Bamsoet apresiasi kinerja LPKR semester I 2026, bukukan pendapatan sebesar Rp3,60 triliun, turun sekitar 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp4,11 triliun.
JAKARTA-JOURNALREPORTASE- Komisaris Independen PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) Bambang Soesatyo menegaskan industri properti perlu ditempatkan sebagai salah satu pilar utama ketahanan ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Menurutnya, sektor properti memiliki efek berganda (multiplier effect) yang besar karena mampu menggerakkan lebih dari 180 subsektor industri.
Pernyataan tersebut disampaikan Bamsoet usai mengikuti Board of Commissioners Meeting PT Lippo Karawaci Tbk di Menara Matahari, Lippo Village Central Karawaci, Tangerang, Banten, Rabu (5/8/2026).
“Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, Indonesia memerlukan sektor ekonomi yang memiliki daya tahan kuat sekaligus mampu menggerakkan banyak sektor lainnya.
Industri properti memenuhi karakter tersebut. Karena itu, penguatan sektor properti harus menjadi bagian dari strategi nasional menjaga pertumbuhan ekonomi, meningkatkan investasi, sekaligus memperluas kesempatan kerja,” ujar Bamsoet.
Ia menjelaskan, ketegangan geopolitik, perang dagang, fluktuasi harga energi, perubahan iklim, hingga perlambatan ekonomi global telah memengaruhi arus investasi dan daya beli masyarakat.
Dalam kondisi tersebut, industri properti dinilai memiliki peran strategis karena mampu mendorong pertumbuhan sektor-sektor pendukung seperti semen, baja, kaca, keramik, kayu, furnitur, logistik, jasa keuangan, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menurut Bamsoet, transformasi industri properti dalam beberapa tahun terakhir juga menunjukkan perubahan signifikan. Pengembang kini tidak hanya membangun kawasan hunian, tetapi mengembangkan kawasan terpadu yang mengintegrasikan real estat, layanan kesehatan, pendidikan, dan gaya hidup dalam satu ekosistem.
“Model pembangunan seperti ini menciptakan efisiensi ekonomi, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, serta memperkuat daya saing kota-kota di Indonesia,” katanya.
Ia menilai PT Lippo Karawaci Tbk menjadi salah satu perusahaan yang konsisten mengembangkan konsep kota mandiri (integrated township) melalui berbagai proyek township, jaringan Lippo Malls, Hotel Aryaduta, serta Siloam Hospitals yang kini berkembang menjadi salah satu jaringan rumah sakit swasta terbesar di Indonesia.
Dalam kesempatan itu, Bamsoet juga mengapresiasi kinerja keuangan LPKR sepanjang semester I 2026. Berdasarkan laporan keuangan perseroan, LPKR membukukan pendapatan sebesar Rp3,60 triliun, turun sekitar 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp4,11 triliun.
Meski demikian, laba bersih perusahaan melonjak signifikan menjadi Rp385 miliar atau meningkat 179 persen dibandingkan semester I 2025 yang sebesar Rp138 miliar.
Pertumbuhan tersebut didukung capaian pra-penjualan sebesar Rp3,70 triliun dan EBITDA sebesar Rp754 miliar, naik 20 persen dibandingkan Rp627 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Posisi kas perseroan hingga akhir Juni 2026 tercatat sebesar Rp1,41 triliun.
“Hal ini menunjukkan kemampuan perusahaan menjaga pertumbuhan di tengah tantangan ekonomi,” ujar Bamsoet.
Ke depan, ia menilai daya saing pengembang tidak lagi ditentukan oleh jumlah rumah yang terjual, melainkan kemampuan membangun kawasan yang produktif, sehat, nyaman, terintegrasi, dan mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.
“Kota mandiri merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan Indonesia,” katanya.
Bamsoet juga mengingatkan bahwa industri properti akan menghadapi tantangan baru, mulai dari digitalisasi, pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence), pembangunan rendah emisi karbon, efisiensi energi, hingga penerapan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG).
Karena itu, menurutnya, perusahaan properti perlu mempercepat transformasi menuju konsep smart city yang memanfaatkan teknologi digital dalam pengelolaan energi, keamanan, transportasi, pelayanan publik, dan lingkungan.
“Saya optimistis industri properti akan terus menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, dan masyarakat perlu membangun kolaborasi yang semakin kuat agar investasi terus tumbuh, kawasan-kawasan ekonomi baru berkembang, serta manfaat pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat luas. Ketahanan ekonomi nasional akan semakin kokoh apabila ditopang sektor properti yang sehat, inovatif, dan berorientasi pada keberlanjutan,” pungkasnya.
Board of Commissioners Meeting PT Lippo Karawaci Tbk tersebut dipimpin Komisaris Utama Prof. Dr. Ginandjar Kartasasmita dan dihadiri jajaran komisaris, antara lain Theo Sambuaga, Ketut Budi Wijaya, dan Bambang Soesatyo.
Dari jajaran direksi hadir Chief Executive Officer (CEO) John Riady, Presiden Direktur Indra Yuwana, Agus Arismunandar, serta direksi lainnya.
