Journal Reportase
Seleb

Horas Amang, Lembutnya Kasih Bapa yang Menghancurkan Kerasnya Ego ketiga Anaknya

journalreportase.com, Prinsip teguh yang dipegang orang batak jelas tersirat lewat lagu yang berjudul Anakkon Hi Do Hamoraon Di Au (anakku adalah hartaku) ciptaan Nahum Situmorang yang pernah dipopulerkan oleh penyanyi Victor Hutabarat.

Sepertinya kita semua sepaham dengan judul lagu diatas bahwa anak sejatinya memang adalah harta sesungguhnya buat orang tua. Hal ini menjadi bukti bahwa dalam budaya batak, sekeras apapun kehidupan yang dijalani, orangtua akan berjuang asalkan anak-anaknya bisa sekolah supaya kelak menjadi sukses.

Walau ketika sukses kerapkali anak-anak lupa akan akar dan silsilah budaya tanah leluhurnya termasuk didalamnya melupakan norma dan adab kesopanan.

Penggalan kisah ini nampaknya menjadi garis besar dari alur cerita Film ‘Horas Amang’ tiga bulan untuk selamanya yang mengambil latar di Desa Purba Dolok Simalungun, dan Museum Huta Bolon, Pulau Samosir.

Kendati berlatar budaya Batak, namun film drama keluarga ini tetap bisa dinikmati oleh penonton dari manapun karena sarat oesan moral. Hal tersebut sebagaimana diungkapkan sang produser Asye Berti Saulina Siregar saat press conference film Horas Amang di Epicentrum, Jakarta Selatan, Senin (23/9).

“Film ini sebenarnya sangat universal, hanya judulnya saja yang bahasa Batak, dan kebetulan para pemainnya juga mayoritas orang Batak. Di film ini sesungguhnya menekankan bagaimana sejatinya kasih seorang Bapak yang sayang sama anak-anaknya. Lewat kelembutan kasih Bapak (Amang) tersebut, dia mencoba mengembalikan norma, adab sopan santun dan kecintaan atas tanah leluhur pada ketiga anaknya yakni Maruli (Tanta Ginting), Tarida (Novita Dewi) dan Dame (Dendi Tambunan),” jelas Asye Berti selaku Excutive Produser Film Horas Amang.

Asye Berti pun menuturkan bahwa film yang diproduserinya ini ingin dipersembahkan untuk seluruh anak-anak di Indonesia (khususnya orang batak) dan siapapun yang merasa masih memiliki Ayah.

“Saya mengajak semua keluarga untuk menonton film ini, terutama orang-orang Batak yang berada di manapun. Film ini sarat akan pesan moral yang luar biasa, jadi jangan dilewatkan begitu saja,” ujar Asye Berti.

“Saya yakin ketika keluar dari ruang bioskop setelah menyaksikan film ‘Horas Amang’, bakal terjadi kebersamaan antar anggota keluarga,” katanya lagi.
Lebih lanjut, Asye Berti mengutarakan jika Horas Amang, yang disutradarai Steve Wantania, bercerita tentang seorang Ayah yang luar biasa yang memegang teguh prinsip kebudayaan serta nilai-nilai moral yang menginginkan ketiga anaknya juga memiliki prinsip hidup tanpa terkontaminasi oleh kehidupan ‘materi’ sehingga diharapkan menjadi anak yang bermanfaat. Bukan hanya memikirkan kemandirian atau pendidikan sang anak, sang Ayah juga memikirkan bagaimana ketika anaknya jauh dari orang tuanya tetap bisa menjadi anak yang berbudi, beradab, rendah hati, tidak sombong, tidak mata duitan dan mau menghargai orang lain,” sambungnya.

Dalam film garapan rumah produksi Prama Gatra Film, Tanta Ginting berperan sebagai Maruli, anak kedua dari Amang yang diperankan oleh Cok Simbara.

“Di sini gue berperan sebagai Maruli. Gue anak kedua dari Amang. Film ini tentang keluarga, fokusnya dengan ayah yang ingin menunjukkan cintanya kepada anaknya. Soalnya bapak orang Sumatera itu sangat berprinsip dan gak mempan walau diming imingi sama uang di film ini. Namun kecintaan Amang yang besar kepada anaknya, membuat dia mencari cara untuk mendidik buah hatinya. Cara yang dia pakai pun tidak biasa dan akan mengubah hidup tiga anaknya selamanya,” kata Tanta Ginting saat ditemui di Epicentrum Jakarta Selatan, Jumat (20/9).

Sekalipun film ‘Horas Amang’ Tiga Bulan Untuk Selamanya mengangkat cerita tentang adat Batak, Tanta Ginting memastikan ceritanya menarik dan mudah dipahami karena menggunakan bahasa Indonesia.

“Film ini berlatar belakang adat Batak, tapi ceritanya universal dan dengan bahasa Indonesia. Film ini diperuntukkan buat semua masyarakat Indonesia. Semoga film ini menjadi tontonan buat masyarakat Indonesia,” harap Tanta Ginting.

Selain menampilkan Tanta Ginting, Horas Amang juga dibintangi oleh Cok Simbara, Novita Dewi Marpaung, Tanta Ginting, Vanessa, Dendi Tambunan, Jack Marpaung, Piet Pagau, Indra Pacique, dan Manda Cello.

‘Horas Amang’ berkisah tentang perjuangan seorang ayah untuk mendidik kembali 3 anaknya yang merantau ke kota besar dan kehilangan jati diri sebagai orang Batak.

Tiga anaknya memilih untuk pergi ke kota besar. Semenjak saat itu, sang Ayah (Amang) merasa ketiga anaknya itu tumbuh semakin tidak berbakti. Lantaran cinta yang besar kepada anak-anaknya maka sang Ayah (Amang) menggunakan cara yang tidak biasa untuk mengubah hidup mereka selamanya.

Sang Amang lantas mendidik anaknya. Jangan sampai sudah hidup di kota besar terus lupa dengan sopan santun adat istiadat dan tugas. Amang yang juga merasa sedih lantaran ketiga anaknya tak lagi mengenal budaya Batak.

Sementara itu Jufriaman Saragih, salah seorang produser dari ‘Horas Amang’ menambahkan bahwa film yang diangkat dari naskah milik Ibas Aragi itu diharapkan akan mampu mengajak generasi muda untuk kembali kepada keluarga dan budaya.

“Melalui film ini akan bangkit generasi yang cinta keluarga, menghargai dan menyayangi orangtua. Back to family, kembali kepada budaya yang diajarkan orangtua,” kata Jufri.

Film layar lebar yang kental dengan nuansa budaya Batak, ‘Horas Amang’ Tiga Bulan untuk Selamanya bakal segera tayang di bioskop Tanah Air pada 26 September mendatang.

Related posts

Sinta Perkasa Film Siap Lanjutkan Produksi JBMA

journalreportase

Vicky Prasetyo Kembali Terjerat Kasus Penipuan

redaksi JournalReportase

Fahim Music Entertainment, Harmoni Musik dan Aksi Panggung Spektakuler

redaksi JournalReportase

Leave a Comment