Journal Reportase
Nasional

Bamsoet Terima Wali Kota Gyeongsan, Bahas Kerja Sama Smart Farm, Kosmetik, dan Otomotif RI–Korea Selatan

JAKARTA -JOURNALREPORTASE- Anggota DPR RI sekaligus Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Bambang Soesatyo (Bamsoet), menerima kunjungan Wali Kota Gyeongsan, Korea Selatan, Cho Hyun-il, bersama delegasi pengusaha dari Gyeongsan Chamber of Commerce and Industry.

Pertemuan yang berlangsung di Jakarta, Kamis (9/7), membahas peluang penguatan kerja sama ekonomi antara pelaku usaha Indonesia dan Korea Selatan melalui investasi dan kemitraan di sektor smart farm, industri kosmetika, serta pembuatan spare part otomotif.

Kerja sama tersebut diharapkan mampu memperluas investasi, memperkuat transfer teknologi, membuka pasar ekspor baru, sekaligus menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan daya saing industri nasional di tengah persaingan ekonomi global yang semakin kompetitif.

“Banyak peluang yang bisa segera diwujudkan melalui kemitraan pengusaha Indonesia dengan pengusaha Korea Selatan. Smart farm akan memperkuat ketahanan pangan melalui penerapan teknologi pertanian modern, industri kosmetika membuka ruang bagi peningkatan nilai tambah sumber daya alam Indonesia, sementara sektor spare part otomotif memiliki prospek besar karena pasar kendaraan di Indonesia dan kawasan ASEAN terus berkembang,” ujar Bamsoet.

Menurut Bamsoet, hubungan ekonomi Indonesia dan Korea Selatan terus menunjukkan tren positif. Korea Selatan saat ini menjadi salah satu investor terbesar di Indonesia dengan investasi yang tersebar di berbagai sektor, mulai dari manufaktur, elektronik, otomotif, petrokimia, hingga industri berbasis teknologi.

Ia menjelaskan, nilai perdagangan bilateral kedua negara dalam beberapa tahun terakhir tetap berada di atas USD 20 miliar per tahun. Implementasi Indonesia–Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA) juga dinilai semakin memperluas peluang perdagangan, investasi, dan integrasi rantai pasok industri kedua negara.

Di sektor otomotif, sejumlah produsen asal Korea Selatan bahkan telah menjadikan Indonesia sebagai basis produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor.

“Indonesia memiliki kekuatan pada sumber daya alam, pasar domestik yang besar, serta bonus demografi. Korea Selatan unggul dalam inovasi, riset, teknologi manufaktur, digitalisasi, dan efisiensi industri. Sinergi kedua keunggulan tersebut akan menghasilkan kerja sama yang saling menguntungkan dan memperkuat posisi kedua negara dalam menghadapi persaingan ekonomi global,” kata Bamsoet.

Dalam pertemuan tersebut, salah satu fokus pembahasan adalah pengembangan smart farm yang telah menjadi salah satu keunggulan Kota Gyeongsan. Pemanfaatan teknologi seperti Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), sensor otomatis, sistem irigasi digital, hingga analisis data dinilai mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menekan biaya operasional.

Bamsoet menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk mengadopsi teknologi tersebut mengingat sektor pertanian masih menjadi penopang kehidupan jutaan masyarakat. Modernisasi pertanian juga dipandang penting untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, meningkatkan kesejahteraan petani, sekaligus menarik minat generasi muda terhadap sektor pertanian berbasis teknologi.

“Kerja sama smart farm harus diarahkan pada transfer teknologi dan peningkatan kapasitas petani Indonesia. Tujuannya agar produktivitas meningkat, kualitas hasil panen semakin baik, penggunaan air dan pupuk lebih efisien, serta regenerasi petani dapat berjalan melalui pemanfaatan teknologi digital yang semakin mudah diterapkan,” jelasnya.

Selain sektor pertanian, pembahasan juga mencakup peluang kerja sama di industri kosmetika. Bamsoet menyebut pasar kosmetik nasional terus berkembang seiring meningkatnya jumlah kelas menengah, penetrasi e-commerce, serta kesadaran masyarakat terhadap produk kecantikan dan perawatan kulit.

Menurutnya, Korea Selatan dikenal sebagai salah satu pusat inovasi kosmetik dunia melalui riset bahan aktif, teknologi formulasi, dan pengembangan produk berbasis sains. Peluang kerja sama dapat diwujudkan melalui pembangunan pabrik bersama, penelitian bahan baku alami Indonesia, pengembangan produk halal, hingga perluasan jaringan distribusi ke pasar regional maupun global.

Pertemuan tersebut juga membahas penguatan industri spare part otomotif. Indonesia merupakan salah satu basis produksi kendaraan terbesar di Asia Tenggara dengan industri komponen yang terus berkembang dan melibatkan ribuan perusahaan pemasok dalam rantai pasok otomotif nasional maupun global.

Bamsoet berharap kolaborasi dengan perusahaan-perusahaan Korea Selatan dapat mempercepat peningkatan kualitas produksi, penerapan standar internasional, penggunaan teknologi presisi, serta memperluas ekspor komponen otomotif buatan Indonesia.

Menurutnya, industri komponen juga memiliki dampak berganda terhadap pertumbuhan UMKM, penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan investasi nasional.

“Pertemuan ini diharapkan mampu mempererat hubungan Indonesia dan Korea Selatan melalui kerja sama ekonomi yang lebih produktif. Kita berharap komunikasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, dan investor terus ditingkatkan sehingga berbagai peluang investasi dapat segera direalisasikan menjadi proyek nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat kedua negara,” pungkas Bamsoet.

Related posts

Peringati Kartini Kemala Bhayangkari Gelar Lomba Lari Kartini RUN 22 April

Tugas Kemanusian Trauma Healing Ala Satgas Yonarmed-6/TMR Pasca Gempa Tsunami Bagi Warga

redaksi JournalReportase

Sinergi TNI – POLRI dan Yayasan Buddha Tzu Chi Bagikan Sembako Kepada Warga

redaksi JournalReportase

Leave a Comment