Gorontalo – Pelaksanaan Pekan Nasional Petani dan Nelayan (PENAS) XVII tahun 2026 di Gorontalo dinilai tiba saat tiba akal dan ibaratnya seseorang yang hanya mempercantik tampilan muka saja namun dibagian tubuh lainnya terabaikan.
Pasalnya, saat ini dilokasi Penas yang dipusatkan di ibu kota Kabupaten Gorontalo itu mulai nampak beberapa pekerjaan dan perbaikan infrastruktur seperti, persawahan yang mulai diubah menjadi demplot, saluran air dan jalan rusak yang sebelumnya tidak diperhatikan mendadak mulai diperbaiki.
Bahkan beberapa rumah yang sebelumnya terlihat kumuh di sekitar lokasi Penas mulai dipercantik namun lebih dari itu, perbaikan infrastruktur dinilai hanya dilakukan disekitar pelaksanaan kegiatan saja namun menganaktirikan pembangunan yang di wilayah kabupaten lainnya sebut saja wilayah Boliyohuto Cs yang saat ini akses jalan pertanian rusak parah dan tidak pernah dilirik oleh pemerintah.
Namun jika dilihat jalan-jalan yang saat ini diperbaiki di sekitar lokasi Penas jalan yang sebelumnya dikerjakan bersamaan dengan yang ada di wilayah Boliyohuto yang sumber anggaran melalui Dana Pinjaman Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).
Olehnya berkaitan dengan pembangunan pilih kasih ini pelaksanaan kegiatan Penas disoroti, wakil koordinator pusat Forum Mahasiswa Nusantara (FMN) Rizal Agu menyebutkan bahwa Gorontalo belum layak menjadi tuan rumah Penas karena masih banyak yang tidak bersesuaian dengan kondisi yang ada saat ini.
“Berkaitan dengan pertanian masih banyak petani gagal panen juga nelayan yang masih kesulitan bahkan pembangunan infrastruktur yang hanya mengerjakan yang sebenarnya masih bisa dilalui oleh kendaraan tapi mengabaikan kerusakan jalan di wilayah lainnya,” ujar Rizal.
Disebutkan juga bahwa apa yang dilakukan oleh pemerintah Provinsi dan Kabupaten saat ini hanya sangat melukai hati masyarakat di wilayah lainnya yang sangat kesulitan hasil panen dan akses jalan namun pemerintah hanya sibuk membuat demplot dan perbaikan jalan yang sebenarnya masih banyak.
“Kami melihat beberapa jalan di wilayah kabupaten yang sebenarnya masih layak mulai diperbaiki padahal masih ada di wilayah lainnya jalan yang bahkan tidak pernah diperbaiki,” tandasnya..
“Pemerintah jangan hanya menghamburkan anggaran pada satu kegiatan saja namun tidak memperhatikan kesulitan rakyat di wilayah lainnya, perlu diingat bahwa Petani dan Nelayan bukan hanya di Limboto tapi juga ada di wilayah lainnya,” tambah dia.
Rizal juga menyampaikan bahwa bukan hanya permasalahan kesiapan tapi banyaknya konflik Pertanian dan nelayan di Gorontalo yang tidak bisa di selesaikan oleh pemerintah, salah satunya danau limboto.
“Gorontalo tidak layak jadi tuan rumah Penas karna dari segi kesiapan yang amburadul, di tambah juga terlalu banyak masala pertanian dan nelayan yang tidak bisa di selesaikan oleh pemerintah, salah satunya masalah danau limboto yang kita kenal tempat nelayan kabupaten gorontalo beradu nasib, hari ini itu menuai banyak masalah yang tak kunjung di selesaikanoleh pemerintah, bebernya.
Lebih lanjut Rizal berharap bahwa lebih baik Pemerintah membatalkan saja kegiatan penas tersebut dari pada menimbulkan citra buruk bagi Gorontalo
“Saya sarankan pemerintah membatalkan saja agenda yang hahya buang-buang anggaran ini dari pada Gorontalo, menjadi buah bibir di daerah lain akibat kesiapan yang tidak matang,” pungkasnya.
