SHARE

Kasus dugaan pemalsuan tanda tangan dan pengambilalihan aset yang menimpa Warga Negara Asing (WNA) Norwegia, Morten Innhaug, terus berjalan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Morten dituduh oleh mantan istrinya, Yanti Sudarno.

Dalam persidangan itu terungkap bahwa kondisi PT Bahari Lines Indonesia menjadi tidak jelas setelah dilakukan pemblokiran. Perusahaan itu sendiri merupakan tempat dimana istri Morten, Gabriela ditunjuk menjadi salah satu komisaris.

“Pada saat Ibu Gabriela tunjukkan keadaan perusahan mati suri karena diblokir, hakim kaget. Kami juga hadirkan bukti-bukti bahwa perolehan kapal-kapal itu jauh sebelum peristiwa ini. Jadi secara hukum nggak ada kaitannya,” kata kuasa hukum Morten dan Gabriela, Andi Faisal, Kamis (15/2).

Menyikapi kondisi itu, langkah mengajukan pra peradilan pun akan ditempuh. Pasalnya tindakan pemblokiran aset yang dilakukan sekarang ini tidak ada kaitan dengan kasus yang terjadi saat ini.

“Kami akan lakukan upaya langkah hukum berupa pra peradilan karena ini nggak ada kaitan sama sekali dengan perkara yang sedang membelit klien, karena semua aset PT BLI itu sudah ada sebelum persoalan ini terjadi,” ungkap kuasa hukum Morten dan Gabriela lainnya, Diswan.

Langkah pra peradilan yang akan diambil semata-mata supaya perusahan bisa kembali beroperasi seperti biasa. Sehingga perusahaan bisa normal kembali mengingat ada banyak orang yang menggantung hidupnya di sana.

“Harapannya apabila dikabulkan, tidak sah penyitaan, maka akan dibuka. Kami akan surati instansi yang memblokir yang memberikan dampak mati surinya PT BLI karena nggak ada kaitannya dengan peristiwa hukum ini,” ucap Andi.

Tindakan pengalihan aset yang dilakukan Morten kepada Gabriela merupakan sesuatu yang wajar. Hal itu mengingat Gabriela adalah istri sah Morten. Justru yang harus diusut adalah tuduhan pemalsuan tanda tangan yang hingga saat ini belum terbukti.

“Pasal yang dituduhkan kepada Ibu Gabriela Pasal 266 KUHP yakni mempergunakan. Bagaimana bisa gunakan surat palsu sedangkan Pasal 263 KUHP tentang memalsukan surat, belum dtemukan sampai sekarang. Itu yang jadi keganjilan,” kata Andi.
=====================
Aset Diblokir, WN Norwegia dan Istri Alami Kerugian USD 11 juta
=====================
Pemblokiran PT Bahari Lines Indonesia terkait kasus dugaan pemalsuan tanda tangan dan pengambilalihan aset yang menimpa Warga Negara Asing (WNA) Norwegia, Morten Innhaug, mengakibatkan nilai kerugian yang sangat besar.

Pemblokiran aset yang sudah dialihkan Morten kepada sang istri, Gabriela membuat perusahaan tersebut mengalami kerugian hingga USD 11 juta. Bahkan Gabriela harus merogoh kantongnya sendiri demi nasib karyawan.

Kuasa hukum Morten dan Gabriela, Harley mengatakan PT Bahari Lines Indonesia merupakan perusahaan penyedia jasa untuk survei bawah laut yang bekerjasama dengan Pertamina. Total ada empat kapal yang berada di perusahaan tersebut.

“Total ada sekitar 10 tender yang nggak jalan, nilainya sekitar 11 juta dolar. Kalau dikalkulasi rupiah, satu juta dollar sekitar Rp 13 miliar,” ungkap Harley, Kamis (15/2).

Gabriela menambahkan kondisi tersebut sudah terjadi sejak lama. Ia pun menyesalkan tindakan mantan istri Morten, Yanti Sudarno yang mengakibatkan kondisi perusahaan mati suri yang berdampak terhadap seluruh karyawan.

“Itu sudah sejak 8 Agustus 2017 keluar surat penetapan penyitaan. Padahal itu nggak benar tapi dari pihak YS menyebarkan itu, penetapan pengadilan ke klien-klien lewat lawyer-nya supaya kita nggak jalan bahkan ke kementerian juga,” ucapnya.

Alhasil untuk sementara Gabriela harus merogoh uang dari kantongnya sendiri demi nasib karyawan. Pasalnya ada nasib karyawan menjadi tidak jelas karena perusahaan yang tidak bisa beroperasi.

“Karena kapal diblokir, jadi dari uang pribadi Ibu Gabriela karena banyak orang yang gantungkan pendapatan, penghasilan dari perusahaan ini. Sehingga tentunya sangat berikan dampak eksistensi perusahaan,” ujarnya.

Morten Innhaug dilaporkan mantan istrinya, Yanti Sudarno atas kasus dugaan pemalsuan tanda tangan dan pengambilalihan aset. Kasus tersebut saat ini masih bergulir di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. (red)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY