Journal Reportase
Sastra

Yaa Tuhan, Becanda-Mu Kenapa?

Aku yang miskin kosakata,
Bahkan untuk menuang tinta.

Para pelawak kalah lucu oleh negara,
Yang tiap hari nambah jadi lucunya.

SDM nya di jual,
SDA nya di obral.

Bencana manusia Aceh-Sumatera buat sesak negeri,
Ibu Pertiwi dihajar kanan kiri,
Oleh hujan Oligarki.

Sial dan bengis,
Iblis cuma numpang eksis.

Sebelas warga adat dipenjara,
Karena membela tanah adatnya.

Apa nonton demo bisa jadi tersangka?
Gimana mereka yang cari—makan berjualan disana?
Ikut diperiksa,
Atau malah jadi tersangka?

Ini terjadi di semua belahan desa Konoha.

Ratusan Tapol bernapas dalam jeruji sesak,
Dengan proses yang abstrak.

Diantaranya sebelas Tapol di bungkam,
Tubuhnya dihujam.

Masih sangat basah luka lama,
Ditambah luka baru di depan mata.

Lagi. Proses hukumnya becanda.

Oh Tuhan,
Ini bukan becanda-Mu sepenuhnya kan?

Masakan Bini Gua—MBG tetap laku di jual,
Sampe nunggu comeback nya Dajjal.

Sedangkan. Kesehatan tak dikasih kesempatan penuh untuk pulih.

Tumpukkan Anak Tidak Sekolah, sebab Ekonomi, dan birokrasi enjelimet yang tagih-menagih.

Bocah SD mengakhiri hidup dengan sadar,
Dengan keluguan batin penuh ringkih.

Menyisakan kesunyian sakit yang amat pedihh.

Di bawah sistem kesehatan dan pendidikan yang ditindih.

Kebebasan berekspresi jadi mual dan manipulasi.

Onani kekuasaan,
Kecanduan mengadili dirinya sendiri.

Apa susahnya sih minta maaf?
Ngaku gitu, kalo kalian salah dan khilaf.

Tuhan.
Aku percaya Engkau adalah sumber segala kuasa,
Dari segala yang disebut kekuasaan.

Sadarkah Engkau?
Sedang ada percobaan menyaingi kuasa-Mu.

Atau. Ini bagian dari kekuasaan-Mu juga?

Mungkin itu tak semuanya opini,
Atau kesengajaan yang dibuat seolah tragedi.

Atau. Aku saja yang terlalu banyak meminta?

Related posts

Nak. Tetap hidup ya !

JournalReportase

Leave a Comment