Journal Reportase
Tokoh

Dari Sulawesi ke Lumajang: Kombes Arsal Sahban, Sosok yang Tak Pernah Jadi Warga, tapi Tokoh Paling Diingat

LUMAJANG -JOURNALREPORTASE- Nama Kombes Pol. Dr. Muhammad Arsal Sahban, S.H., S.I.K., M.H., M.M. menjadi salah satu temuan paling menarik dalam riset yang dirilis Komunitas Sejarah dan Budaya Juru Lamadjang mengenai tokoh-tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Kabupaten Lumajang.

Berbeda dengan nama-nama lain dalam daftar tersebut, Arsal Sahban bukanlah putra daerah Lumajang. Ia lahir di Kalosi, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, dan hanya menjabat sebagai Kapolres Lumajang selama sekitar 13 bulan, yakni sejak November 2018 hingga Desember 2019.

Meski demikian, hasil penelitian menunjukkan jejak kepemimpinannya masih kuat diingat masyarakat hingga kini. Bahkan, ia menjadi satu-satunya tokoh non-Lumajang yang masuk dalam daftar tokoh berpengaruh pada kategori Era Reformasi hingga Sekarang.

Daftar tersebut merupakan hasil riset opini publik dan kajian sejarah yang disusun oleh M. Zainul M., Fahmi K., Agil Z., dan Perdana Anugrah bekerja sama dengan Untuk Bangsa Foundation.

Penelitian menggunakan lima indikator, yakni rekam jejak pengabdian, kredibilitas, jaringan sosial, kemampuan memengaruhi opini publik, serta dampak nyata yang masih dirasakan masyarakat.

Selain studi dokumen, tim peneliti juga melakukan diskusi langsung dengan warga di sejumlah wilayah sampel di Kabupaten Lumajang.

Perdana Anugrah, salah satu peneliti sekaligus admin media sosial Juru Lamadjang, mengatakan nama Arsal Sahban muncul secara spontan dalam berbagai diskusi bersama masyarakat.
“Kami mencoba menggunakan ukuran penilaian yang seobjektif mungkin. Ketika kami turun ke lapangan dan berdiskusi langsung dengan warga di beberapa wilayah sampel, nama Bapak Arsal Sahban muncul begitu saja, terutama saat pembicaraan menyentuh soal keamanan,” ujarnya.

Menurutnya, banyak warga masih mengingat masa kepemimpinan Arsal karena dianggap berhasil menciptakan rasa aman. “Warga dengan spontan menyebut, ‘Enak zamannya Pak Arsal, masyarakat aman dan merasa dilindungi.’ Bukan semata karena jabatan yang pernah beliau emban, tetapi karena dampak yang ditinggalkan dan masih dirasakan masyarakat hingga hari ini,” katanya.

Selama menjabat sebagai Kapolres Lumajang, Arsal Sahban dikenal melalui sejumlah kebijakan penanganan keamanan, mulai dari pemberantasan begal, pencurian ternak, hingga penertiban aktivitas tambang pasir ilegal.

Salah satu program yang paling dikenal masyarakat adalah pembentukan Tim Cobra, satuan tugas yang difokuskan pada respons cepat terhadap gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.

Menurut hasil penelitian Juru Lamadjang, berbagai langkah tersebut dinilai berkontribusi menurunkan rasa takut masyarakat terhadap kejahatan, terutama karena sebelumnya Lumajang kerap mendapat stigma sebagai daerah rawan begal dan pencurian sapi.

Penelitian tersebut juga mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Lumajang mengenai jumlah tindak pidana.

Data BPS menunjukkan jumlah tindak pidana pada 2019 tercatat sebanyak 312 kasus, menjadi angka terendah dalam rentang data 2016–2024. Sebelumnya jumlah kasus mencapai 676 pada 2018, kemudian meningkat kembali pada tahun-tahun berikutnya menjadi 356 kasus (2020), 589 (2021), 1.378 (2022), 1.402 (2023), dan 1.194 kasus pada 2024.

Peneliti menegaskan bahwa data tersebut menunjukkan adanya korelasi statistik dan bukan hubungan sebab-akibat secara langsung, mengingat dinamika kriminalitas dipengaruhi berbagai faktor, bukan semata kepemimpinan seorang Kapolres.

Menanggapi namanya yang masuk dalam daftar tokoh berpengaruh Lumajang, Arsal Sahban mengaku bersyukur atas apresiasi tersebut “Saya merasa sangat terhormat bisa dianggap sebagai bagian dari tokoh yang berpengaruh di Kabupaten Lumajang. Ini adalah pengingat bahwa apa yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh, betapapun singkatnya, bisa meninggalkan kesan yang melampaui waktu. Lumajang akan selalu punya tempat tersendiri di hati saya,” ujarnya.

Saat ini Arsal Sahban menjabat sebagai Kasubdit II Perbankan Direktorat Tindak Pidana Khusus Bareskrim Polri. Ia juga tercatat sebagai salah satu dari tiga besar kandidat Polisi Berintegritas Hoegeng Awards 2026.

Dalam kategori Era Reformasi hingga Sekarang, Juru Lamadjang memasukkan 14 nama tokoh, yakni Fauzi, Sjahrazad Masdar, Thoriqul Haq, Indah Amperawati, Agus Yudha Wicaksono, Umar Bashor, H. Rofik, Anang Ahmad, Arsal Sahban, Kaji Sing, Setiadi L. Halim, Dandhy D. Laksono, Habib Alwi Almuhdor, dan Wira Dharma.

Menurut tim peneliti, masuknya Arsal Sahban menjadi salah satu temuan yang menunjukkan bahwa pengaruh seorang tokoh tidak selalu ditentukan oleh asal daerah maupun lamanya menjabat, melainkan oleh jejak pengabdian dan dampak yang masih dirasakan masyarakat.

 

Related posts

Maut Hitam dan Runtuhnya Peradaban?

redaksi JournalReportase

Hidupkan Kembali Musik Country, Tantowi Yahya Rilis Album Best of the Best

redaksi JournalReportase

Artijo!

redaksi JournalReportase

Leave a Comment