SHARE

JournalReportase.com Bertempat di Graha Induk KUD, Pejaten Jakarta Selatan, Kerukunan Keluarga Besar Masyarakat Maluku (KKBMM) belum lama ini  mengadakan buka puasa bersama sembari memberikan santunan kepada lebih dari  70 anak yatim piatu.

 

Dalam acara buka puasa bersama itu sekaligus Tasyakuran atas dipercayanya Dr. Ali Mochtar Ngabalin, MA sebagai salah satu juru bicara kepresiden RI.

Dalam tugasnya nanti Ali Mochtar Ngabalin akan mengemban sejumlah tugas sebagai Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden (KSP)  (KSP).

Kegiatan yang berlangsung di Graha Induk KUD, Jakarta Sekatan ini, selain dihadiri oleh Djamaluddin Koedoeboen, SH, MH selaku  Ketua Umum KKBMM dan  Ali Mochtar Ngabalin. Tampak hadir pula sejumlah tokoh lintas agama, di antaranya Pendeta Dr. Jacob Nahuway.

Secara kasat mata memang tidak ada yang begitu istimewa dari berlangsungnya acara tersebut. Semuanya berjalan secara sederhana. Namun jika ditelisik lebih dalam konten acara sarat dengan pesan perdamaian. ‘Wajah’ Indonesia sesungguhnya tersirat dengan jelas, lantaran para tokoh yang hadir memanfaatkannya seraya untuk bersilaturahmi, yang sesekali diselingin dengan canda dan tawa.

Ali Mochtar Ngabalin juga mengatakan bahwa melayani umat berarti melayani Tuhan. Itu  persembahan yang terbaik untuk bangsa ini.

“Saya berkali-kali mengatakan bahwa di seluruh Alkitab, Taurat, Injil dan Al Quran telah dinyatakan bahwa pemerintah itu jangan dimusuhi dan difitnah atau diadu domba. Tetapi  datangi mereka yang sedang berkuasa sebagai representasi dari Tuhan. Bicara dengan mereka tentang kebenaran-kebenaran, agar mereka melayani masyarakat dengan baik,” papar Ali Mochtar.

Sementara itu sebagai Ketua Umum KKBMM, Djamaluddin mengungkapkan, kompilasi kehadiran tokoh agama dalam acara ini dimaksudkan agar  Bhinneka Tunggal Ika tak hanya sekedar semboyan, tapi harus terpatri dalam kehidupan kita.

“Melalui kegiatan rutin KKBMM ini, kami mencoba memaknainya sebagai  refleksi dari apa yang menjadi perintah Allah : Bagaimana mungkin bisa pergi dan mendapatkan surga, jika hubungan dengan sesama manusia (Horizontal) saja tercederai,” kata lelaki kelahiran Tual, Maluku Tenggara ini.

“sesungguhnya acara buka puasa tadi itu juga menggambarkan ‘wajah’ kami orang Maluku yang sesungguhnya. Begitulah kami kalau di Maluku, saling menghargai, saling menghormati sesama umat beragama. Toleransi itu nyata, Pela Gandong itu benar-benar kami hargai keberadaannya. Kalaupun Maluku sempat bersi tegang beberapa waktu lalu. tapi kini konsep ‘Pela Gandong’ itu kami rajut Kembali di Maluku,” ungkap Djamaluddin.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY