave a Comment