Depok,Journalreportase, – Sejak dibuka untuk publik pada 2009, Palakali Creative Space Art & Gallery di Tanah Baru, Depok, hadir karena kegelisahan pendirinya melihat minimnya ruang bermain anak sekitar. Tempat ini merupakan edukasi lingkungan yang menghadirkan seni, kreativitas, dan kesadaran ekologis yang mengubah limbah menjadi seni secara gratis.
Palakali lahir dari keprihatinan pasangan seniman Ary Okta dan suaminya terhadap minimnya ruang bermain bagi anak-anak sekitar. “Dulu anak-anak sepulang sekolah hanya berjalan di pinggir jalan karena tidak ada ruang aktivitas. Dari kegelisahan itu kami membuka Palakali pada 2009,” ujarnya.
Lahan yang awalnya tak termanfaatkan berubah menjadi tempat yang memberi ruang bagi kreativitas dan pertemuan masyarakat.
Seiring berkembangnya, Palakali memperkuat diri sebagai ruang kreatif ekologis. Di sini, limbah tidak dianggap sebagai masalah semata, tetapi sebagai bahan yang dapat diubah menjadi karya. Berbagai jenis sampah non-organik seperti plastik mika, botol, kardus, kaca, kaleng, hingga kemasan jajanan dikumpulkan dari aktivitas harian pengelola dan staf, lalu dicuci, dipilah, dan disimpan di wadah pemilahan khusus. Proses tersebut menjadi tahap awal sebelum limbah diolah menjadi barang fungsional seperti tote bag, dompet, tas laptop, wadah penyimpanan, hingga furnitur dan ornamen interior. Hasilnya dipajang dengan rapi di galeri, menunjukkan bagaimana sampah bisa berubah menjadi karya yang bermakna.
Namun bagi Ary Okta, misi Palakali tidak berhenti pada mendaur ulang. Ia menegaskan bahwa konsep utama yang ingin diperkenalkan adalah mengurangi dan menolak sampah sejak awal. “Kami ingin menguatkan pesan reduce dan reuse. Recycle itu langkah terakhir ketika limbah sudah terlanjur ada,” tegasnya.
Ia berharap pengunjung mulai membiasakan diri membawa botol minum, wadah makan, dan menghindari penggunaan stereofoam atau kemasan sekali pakai.
Palakali kini berkembang menjadi ruang dengan fasilitas lengkap. Galeri seni menampilkan karya instalasi dan lukisan hasil proses kreatif para seniman. Di sudut lain, pengunjung dapat menemukan laboratorium seni tempat pelajar dan komunitas belajar mengelola limbah. Ada juga mini library yang menyediakan berbagai buku bertema seni dan lingkungan. Dalam bangunannya yang sebagian besar mengusung konsep reuse dan recycle, tersedia juga area self workshop di mana pengunjung bebas mencoba membuat karya kecil dari material sisa.
Menambah kenyamanan, sebuah kafe berdesain industrial daur ulang hadir di tengah area. Menu yang ditawarkan sangat terjangkau, mulai di bawah Rp20 ribu, sehingga menjadi tempat favorit pelajar dan mahasiswa yang datang untuk bersantai setelah workshop. Mushola bersih juga disediakan, memudahkan pengunjung beraktivitas tanpa harus keluar dari area Palakali.
Bagi banyak pengunjung, Palakali menawarkan pengalaman yang menyenangkan sekaligus membuka wawasan. Miftahul Jannah, salah satu warga Sawangan, datang karena penasaran setelah mendengar tentang galeri daur ulang tersebut. “Saya penasaran dengan art-art disini dan terkenal karena mengubah sampah jadi karya seni. Tertarik juga sama produknya lucu-lucu, kreatif, dan bagus untuk foto-foto Instagram,” ujarnya.
Dirinya mengaku sangat terkesan dengan lukisan-lukisan yang dipajang, serta deretan pouch dari plastik bekas yang menurutnya sangat menarik. “Spot galeri paling saya suka, banyak karya seni bagus dari anak bangsa,” tambahnya.
Meski begitu, Ary Okta menyadari bahwa sebagian besar pengunjung masih memaknai Palakali sebagai tempat daur ulang semata. Padahal, misi utama yang ingin ia kuatkan adalah membangun kesadaran untuk meminimalkan sampah sebelum dikelola. “Yang paling sulit adalah mengubah pola pikir. Bila ada yang bilang setelah dari sini mereka mulai membawa botol sendiri, itu sudah pencapaian besar bagi kami,” ungkapnya.
Sejak dibuka untuk publik, Palakali menjadi ruang belajar yang inklusif. Banyak sekolah datang untuk mengadakan kunjungan edukatif, mahasiswa menjadikannya lokasi penelitian atau observasi, dan komunitas seni menggunakan tempat ini sebagai ruang berproses. Para pengunjung yang sekadar ingin menikmati suasana kreatif pun merasa betah, karena Palakali tidak hanya menghadirkan karya seni, tetapi juga menghadirkan ruang yang hidup, ramah, dan mengajak siapa pun untuk peduli pada lingkungan.
Dengan fasilitas yang lengkap, kegiatan yang variatif, dan akses gratis untuk publik, Palakali Kreatif menjadi salah satu tempat yang berhasil menggabungkan seni, kesadaran ekologis, dan edukasi dalam satu ruang yang intim dan inspiratif. Di tengah persoalan sampah dan minimnya ruang edukasi ramah lingkungan, Palakali hadir sebagai pengingat bahwa perubahan bisa dimulai dari ruang kecil yang dikelola dengan cinta dan kepedulian. *(Aisyah Ayuningtyas)*
