JAKARTA, JOURNALREPORTASE – Di tengah laju pembangunan kota yang kian masif, isu kerusakan lingkungan tak lagi sekadar wacana, melainkan realitas yang mulai berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Kondisi ini mendorong lahirnya berbagai inisiatif baru, salah satunya melalui pendekatan bisnis yang mengintegrasikan kepentingan ekologi.
Fenomena berkurangnya ruang hijau, meningkatnya betonisasi, serta menurunnya kualitas udara menjadi tantangan yang dihadapi banyak kota besar.
Dampaknya tidak hanya terlihat pada perubahan lanskap, tetapi juga pada meningkatnya risiko bencana seperti banjir hingga gangguan kesehatan, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Berangkat dari kondisi tersebut, pengusaha Hizrah Maulana meluncurkan PT Bandar Pohon Indonesia sebagai upaya menghadirkan solusi berbasis lingkungan dalam konteks pembangunan modern.
Menurut Hizrah, kesadaran terhadap pentingnya keseimbangan alam semakin menguat sejak pandemi COVID-19, ketika kualitas udara dan kesehatan pernapasan menjadi perhatian utama.
“Momen itu menyadarkan saya bahwa ada yang salah dengan cara kita memperlakukan alam. Ketika udara menjadi sesuatu yang sulit didapat, kita harus mulai bercermin,” ujarnya.
Ia menilai, krisis lingkungan saat ini tidak bisa lagi dipandang sebagai ancaman jangka panjang. Kerusakan pada elemen dasar seperti tanah, hutan, air, dan udara telah terjadi dan memerlukan respons konkret.
Dalam praktiknya, PT Bandar Pohon Indonesia menawarkan pendekatan yang lebih aplikatif dengan mendorong masyarakat untuk mulai menghadirkan ruang hijau dari skala terkecil, termasuk di lingkungan tempat tinggal.
“Kita perlu menyediakan ruang untuk tanah bernapas, untuk air meresap, dan untuk pohon tumbuh. Tidak semua harus tertutup beton,” kata Hizrah.
Pendekatan ini sekaligus menjadi kritik terhadap pola pembangunan konvensional yang cenderung mengabaikan aspek keberlanjutan. Ia menekankan bahwa rumah dan kawasan hunian semestinya tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem yang lebih luas.
Selain itu, kehadiran perusahaan ini juga diarahkan untuk membangun kesadaran kolektif bahwa upaya menjaga lingkungan tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah atau kelompok tertentu.
Peluncuran PT Bandar Pohon Indonesia dinilai menjadi salah satu contoh bagaimana sektor swasta mulai mengambil peran dalam menjawab tantangan lingkungan, dengan menggabungkan aspek bisnis dan keberlanjutan.
Di tengah arus urbanisasi yang terus berkembang, model seperti ini dipandang berpotensi menjadi alternatif dalam menciptakan keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian alam. ***
