SHARE

 

JournalReportase.com, Lola Amaria berhasil memvisualkan Pancasila dalam film berjudul LIMA. Film ini digarap oleh lima sutradara yang berbeda, di mana masing-masing mengerjakan tema yang mewakili satu sila dalam Pancasila.

Lola berharap melalui film ini bisa mengajak generasi muda untuk menangkal jalannya arus intoleransi yang belakangan marak terjadi di tanah air. Sehari sebelum penayangannya film LIMA sudah banyak mendapat dukungan yang demikian masif dari berbagai elemen, terlebih dukungan di sosial media.

Sayangnya Lembaga Sensor Film (LSF) memberikan rating sensor untuk 17 tahun ke atas terhadap film yang tayang serentak mulai 1 Juli 2018 ini.

Menurut Lola Amaria, LSF merasa keberatan dengan salah satu bagian film Lima khususnya pada adegan di Sila 1. LSF, kata dia, meminta produser dapat melakukan revisi jika ingin mendapat lolos sensor di atas 13 tahun. Adapun revisi itu khusus pada adegan itu karena dikhawatirkan berpotensi memunculkan kontroversi di masyarakat.

Lola juga  mengatakan, tim produser film LIMA telah bertemu dengan LSF untuk melakukan audiensi dan bernegosiasi terkait keputusan itu. Menurut Lola, pihak tim produser telah meminta LSF memberikan lolos sensor untuk penonton 13 tahun ke atas.

“Dikarenakan tidak ada titik temu, dan kebutuhan untuk tayang di seluruh bioskop nasional dalam beberapa hari mendatang, maka kami tidak punya pilihan lain selain menerima keputusan tersebut,” kata dia.

Meski demikian, Lola Amaria berterima kasih kepada LSF yang telah bekerja secara professional dan amanah dalam menjalankan tugas. Apalagi, tidak mudah memberikan keputusan sensor terhadap ratusan atau mungkin ribuan film yang beredar di masyarakat.

“jujur saya berterimakasih sekali pada masyarakat dengan dukungannya yang demikian masif. Apalagi dengan adanya gerakan seperti pengumpulan petisi, nonton bareng dan lainnya. Di sosial media juga gak kalah sengitnya. Itu bukan karena kami yang beriklan di sosmed. Kami sudah gak punya biaya lagi buat beriklan. Ini aja kita buat filmnya tanpa ada sponsor dari pihak manapun termasuk partai politik, karena kita gak mau kehilangan esensi dari filmnya sendiri,” kisah Lola.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY