JAKARTA, JOURNALREPORTASE – Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi berbagai negara, Indonesia dinilai memiliki ketahanan ekonomi yang cukup baik. Pengamat ekonomi Yoega Diliyanto menilai kondisi tersebut ditopang oleh besarnya peran pasar domestik, pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga, serta berbagai kebijakan yang mendorong pemerataan ekonomi. Berikut petikan wawancaranya.

Kalau kita melihat situasi global yang masih tidak menentu, indikator apa yang menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia memiliki fondasi yang kuat dan cukup tahan menghadapi gejolak?
Yoega Diliyanto: Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang cukup kuat karena sekitar 85 persen Produk Domestik Bruto (PDB) ditopang oleh ekonomi domestik. Dari angka tersebut, sekitar 53 persen berasal dari konsumsi rumah tangga. Struktur ini membuat Indonesia relatif lebih kuat menghadapi guncangan ekonomi global dibandingkan negara yang sangat bergantung pada ekspor.
Banyak yang menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap stabil karena kebijakan makro yang dijalankan pemerintah. Seberapa besar dampaknya terhadap daya beli masyarakat?
Yoega Diliyanto: Pada triwulan I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,61 persen. Memang masih ada pandangan bahwa pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya dirasakan masyarakat bawah. Namun, jika melihat indikator lain seperti penerimaan pajak, terdapat peningkatan sekitar 22 persen secara tahunan hingga akhir Mei 2026. Kenaikan itu terjadi pada berbagai komponen, termasuk PPN, PPh Pasal 21, dan PPh Badan. Hal ini menunjukkan aktivitas konsumsi dan kegiatan ekonomi masih bertumbuh.
Investasi besar terus masuk ke Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Seberapa optimistis Anda terhadap prospek pertumbuhan ekonomi ke depan?
Yoega Diliyanto: Saya cukup optimistis tren pertumbuhan ekonomi masih dapat berlanjut. Harapannya, belanja pemerintah mampu menciptakan multiplier effect yang signifikan dan sekaligus menjaga iklim investasi tetap kondusif. Hal ini penting untuk menjawab keraguan publik terhadap kontribusi belanja pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Pemerintah juga mendorong berbagai program ekonomi kerakyatan, termasuk bantuan sosial dan penguatan UMKM. Bagaimana efektivitas program tersebut dalam mengurangi kesenjangan?
Yoega Diliyanto: Negara memang tidak hanya bertugas mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan pemerataan. Langkah-langkah seperti bantuan sosial, penguatan UMKM, dan berbagai program pemberdayaan masyarakat penting untuk menekan kesenjangan ekonomi, baik antarwilayah maupun di dalam suatu daerah. Upaya ini merupakan bagian dari mewujudkan keadilan sosial.
Hilirisasi sumber daya alam menjadi salah satu agenda utama pemerintah. Bagaimana kebijakan ini dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat?
Yoega Diliyanto: Hilirisasi penting karena dapat meningkatkan nilai tambah dari sumber daya alam yang dimiliki Indonesia. Dengan adanya industri pengolahan dan manufaktur di dalam negeri, akan tumbuh pula berbagai sektor pendukungnya. Selain meningkatkan penerimaan negara melalui pajak, hilirisasi juga berpotensi memperkuat cadangan devisa karena produk yang dihasilkan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan bahan mentah.
Di era digital saat ini, langkah apa yang menurut Anda paling penting untuk membantu pelaku usaha kecil naik kelas?
Yoega Diliyanto: Banyak hal yang bisa dilakukan. Misalnya memastikan ketersediaan rantai pasok bahan baku, membantu petani meningkatkan produktivitas melalui teknologi, pelatihan, dan pendampingan, serta memperbaiki infrastruktur. Selain itu, dukungan pemasaran juga penting agar produk pertanian maupun UMKM dapat terserap pasar dengan baik.
Di tengah upaya memperkuat ekonomi, bagaimana Anda melihat dampak demonstrasi terhadap iklim investasi?
Yoega Diliyanto: Demonstrasi merupakan bagian dari kebebasan menyampaikan pendapat yang harus dihormati dalam demokrasi. Namun, aksi tersebut perlu berlangsung secara tertib agar tidak berkembang menjadi kondisi yang berkepanjangan dan menimbulkan ketidakpastian. Stabilitas yang terjaga akan membantu mempertahankan kepercayaan investor terhadap Indonesia.
Sejumlah pelaku usaha mengeluhkan terganggunya aktivitas ekonomi akibat penutupan jalan saat demonstrasi. Bagaimana pandangan Anda?
Yoega Diliyanto: Jika suatu aksi sampai menghambat aktivitas ekonomi secara signifikan, tentu perlu menjadi perhatian bersama. Namun, yang terpenting adalah memastikan ruang demokrasi tetap berjalan dengan baik sekaligus menjaga kepentingan masyarakat luas. Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam demokrasi.
Ada pandangan bahwa isu ekonomi kerap menjadi bagian dari dinamika politik. Bagaimana sebaiknya masyarakat menyikapi kondisi tersebut?
Yoega Diliyanto: Dalam demokrasi, setiap pihak memiliki hak untuk menyampaikan pandangan. Namun, proses demokrasi juga harus berjalan secara tertib agar pemerintahan yang terpilih melalui proses elektoral dapat menjalankan program-programnya secara efektif. Stabilitas dan partisipasi publik perlu berjalan beriringan.
Apa pesan Anda terkait pentingnya menjaga stabilitas nasional di tengah berbagai tantangan global?
Yoega Diliyanto: Indonesia memiliki sumber daya alam yang besar, posisi geografis yang strategis, serta kekayaan budaya yang luar biasa. Karena itu, kita perlu menjaga persatuan dan mengelola perbedaan secara bijak. Penguatan ekonomi, kemandirian pangan dan energi, serta kapasitas pertahanan menjadi faktor penting agar Indonesia mampu bersaing dan berperan lebih besar dalam percaturan global. Semangat Bhinneka Tunggal Ika harus terus menjadi landasan dalam menjaga persatuan bangsa. ***
