journalreportase.com, Ati Raja adalah Film besutan Persaudaraan Peranakan Tionghoa Makassar dan 786 Production yang berlatar budaya kehidupan kaum etis Tionghoa peranakan yang bergaul harmonis dengan masyarakat Makassar.
Film Ati Raja sendiri merupakan film yang berkisah tentang kehidupan penyair dan musisi Ho Eng Dji (1906-1960).
“Ho Eng Djie ini adalah sosok peranakan Tionghoa, lewat karya (lagu)nya, ia berusaha menyampaikan beragam pesan moral seperti toleransi dan cinta,” sebut sutradara Shaifuddin Bahrum di Losari Roxy Hotel, Jakarta, Rabu (30/10/2019).
Ati Raja sendiri memiliki arti kebesaran jiwa, yang adalah judul dari salah satu lagu ciptaan Ho Eng Dji (HED), sosok penyair dan musisi Makassar yang wafat pada 1960. Berlatar budaya Tionghoa, Ho Eng Dji menjadi sosok yang meleburkan sekat-sekat etnik dalam masyarakat di Makassar.
“Sungguh HED adalah sosok seniman dan budayawan utama di masanya. Bahkan setelah kemerdekaan, hingga kini karya-karyanya tetap abadi,” sebut Ancu Amar, selaku produser film Ati Raja, dalam jumpa pers di Losari Roxy Hotel , Rabu (30/10).
Sementara itu Ancu Amar yang juga turut menulis skenario film Ati Raja, mencoba mengenang kembali kisah perjalanan hidup HED, termasuk karya syair-syair lagu yang bicara tentang kearifan lokal, toleransi dan cinta.

“Sayang kesuksesannya di bidang musik dan budaya, rupanya tidak semulus hidupnya. Hampir semua karya HED diberangus oleh pencabutan hak cipta, lalu menjadikannya sebagai karya NN (No Name) sampai kini,” beber Ancu.
Daeng Udin sapaan akrab dari sutradara Shaifuddin Bahrum menyebutkan bahwa selain lagu Ati Raja, lagu-lagu ciptaan Ho Eng Dji yang terkenal dan dikenang hingga kini, seperti Sailong, Dendang dendang, dan Amma Ciang, yang semakin mengukuhkan dirinya sebagai musisi dan pencipta lagu hingga akhir hayatnya,
“Ho Eng Dji adalah pencipta lagu Ati Raja yang sangat populer di Sulawesi Selatan, scbuah lagu yang sarat makna, yakni sebagai ucapan rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa, “ ujar Daeng Uddin.
Film Ati Raja sendiri rencananya akan tayang di bioskop pada`7 November bersamaan dengan perayaan menyambut Hut Kota Makassar yang ke-412, ini diharapkan bisa menginspimsi anak muda zaman Now.
“Film ini mengambil lokasi syutig di daerah Makassar, Barru , Pare-pare dan Gowa yang masih asri kala itu,” kata Daeng Uddin.
Daeng Uddin juga menyampaikan bahwa, pribadi Ho Eng Dji merupakan sosok seniman dan budayawan utama pada masanya, bahkan hinggo kini karya-karyanya tetap abadi.
Sementara itu Dr. Sjamsul Lussa, anggota LSF dan pengamat Bugis Makassar, menyambut baik film ini.
“Film ini harus kita dukung karena secara keseluruhan film ini mengandung nilai budaya, “ ajaknya.
Menurut Sjamsul, Ati Raja adalah lagu wajib di Kampus Universitas Hasanuddin. “Setiap wisuda, lagu ini pasti diperdengarkan, sungguh luar biasa, “ sambungnya.

Sjamsul mengaku tidak tahu penciptanya, tapi setelah tahu kalau pencipta lagu Ati Raja adalah Ho Eng Dji, ia mengapresiasi dan sangat menaruh hormat.
“Film ini patut ditonton karena Ati Raja bukan hanya milik Makassar, tapi juga nasional, bahkan dunia karena mengandung makna yang universal tentang nilai kemanusiaan yang memang kita semua harus junjung tinggi, “ jelas Sjamsul Lussa.
Film yang skenarionya ditulis oleh Ancu Amar, Yudikatif Sukatanya dan Shaifuddin Bahrum ini didukung sederet artis seperti Fajar Baharuddin (sebagai Ho Eng Dji), Jennifer Tungka (sebagai Soang Kie), Stephani Vicky Andries (sebagai Ho Eng Gwee), Chesya Tjoputra (sebagai Yang Tju), Goenawan Monoharta (sebagai Papa Ho Eng Dji), Yatti Lisal (sebagai Mama Ho Eng Dji), Zulkifli Gani Otto (sebagoi Gubernur Belanda), serta Noufah A. Patajagi, Saenab Hasmar, Agung Iskandar, Wandy, Syahriar Tato, dan Kiki Hehanusa.
