JournalReportase.com, Ditengah derasnya serangan pemberitaan melalui media sosial seperti facebook, twitter, instagram dan youtube. Kehadiran dan peran media mainstream sangatlah dibutuhkan guna mengatasi kesimpangsiurn arus informasi yang beredar.
Situasi dan kondisi seperti ini tentunya menarik perhatian dari PWI, KPI dan Dewan Pers. Bertempat di ruang serba guna, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, pada Rabu (26/6) seperti biasanya digelar diskusi reguler Forum Merdeka Barat (FMB) 9 yang kali ini bertajuk “Pers di Pusaran Demokrasi”.
Hadir sebagai pembicara dalam diskusi tersebut adalah Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Atal S Depari, Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Yuliandre Darwis dan Ketua Komisi Hubungan Antar Lembaga Dewan Pers Agus Sudibyo.
Atal menyebutkan, saat ini publik tetap senantiasa percaya kepada hasil kerja wartawan.
“Banyak orang yang mengatakan bahwa medsos itu seperti ancaman bagi pers yang serius. Tapi saya tidak begitu yakin. Karena produk media mainstream adalah produk jurnalistik yang benar Menurut saya, kepercayaan publik sejatinya tetap berada di pundak wartawan,” tegasnya.
Atal menjelaskan, karena cuma wartawan yang memiliki pedoman penulisan, ada kode etik, dan produknya terverifikasi.
“Pers profesional tetap yang terpercaya dan terbaik. Asal mereka menghasilkan produknya dengan benar. Media mainstream tetap jadi parameter arus informasi,” sebutnya.
Atal juga menambahkan, dengan berpegang pada pedoman penulisan jurnalistik, maka pers tidak mungkin melakukan kebohongan. Sedangkan di sisi lainnya, sambung dia, ini era di mana siapapun bisa melakukan kebohongan informasi.
“Jadi mengapa pers tetap layak dipercaya, karena ada regulasi dan aturan yang mengkoridori kinerja jurnalis dalam menghasilkan informasi,” ujarnya.
Sementara itu menurut Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Yuliandre Darwis di era demokrasi ini berbagai informasi yang diberikan menjadi sumber utama oleh pihak media.
“Intinya media sebagai arus utama di penyiaran tetap dipercaya masyarakat. Informasinya tetap menjadi yang utama untuk masyarakat mengetahui setiap perkembangan berita dari sudut mana pun,” katanya.
Kendati banyak sumber beredar di medsos yang belum diketahui kebenarannya. Makanya, media arus utama masih tetap berjalan dan berpegang teguh pada kode etik jurnalistik dan sangat jauh dari informasi hoaks.
“Meski ada media sosial namun pada akhirnya masyarakat akan bermuara juga pada media arus utama. Namun media arus utama juga harus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi,” jelas Andre.
