JournalReportase-Lumajang- Maraknya kasus hilangnya ternak warga, khususnya ternak hewan sapi menjadi perhatian serius. Pasalnya Kapolres Lumajang AKBP M Arsal Sahban sudah amat geram terhadap pencuri dan mata rantainya. “Bayangkan saja kurun waktu 3 bulan (Oktober hingga Desember 2018 sudah 36 peristiwa pwncurian sapi. Hal ini yang membuat saya menjadi gusar dan geram terhadap para pencuri,”ucap Kapolres beberapa waktu lalu.
Karena itu Kapolres memberikan perhatian serius bukan hanya pada pencuri sapi saja, tapi juga semua tindakan kriminalitas lainnya yang mengganggu kenyamaman warga di Kabupaten Lumajang. “Jika perlu timah panas akan saya hadiahkan kepada pelaku yang coba coba berusaha melawan petugas dan melarikan diri,”tegas Arsal kembali.
Dalam masa dirinya diberikan tugas dan amanah oleh Pimpinan Polri, Arsal menargetkan akan menekan segala tindakan kriminalitas di wilayah hukum Polres Lumajang. “Kalau perlu saya berusaha semaksimal mungkin kejahatan di wilayah hukumnya tidak ada lagi,”ucapnya.
Khusus untuk antisipasi permasalahan pencurian sapi Kapolres Lumajang memiliki terobosan agar ternak yang dimiliki oleh warga tak lagi menjadi incaran para pencuri spesialis ternak sapi. Dalam pernyataanya, Jumat, (11/1/19) di depan lobby Mapolres Lumajang, Arsal membuat konsep 3 lapis pengamanan terhadap ternak warga, yakni penggunaan rantai sapi yang merupakan lapis pertama yang merupakan pengamanan bersifat perorangan atau tanggung jawab tiap pemilik sapi. Konsep ini merupakan kolaborasi pemikiran dari Kapolres Lumajang serta Iptu Rudi selaku Kapolsek Gucialit sehingga menghasilkan model Rantai Sapi yang fleksibel tapi sangat kuat, yaitu besi dengan tebal 10 mm, panjang 80 cm dan lingkar kepala yang mudah ditekuk supaya tidak sulit saat mengalungkan ke kepala Sapi, sedangkan ujung lainnya di gembok di besi atau cor yang ditanam.
“Dengan terobosan penggunaan rantai sapi ini, para pencuri sapi bakal berfikir dua kali untuk melakukan kejahatanya,”terangnya.
Arsal mengatakan, untuk harga dari rantai ini sendiri cukup terjangkau kok, sekitar 150 ribu Rupiah.
Lanjut Arsal menuturkan, pengamanan lapis kedua adalah dengan Gaster (Garasi Ternak), yakni pengamanan yang bersifat kelompok. Garasi Ternak dibangun semi permanen dengan daya tampung sekitar 30 sapi per Gaster. Setiap sore para pemilik sapi mengantarkan sapinya ke Gaster-nya. sehingga proses penjagaan bisa bergantian setiap malamnya yang dilakukan oleh pemilik sapi itu sendiri. dengan sistem Gaster ini juga membuat masyarakat pemilik sapi lebih sehat kualitas hidupnya, karena selama ini mereka tinggal berbagi tempat dengan sapi dirumahnya. sehingga bau kotoran sapi terasa sampai didalam rumahnya.
Sedangkan lapis ketiga, katanya dengan pembentukan Satgas Keamanan Desa, yang berfungsi mengamankan desa dalam skala yang lebih luas. “Satgas Keamanan Desa merupakan sistem pengamanan secara menyeluruh, bukan hanya mengantisipasi tindak kriminalitas seperti begal dan pencurian sapi tapi sampai kepada menyelesaikan problem solving maupun konflik sosial antar warga di desanya” ujar Kapolres Lumajang dalam releasenya tersebut.
Satgas keamanan desa nantinya akan berdampingan dengan Bhabinkamtibmas. Tugasnya hampir sama dengan bhabinkamtibmas, yaitu menyelesaikan permasalahan sebelum sampai ke ranah hukum, serta berperan sebagai pemecah masalah di desanya. Bahkan perselisihan warga pun diharapkan mereka mampu ikut andil dalam mendamaikan sehingga mereka berposisi sebagai tokoh masyarakat yang di dengar pendapatnya.
Kapolres berharap dengan teraplikasinya konsep 3 lapis pengamanan ini dapat menurunkan tingkat kriminalitas pencurian sapi, serta kedepanya Polres Lumajang dapat menjadi polres percontohan dalam penanganan kasus kriminal pencurian hewan ternak sapi.
