Journal Reportase
Nasional

Usai Diadukan ke Komnas HAM, Sejumlah LBH Ormas Islam Bakal Polisikan Kasus Dugaan Intimidasi GRIB Jaya Terhadap Anak Pegiat Medsos

JAKARTA – Peristiwa dugaan intimidasi oleh ormas GRIB Jaya terhadap Ilma Sani Fitriana, anak dari pegiat media sosial, Ahmad Bahar, memasuki babak baru.

Pihak kuasa hukum korban dari sejumlah LBH ormas islam membuat pengaduan ke Komnas HAM dan Komnas Perempuan pada Kamis (21/5/2026).

Ketua Riset dan Advokasi Publik LBH AP PP Muhammadiyah, Gufroni, mengatakan bahwa kliennya kini mengalami trauma mendalam atas dugaan penculikan bahkan penyekapan yang dilakukan oleh ormas GRIB Jaya.

“Terkait dengan apa yang terjadi pada klien kami, ya, saudari Ilma, ya. Ini tanda terimanya, sudah kita sampaikan tanda terimanya dan sudah diterima berkas-berkas bukti-buktinya. Jadi hari ini kita akan sampaikan sesuatu hal yang memang kami belum bisa sampaikan lebih jauh pada saat konferensi pers kemarin di kantor PP Muhammadiyah. Jadi karena ini sudah diterima pengaduannya, maka kami, mungkin nanti Mbak Ilma akan menyampaikan fakta sesungguhnya yang sebenarnya terjadi pada saat beliau di markas GRIB Jaya di Kedoya,” kata Gufroni kepada wartawan di kantor Komnas HAM.

“Ya, di mana di situ ada saudara Hercules yang melakukan tindakan-tindakan yang menurut kami adalah melanggar hak asasi manusia, apalagi terhadap seorang anak perempuan, ya, seorang perempuan. Dan hal-hal itulah yang membuat kami merasa miris di negara hukum ini masih ada upaya-upaya interogasi yang di luar akal sehat manusia, yang seharusnya itu semestinya menjadi tugas aparat kepolisian, tapi seolah-olah itu diambil alih oleh ormas GRIB, dengan memperlakukan saudara Ilma seperti seorang tersangka atau terdakwa,” tambahnya.

Ilma Sani Fitriana selaku korban menerangkan kejadian yang dialaminya di markas GRIB Jaya, Kedoya, Jakarta Barat.

“Sebelum dibawa juga, saya sudah bilang, saya nggak mau ikut gitu kan. Ya karena kan yang dicari Bapak, walaupun memang akun saya juga yang terbawa gitu. Tapi mereka tetap memaksa saya untuk ikut. Mereka bilang dengan, ‘Nanti kita bikinkan surat di atas materai, bahwa menjamin kamu akan aman.’ Saya bilang saya nggak mau. Lalu kan akhirnya ketika Pak RW sudah datang dan Babinsa sudah datang juga, ya
saya tetap mau nggak mau harus ikut. Kalau mereka bilang, kenapa saya harus ikut? Karena kalau saya nggak ikut, akan semakin banyak orang yang akan datang. Karena tadinya yang datang itu memang cuma sekitar empat orang, lama-lama
bertambah banyak gitu,” ucap Ilma.

“Makanya saya juga kan ya gimana saya juga takut kalau misalnya nenek di rumah kenapa-kenapa gitu dengan banyaknya orang yang datang gitu. Mereka juga bilang kan, ‘Takutnya kalau misalnya kamu nggak ikut, nanti kamu yang diseret sama mereka.’ Ya udah mau nggak mau saya akhirnya ikut mereka ke kantor GRIB,” imbuh dia.

Yang paling mencekam, menurut dia, adalah saat dirinya diperlakukan macam seorang tawanan dengan penuh tekanan dari pihak GRIB.

“Lalu udah sampai di kantor GRIB, saya masih harus menunggu Pak Hercules datang. Setelah Pak Hercules datang, Pak Hercules masih tetap bilang, ‘Kamu nih ya, ngapain ancam-ancam saya dan istri saya?’ Saya bilang, ‘Maaf Pak, bukan saya.’ Tapi beliau tetap tidak percaya. Padahal sebelumnya saya juga udah jelaskan sebelumnya sama tim mereka, tim anggota GRIB itu, saya sudah bilang itu bukan saya. Lagian saya siapa sih, berani-beraninya ngancem beliau? Urusan saya apa, saya kenal aja nggak, tahu istrinya juga nggak tahu siapa,” ujar Ilma.

“Terus apa yang disampaikan Bapak tadi, kalau di sana ya banyak kata-kata yang menurut saya tidak pantas diucapkan gitu. Apalagi di situ posisinya kan saya dikelilingi oleh laki-laki, kebanyakan laki-laki gitu kan, besar-besar. Terus saya mau jawab apa juga saya ya nggak udah nggak bisa apa-apa
gitu, saya mau jawab juga udah nggak bisa. Kalau emang itu bukan saya yang mengirim ancaman-ancaman itu, tapi beliau tetap tidak percaya. Beliau bilang, ‘Kamu nih gimana sih, kamu kan perempuan. Kamu harusnya berbuat baik. Copot aja
itu jilbab kamu!’. Pokoknya saya merasa ya saya nggak adil gitu, saya diperlakukan seperti itu gitu kan. Terus, “Kamu nih ya kalau misalnya bapak kamu ada di sini, udah saya telanjangin bapak kamu, nanti biar kamu yang videokan. Cepat telepon bapak kamu! Jemput, minta dijemput sekarang sama bapak kamu! Kalau kamu nggak dijemput sekarang… eh kalau bapak kamu nggak datang sekarang, kamu nggak akan bisa pulang dari sini. Lagian kamu ngapain sih berani-beraninya ancam
saya?’,” sambung dia.

Bahkan dia juga melihat adanya pistol yang ditunjukkan di hadapannya bahkan hingga ditembakkan.”Sambil dia mengeluarkan pistol itu kan. Terus, ‘Kamu kalau berani… eh kamu lihat nih ya,’ sambil tunjuk-tunjuk. Saya pikir nggak sampai bakal menembakkan gitu kan. ‘Nih, saya tembak kamu,’ dor, dor! dua kali dia tembakkan. Di saya kan juga dari awal saya sudah bilang saya nggak tahu apa-apa, itu bukan saya. Tapi tetap saya yang disalah-salahkan. Saya merasa nggak adil. Kalau misalnya memang itu dari akun saya dan dia merasa saya yang mengirim, ya udah laporkan aja ke kepolisian. Saya siap diperiksa. Karena saya memang merasa saya tidak bersalah gitu,” pungkasnya.

Rencananya, pihak korban bakal mendatangi Polda Metro Jaya pada Jumat 22 Mei 2026 mendatang guna melaporkan kasus tersebut.

Related posts

Presisi Sangat Baik Reward-Punishment Sesuai SOP, Anggota Komisi III DPR : Kapolri Jeli Benahi Polri

redaksi JournalReportase

Imigrasi Tangerang Gelar Pengawasan Orang Asing dan Capaian Kinerja 2023

redaksi JournalReportase

Menteri PPPA Menanggapi Aksi Terorisme Yang Keji

redaksi JournalReportase

Leave a Comment