YOGYAKARTA- JOURNALREPORTASE- Anggota DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadikan cerutu sebagai komoditas premium berorientasi ekspor yang mampu meningkatkan devisa negara sekaligus mendorong kesejahteraan petani tembakau.
Menurut Bamsoet, Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu penghasil tembakau berkualitas dunia, dengan sentra produksi di Jember, Besuki, Deli, Lombok, Temanggung, hingga kawasan Vorstenlanden di Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Daun pembungkus (wrapper) asal Besuki, kata dia, telah lama menjadi pilihan berbagai produsen cerutu premium dunia karena memiliki karakteristik tipis, elastis, halus, dan cita rasa khas.
“Indonesia memiliki potensi menjadi salah satu pemain utama industri cerutu premium dunia. Yang perlu dibangun sekarang adalah keberanian memperkuat merek nasional, meningkatkan kualitas secara konsisten, serta mengubah orientasi dari penjual bahan baku menjadi produsen produk premium bernilai tambah tinggi,” ujar Bamsoet dalam acara PERIKHSA Bamsoet Cigar Gathering yang bekerja sama dengan BIN Cigar di Yogyakarta, Sabtu (18/7/2026).
PERIKHSA merupakan Perkumpulan Pemilik Izin Khusus Senjata Api Beladiri Indonesia, sedangkan BIN Cigar adalah salah satu produsen cerutu terbesar di Indonesia yang berlokasi di Jember, Jawa Timur, dan berdiri sejak 2013.
Bamsoet mengungkapkan, Indonesia telah dikenal sebagai salah satu eksportir cerutu dunia dengan pasar utama Jerman, Jepang, Belgia, Amerika Serikat, dan Belanda. Nilai ekspor cerutu Indonesia pada 2024 tercatat sekitar US$62,6 juta. Sementara itu, ekspor nonmigas Indonesia sepanjang 2025 mencapai US$269,84 miliar.
Ia menilai capaian tersebut menunjukkan masih terbukanya peluang untuk meningkatkan kontribusi industri cerutu terhadap devisa nasional.
Menurut Bamsoet, pengembangan industri cerutu juga berpotensi memberikan efek berganda bagi perekonomian, mulai dari meningkatnya pendapatan petani tembakau, berkembangnya industri pengolahan dan UMKM pendukung, hingga tumbuhnya sektor pariwisata berbasis perkebunan tembakau dan industri cerutu.
Ia mencontohkan sejumlah negara yang telah mengembangkan cigar tourism melalui kunjungan ke perkebunan, pabrik cerutu, museum, hingga pengalaman menikmati produk premium sebagai bagian dari ekonomi kreatif. Konsep serupa, menurutnya, dapat diterapkan di berbagai sentra tembakau di Indonesia.
“Kita harus melihat cerutu sebagai bagian dari ekonomi kreatif berbasis pertanian, industri, budaya, dan pariwisata. Ketika seluruh mata rantai ini terhubung, manfaat ekonominya akan dirasakan petani, pelaku UMKM, eksportir, daerah, hingga negara,” katanya.
Bamsoet juga mendorong pemerintah memperkuat dukungan terhadap industri cerutu melalui penyederhanaan prosedur ekspor, promosi dagang yang lebih agresif, fasilitasi sertifikasi internasional, serta penguatan riset varietas tembakau unggul. Upaya tersebut dinilai penting untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global yang semakin kompetitif.
Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga konsistensi kualitas produksi agar mampu memenuhi standar pasar premium internasional.
“Kalau kita mampu menjaga kualitas, membangun merek yang kuat, memperluas jaringan pemasaran, serta memanfaatkan setiap peluang perdagangan internasional, saya optimistis cerutu Indonesia akan menjadi salah satu ikon ekspor nasional. Tembakau Nusantara memiliki kualitas kelas dunia, tinggal bagaimana kita mengelolanya menjadi produk premium yang membawa nama Indonesia semakin dihormati di pasar global,” ujar Bamsoet.
