by

PT Pindad Gandeng Czechoslovak Group Rilis Panser Steyr Pandur II 8X8 di Indo Defence 2018

JournalReportase.com, PT Pindad menggandeng Czechoslovak Group (CSG) merilis sebuah kendaraan tempur terbarunya berjenis panser hasil kerja sama dengan Negara Ceko. Panser ini merupakan hasil pengembangan Panser Steyr Pandur II 8×8 produksi perusahaan pertahanan asal Ceko, Czechoslovak Group (CSG).

Hingga kini, panser terbaik yang diproduksi Pindad adalah APS-3 Anoa yang merupakan panser 6×6 alias enam roda saja. Panser 8×8, disebutnya memiliki karakteristik yang berbeda dengan panser 6×6, khususnya dalam pengembangan untuk memasang canon kaliber 105.

Karena itu, kata Agus, pihaknya telah menjalin kerja sama dengan Ceko untuk memproduksi panser 8×8.

“Jadi kita tidak hanya bicara produksi saja, tapi transfer of knowledge bagi Pindad menjadi sangat penting khusunya dibidang kendaraan 8×8,” tandasnya.

Agus Edy Suprihanto selaku General Manager Special Vehicle, PT Pindad menyebutkan, kelebihan panser ini mampu ‘berenang’ layaknya kendaraan amphibi sekaligus  mempunyai kemampuan mobilitas yang tinggi (high mobility).

“Panser ini mampu bawa pasukan lebih dari 12 orang. Yang jelas untuk infanteri kaliber 30 mm itu yang pertama kali kita lakukan,” terangnya disela-sela acara pameran industri pertahanan “Indo Defence 2018 Expo & Forum” di JI Expo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (7/11/2018).

Lebih lanjut Agus mengemukakan, bahwa panser tersebut masih berupa purwarupa atau prototype saja dan belum diproduksi secara massal. Dirinya optimis kalau perusahaan BUMN (Pindad) mampu memproduksi panser tersebut didalam negeri. Agus pun berharap produksi panser ini bisa dilakukan dalam waktu dekat ini.

Sebagaimana diketahui, proses kerja sama antara CSG dengan pihak TNI telah terjalin sejak 2016 lalu. Pandur II 8×8 adalah satu di antara tiga produk CSG yang sudah dibeli TNI pada saat itu.

Pembelian ini pun disertai oleh kesepakatan alih teknologi atau transfer of technology (ToT) di antara kedua negara.

“Dalam realisasinya kami join production. Dari sisi kematangan desain sudah ada di pihak CSG. Untuk kebutuhan di Indonesia Pindad produksinya di bawah supervisi dari pihak CSG. Kemudian navigasinya kita bisa saat ini untuk infantry menggunakan senjata kaliber 30 mm,” jelasnya.

Agus menambahkan, proses pembuatan panser ini relatif membutuhkan waktu yang cukup lama karena untuk mendatangkan komponen utama saja bisa menghabiskan waktu sampai 9-11 bulan. Karenanya, produksi ini disebutnya sangat bergantung pada supply chance.

“Ini tahun pertama, tahun kedua akan lebih pendek lagi waktunya karena strategi supply chance nya akan lebih mudah. Kita sudah pesan dua tahun misalnya untuk konsep produksi sehingga kemudahan untuk merakit ditahun kedua akan lebih cepat,” terangnya.

Sementara itu, Ashar Sjarfi selaku Direktur Operasional CSG Indonesia menyerahkan nama panser ini sepenuhnya kepada Pindad.

“Namanya belum diresmikan oleh Pindad, basisnya adalah Pandur II 8×8 dari Ceko yang sudah dikembangkan bersama Pindad dari 2016,” ungkapnya.

Sayangnya ketika ditanya soal harga, Agus dan Ashar enggan menyebutnya. Keduanya sepakat jika masalah harga akan diumumkan pada lain kesempatan.

“yang jelas TNI sedang menyiapkan (berhitung) soal budgetnya untuk membeli Pandur II 8×8 asal Ceko ini,” sebut Agus menutup perbincangan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed