JAKARTA-Tentara Nasional Indonesia (TNI) menggelar “Doa Bersama HUT Ke-74 TNI dan Untuk Pahlawan Revolusi”.
Doa berasama yang dihadiri KSAL Laksamana Siwi Sukma Adji mewakili Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan sejumlah pejabat teras Mabes TNI di Plaza Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (30/9/2019), juga dihadiri Wakapolri Komjen Pol Aridono dan pejabat utama mabes Polri.
Doa bersama digelar secara serentak di tempat tempat lain, agama Islam di Lapangan Plaza Mabes TNI, agama Kristen Protestan di Gereja Bukit Kasih, agama Kristen Katolik di Gereja Bunda Maria Fatimah dan agama Hindu di Pura.
Tujuan doa bersama itu adalah memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk kesuksesan dan kelancaran rangkaian pelaksanaan Upacara HUT Ke-74 TNI yang akan dilaksanakan di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur pada Sabtu (5/10/2019), serta untuk Pahlawan Revolusi yang gugur di Lubang Buaya, 30 September 1965.
Acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan shokat Magrib berjemaah dengan tausiyah yang dipimpin oleh Maulana Habib Lutfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya. Sedangkan dzikir dan doa dipimpin oleh KH. Muhammad Musthofa Aqil Siroj.
Kasal Siwi Sukma Adji yang membacakan pesan tertulis Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyampaikan doa bersama dalam rangka HUT ke 74 TNI sekaligus mengingat kembali jasa-jasa para pahlawan bangsa yang rela mengorbankan jiwa raganya demi merah putih.
“Doa bersama ini sesungguhnya tidak hanya ditujukan kepada TNI yang berulang tahun pada 5 Oktober, tetapi lebih luas lagi kita berdoa bagi bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia tercinta ini,” kata Panglima TNI.
Karena menurut Panglima, Persatuan dan Kesatuan Bangsa akan membawa kepada kejayaan Indonesia. Lebih lanjut Panglima mengatakan, akhir-akhir ini sangat terasa tantangan demi ta tantangan yang dihadapi sekarang ini semakin rumit.
Berbagai bencana dan peristiwa bertubi-tubi dialami Negara ini. Gempa bumi letusan gunung berapi kekeringan kebakaran hutan dan lahan, kerusuhan di Papua dan Papua Barat Demonstrasi yang berujung kerusuhan Pilkada serentak dan pemilu dan sebagainya
“Kehidupan berbangsa dan bernegara sedang menghadapi cobaan usia 74 tahun ternyata belum cukup dewasa untuk kita saling menghargai dan menghormati menyadari perbedaan,”kata Panglima TNI
Padahal, menurut Panglima TNI perbedaan merupakan kekuatan untuk saling bahu-membahu dalam pembangunan. Hadi menuturkan, Pendiri bangsa ini sesungguhnya sudah menyadari hal tersebut dengan perbedaan ini sehingga menjadikan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan sebagai bagian dari komponen bangsa memiliki kewajiban untuk bersinergi dengan komponen lainnya.” Kita harus bersama-sama memanfaatkan setiap potensi yang ada untuk kesejahteraan rakyat dan kemajuan bersama tidak boleh ada yang tertinggal kan dan terpinggirkan,”ucapnya.
Indonesia lanjut Panglima TNI adalah negara yang besar. Indonesia punya segala-galanya, kekayaan alam yang melimpah penduduk yang besar serta keanekaragaman yang begitu banyak.
Untuk itu, Panglima berharap, melalui doa bersama ini Tuhan yang Maha Kuasa memberikan berkahnya kepada bangsa dan negara Indonesia.
“Juga semoga TNI dapat melaksanakan setiap tugas pokok yang telah dipercayakan kepada oleh rakyat Indonesia semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencintai seluruh langkah perjuangan kita Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai,”tutup nya.
