Journal Reportase
Breaking News

Rumput Laut Jadi Prioritas dan Komoditas Unggulan

JROL-JAKARTA,- Rumput laut menjadi komoditas unggulan yang ditargetkan bisa ikut menyumbang produksi perikanan budidaya pada 2017. Meski gagal mencapai pada 2016 karena cuaca fluktuatif, rumput laut dinilai tetap menjadi komoditas yang bisa diandalkan pada 2017.

rumput-laut

Pada 2017, produksi rumput laut ditarget bisa mencapai 13,4 juta ton atau naik 2,4 juta ton dari target 2016 yang mencapai 11 juta ton. Tidak hanya itu, Slamet Soebjakto juga mengungkapkan, walau saat ini rumput laut mendapat ancaman serius dari pasar Eropa dan Amerika Serikat berkaitan dengan rencana penghapusan rumput laut dari daftar pangan organik di negara tersebut, pihaknya tetap optimis rumput laut produksinya naik.

“Kami terus bersama Kementerian Perdagangan dan ARLI (Asosasi Rumput Laut Indonesia) untuk terus berupaya menjelaskan kepada Amerika Serikat. Kami terus berjuang karena ini penting dan kami juga mendapat dukungan dari negara lain seperti Tiongkok dan Filipina yang sama-sama berjuang,” jelas dia.

Ketua ARLI Safari Azis menginginkan kebijakan teknis perdagangan rumput laut yang berlaku sekarang di berbagai negara, harus dicermati dengan seksama oleh KKP. Kebijakan yang dimaksud, diantaranya adalah kebijakan delisting.

“Harus ada pengawasan yang cermat terhadap kebijakan yang ada di negara-negara importir rumput laut. Ini untuk mencegah terjadinya kebijakan teknis yang tidak tepat,” ucap dia, kemarin.

Dengan munculnya wacana delisting, Safari mengungkapkan, potensi pencoretan karagenan rumput laut dari daftar pangan organik juga akan semakin besar. Dan, jika itu terjadi, dia meyakini bahwa itu akan berdampak pada ekspor rumput laut dari Indonesia ke negara seperti Amerika Serikat dan kelompok Uni Eropa.

Karagenan sendiri adalah senyawa yang diekstraksi dari rumput laut dan digunakan pada makanan sebagai bahan pengental, pembuatan gel, dan emulsifikasi.

Perlunya pengawasan seperti itu, menurut Safari, karena Indonesia saat ini berstatus sebagai negara eksportir produk rumput laut kering yang akan dijadikan karagenan ke sejumlah negara seperti Tiongkok, Filipina, dan Cile. “Kita adalah eksportir besar dan menyuplai kebutuhan rumput laut kering dunia cukup banyak,” jelas dia.

Safari menuturkan, dari data yang ada, dari 100 persen kebutuhan rumput laut kering dunia, 50 persen di antaranya berasal dari ekspor Indonesia. Dan, dari 50 persen tersebut, 80 persen di antaranya dikirim ke Tiongkok dan dari Negeri Tirai Bambu tersebut kemudian diekspor ke negara seperti Amerika Serikat dan kelompok Uni Eropa.

“Melihat fakta tersebut, sangat penting bagi Indonesia untuk memantau kebijakan delisting. Karena, jika itu diterapkan, maka ekspor rumput laut juga akan mengalami penurunan dan bahkan bisa jadi akan berhenti sama sekali,” ujar dia. “Harus ada pemecahan dan mencari jalan keluar dari masalah ini. Pemerintah harus turun tangan langsung dengan memantaunya secara seksama,” tambah dia. (rd)

 

 

Related posts

Tolak People Power, Ketua FKUB Lumajang Imbau Warga Kedepankan Kedamaian

redaksi JournalReportase

Polri Pacu Pendirian 200 SPPG MBG, Groundbreaking Serentak 4 Unit 

redaksi JournalReportase

Polairud Polri Amankan Lima Tersangka dalam Pengungkapan Penyelundupan 47 Ribu Benih Lobster Ilegal di Serang

redaksi JournalReportase

Leave a Comment