LOMBOK UTARA- JOURNALREPORTASE- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Nusa Tenggara Barat disebut telah mendorong perputaran ekonomi daerah hingga Rp824 miliar setiap bulan.
Hal itu disampaikan Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, saat peluncuran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) baja modular yang dibangun PT Krakatau Steel, di Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, Selasa (12/5/2026).
“Alhamdulillah sampai dengan sekarang di NTB sudah ada 824 SPPG yang berdiri. Satu SPPG itu mengelola Rp1 miliar. Itu artinya uang yang beredar di NTB Rp824 miliar per bulan,” ujar Dadan.
Menurut dia, setiap SPPG mengelola anggaran sekitar Rp1 miliar per bulan. Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen dialokasikan untuk pembelian bahan pangan lokal, seperti telur, beras, sayuran, buah, ikan, hingga daging.
Dadan menjelaskan, keberadaan SPPG membuka peluang besar bagi petani, peternak, dan nelayan lokal untuk menjadi pemasok utama kebutuhan program MBG. Ia menyebut SPPG berfungsi sebagai “offtaker” yang menyerap hasil produksi masyarakat setempat.
“Jadi, kehadiran SPPG ini menjadi offtaker atau pihak yang terdepan mengambil produk-produk lokal. Termasuk dalam memperkerjakan masyarakat lokal mulai dari ibu-ibu, pemuda/pemudi dan itu dibiayai 20 persen dari uang yang masuk di SPPG,” katanya.
Ia menambahkan, masyarakat yang bekerja dalam operasional SPPG berpotensi memperoleh pendapatan antara Rp2,4 juta hingga Rp3,5 juta per bulan. Sementara sekitar 10 persen dari anggaran digunakan untuk kebutuhan dapur dan operasional SPPG.
Dadan menilai program MBG mampu meningkatkan produktivitas ekonomi daerah karena besarnya dana yang beredar melalui program tersebut. Secara nasional, anggaran MBG disebut telah mencapai Rp77 triliun dan tersebar dari Sabang sampai Merauke.
“Uang yang digunakan untuk MBG ini sudah Rp77 triliun beredar dari Sabang sampai Merauke, termasuk di Lombok Utara, NTB,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa hingga kini jumlah SPPG yang telah dibangun di seluruh Indonesia mencapai 28.390 unit. Program tersebut telah melayani sekitar 62,1 juta penerima manfaat dari target nasional sebanyak 79 hingga 80 juta orang, termasuk sekitar 3 juta penerima manfaat di wilayah 3T atau tertinggal, terdepan, dan terluar.
“Alhamdulillah, meski program ini baru terbentuk 1 tahun 4 bulan sudah melayani 62,1 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia. Ini program tercepat yang dilakukan di seluruh dunia. Karena Brazil saja untuk 40 juta butuh waktu 11 tahun,” kata Dadan.
Karena besarnya anggaran yang digelontorkan dalam program pemenuhan gizi nasional tersebut.” Dukungan pemerintah daerah dan masyarakat terus diperkuat agar pelaksanaan program berjalan optimal,” harapnya.
Peluncuran SPPG baja modular di Desa Genggelang turut dihadiri Najmul Akhyar, Ketua Satgas MBG Pemerintah Provinsi NTB Fathul Gani, jajaran Forkopimda, serta masyarakat dan siswa penerima manfaat program MBG di Lombok Utara.
